Konten dari Pengguna

Memperluas Potensi Industri Pariwisata Halal di Era Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fiki Faza Al-khiyar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Wisata alam sebagai bagian dari pengalaman perjalanan Gen Z di era pariwisata halal.(Sumber gambar: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Wisata alam sebagai bagian dari pengalaman perjalanan Gen Z di era pariwisata halal.(Sumber gambar: Pixabay)

Pariwisata saat ini tidak lagi sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang atau mencari tempat untuk berlibur. Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup membuat cara seseorang memilih destinasi wisata ikut berubah. Sebelum menentukan tujuan perjalanan, wisatawan dapat mencari informasi melalui media sosial, melihat ulasan pengunjung, membandingkan harga, hingga mencari rekomendasi dari konten kreator. Perubahan tersebut semakin terlihat pada Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital dan terbiasa memperoleh informasi secara cepat.

Ilustrasi Generasi Z tumbuh bersama teknologi untuk Memperoleh informasi (Sumber : Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generasi Z tumbuh bersama teknologi untuk Memperoleh informasi (Sumber : Pixabay)

Bagi Gen Z, perjalanan juga tidak selalu tentang mengunjungi tempat yang sedang populer. Pengalaman menjadi salah satu hal yang dicari. Pegunungan, pantai, desa wisata, kawasan hijau, hingga tempat yang menawarkan suasana tenang semakin menarik karena memberikan kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas. Kesibukan kuliah, pekerjaan, tugas, serta aktivitas digital yang terus berlangsung membuat perjalanan ke alam dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan menyegarkan pikiran.

Ilustrasi: Pantai Ora, Maluku, sebagai gambaran destinasi wisata alam yang menarik bagi Gen Z.(Sumber gambar: Traveloka.)

Ketertarikan terhadap alam juga tidak harus dipahami hanya sebagai keinginan mencari pemandangan yang indah. Bagi wisatawan Muslim, menikmati alam dapat menjadi kesempatan untuk melakukan tadabur, yaitu merenungkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Pemandangan gunung, luasnya laut, hamparan persawahan, atau suasana pedesaan dapat memberikan pengalaman yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga menghadirkan ketenangan dan refleksi.

Ilustrasi: QS. Ali ‘Imran ayat 190–191 tentang tanda-tanda kebesaran Allah melalui penciptaan langit dan bumi. (Sumber : Aplikadi Al-Qur'an)

Perubahan cara menikmati perjalanan tersebut juga terlihat ketika membicarakan wisata halal. Pada generasi sebelumnya, wisata halal atau wisata bernuansa religi lebih sering dikaitkan dengan kunjungan ke masjid, makam untuk berziarah, pesantren, maupun tempat-tempat yang memiliki sejarah dan nilai keislaman. Bentuk perjalanan seperti itu tetap memiliki tempat dan nilai tersendiri. Namun, perkembangan gaya hidup membuat pengalaman wisata halal menjadi semakin beragam dan tidak terbatas pada destinasi yang secara langsung memiliki nuansa religi.

Bagi sebagian Gen Z, perjalanan tidak harus selalu berpusat pada tempat keagamaan. Wisata alam juga dapat menjadi bagian dari perjalanan yang ramah bagi wisatawan Muslim. Mendaki gunung, menikmati pantai, mengunjungi desa wisata, atau menjelajahi kawasan hijau dapat menjadi pilihan untuk memperoleh pengalaman baru sekaligus mencari ketenangan. Hal ini menunjukkan bahwa wisata halal memiliki ruang yang luas untuk berkembang mengikuti perubahan kebutuhan wisatawan.

Konsep tersebut bukan berarti gunung, pantai, atau desa wisata harus diubah menjadi destinasi yang diberi label "wisata halal". Yang lebih penting adalah bagaimana layanan di dalamnya dapat memperhatikan kebutuhan wisatawan Muslim. Ketersediaan makanan halal, fasilitas ibadah, kebersihan, keamanan, serta pengaturan perjalanan yang nyaman dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata yang lebih ramah bagi Muslim.

Dari kebutuhan tersebut, muncul berbagai peluang baru dalam industri pariwisata. Salah satunya melalui layanan perjalanan seperti open trip ramah Muslim. Perjalanan ke gunung atau pantai dapat dikemas dengan memperhatikan waktu salat, pilihan makanan halal, tempat ibadah, kenyamanan peserta, hingga informasi mengenai fasilitas yang tersedia di sepanjang perjalanan. Konsep seperti ini memperlihatkan bahwa nilai halal dapat diterapkan melalui pelayanan dan pengalaman wisata, bukan hanya melalui jenis destinasi yang dikunjungi.

Peluang tersebut semakin besar karena Gen Z memiliki hubungan yang kuat dengan media sosial. Sebuah destinasi dapat dikenal lebih luas ketika pengalaman wisata dibagikan melalui video pendek, foto, ulasan, maupun cerita perjalanan. Namun, perkembangan tersebut juga membawa tanggung jawab. Promosi wisata tidak seharusnya hanya mengejar viralitas dengan menampilkan sisi menarik tanpa memberikan gambaran kondisi sebenarnya. Informasi mengenai harga, akses, fasilitas, kondisi lingkungan, hingga tingkat kesulitan perjalanan perlu disampaikan secara jujur agar wisatawan tidak memperoleh ekspektasi yang berbeda dengan kenyataan.

Ilustrasi: Gen Z memanfaatkan teknologi digital untuk membuat konten promosi wisata. (Sumber : Pixabay)

Kejujuran dalam promosi menjadi penting karena kepercayaan merupakan bagian dari pengalaman wisata. Ketika informasi yang disampaikan sesuai dengan kondisi di lapangan, wisatawan akan lebih mudah menentukan pilihan. Sebaliknya, promosi yang berlebihan dapat menimbulkan kekecewaan dan pada akhirnya memengaruhi citra destinasi maupun pelaku usaha. Dalam konteks pariwisata halal, transparansi juga berkaitan dengan informasi mengenai makanan, fasilitas ibadah, harga layanan, dan ketentuan perjalanan.

Perkembangan pariwisata halal juga tidak hanya memberikan manfaat bagi pengelola destinasi. Ketika jumlah wisatawan meningkat, berbagai sektor di sekitar destinasi ikut bergerak. Warung makan, penginapan, transportasi, jasa pemandu, penyewaan perlengkapan, penjualan oleh-oleh, jasa dokumentasi, hingga produk UMKM dapat memperoleh peluang ekonomi. Dengan demikian, pengembangan pariwisata halal dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas di tingkat masyarakat.

UMKM lokal menjadi salah satu bagian penting dalam rantai tersebut. Produk makanan dan minuman, misalnya, tidak cukup hanya menarik secara kemasan, tetapi juga perlu memperhatikan kebersihan, kualitas, kejelasan bahan, dan aspek kehalalan. Begitu pula dengan pelayanan penginapan dan jasa wisata yang perlu memberikan pengalaman yang nyaman bagi pengunjung. Kehadiran wisatawan dapat menjadi peluang bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas pasar melalui pemasaran digital.

Pada generasi ini, Gen Z tidak hanya dapat berperan sebagai konsumen. Kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi dan media sosial dapat menjadi modal untuk menciptakan berbagai usaha baru di sektor pariwisata. Jasa fotografi dan videografi wisata, pengelolaan media sosial destinasi, pembuatan konten promosi UMKM, penyusunan itinerary, jasa pemandu, kuliner halal, hingga penyelenggaraan perjalanan ramah Muslim merupakan beberapa peluang yang dapat dikembangkan.

Ilustrasi Gen Z tidak hanya berperan sebagai konsumen tetapi juga dapat berperan untuk menciptakan usaha yaitu jasa fotografi wisata

Kebutuhan wisatawan bahkan dapat menjadi sumber ide bisnis. Ketika wisatawan kesulitan menemukan makanan halal di suatu destinasi, misalnya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk membuat layanan informasi atau rekomendasi kuliner halal. Ketika wisatawan membutuhkan perjalanan yang lebih terorganisasi, muncul peluang untuk menyediakan open trip dengan konsep yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Begitu pula ketika UMKM lokal kesulitan memasarkan produknya secara digital, kemampuan Gen Z dapat dimanfaatkan untuk membantu membangun identitas dan pemasaran produk tersebut.

Namun, pengembangan pariwisata halal masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pemahaman yang terlalu sempit mengenai konsep wisata halal. Jika wisata halal hanya dipahami sebagai wisata religi, maka potensi destinasi alam, budaya, kuliner, dan pengalaman lainnya menjadi kurang berkembang. Padahal, kebutuhan wisatawan Muslim dapat hadir dalam berbagai jenis perjalanan.

Tantangan lainnya berkaitan dengan fasilitas dan infrastruktur. Destinasi yang memiliki potensi alam yang besar belum tentu memiliki fasilitas yang memadai bagi wisatawan. Ketersediaan tempat ibadah, kebersihan toilet, akses transportasi, informasi yang jelas, serta pilihan makanan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pengembangan pariwisata tidak cukup hanya dengan memperkenalkan keindahan destinasi, tetapi juga perlu memastikan wisatawan mendapatkan pelayanan yang layak selama perjalanan.

Di tengah tantangan tersebut, Gen Z memiliki posisi yang cukup strategis. Mereka bukan hanya kelompok yang menjadi target pasar, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perubahan industri. Mereka dapat melakukan riset sederhana mengenai kebutuhan wisatawan, membuat konten edukatif, membantu mempromosikan UMKM lokal, membangun komunitas perjalanan, hingga menciptakan usaha berbasis teknologi. Kreativitas yang dimiliki dapat menjadi penghubung antara potensi destinasi dengan kebutuhan wisatawan masa kini.

Peran tersebut juga perlu diimbangi dengan sikap sebagai wisatawan yang bertanggung jawab. Keinginan mendapatkan konten yang menarik tidak seharusnya membuat lingkungan menjadi korban. Destinasi alam perlu dijaga agar tidak rusak akibat peningkatan jumlah pengunjung. Sampah, penggunaan fasilitas secara berlebihan, serta perilaku yang mengganggu masyarakat lokal merupakan persoalan yang perlu diperhatikan. Wisata yang baik bukan hanya memberikan pengalaman bagi pengunjung, tetapi juga menjaga keberlanjutan tempat yang dikunjungi.

Masyarakat lokal juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan pariwisata, bukan sekadar pelengkap. Mereka memiliki pengetahuan mengenai budaya, lingkungan, kuliner, dan karakter daerah yang dapat menjadi daya tarik tersendiri. Kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan generasi muda dapat membuat pengembangan wisata lebih sesuai dengan kebutuhan daerah. Dengan demikian, keuntungan dari perkembangan pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada pihak tertentu, tetapi dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Ilustrasi Masyarakat Lokal tidak hanya berperan sebagai pelengkap namun dapat meningkatkan pendapatan daerah dengan menghasilkan kerajinan tangan daerah asalnya dan dapat memperkenalkan hasil kerajinan ke wisatawan (Sumber : Pixabay)

Pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan tersebut. Pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendampinn UMKM, edukasi mengenai standar halal, serta ruang kolaborasi bagi pelaku usaha dan generasi muda dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat industri pariwisata halal. Dukungan juga dapat diarahkan pada pengembangan inovasi digital dan kewirausahaan agar potensi Gen Z tidak berhenti sebagai pengguna media sosial, tetapi berkembang menjadi pencipta nilai ekonomi.

Pada akhirnya, pariwisata halal tidak seharusnya dipandang sebagai konsep yang hanya berkaitan dengan perjalanan ke tempat-tempat religi. Perkembangan kebutuhan wisatawan menunjukkan bahwa konsep tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk perjalanan, termasuk wisata alam, budaya, kuliner, dan pengalaman lokal. Selama kebutuhan wisatawan Muslim diperhatikan dan nilai-nilai seperti kebersihan, keamanan, kenyamanan, transparansi, serta kehalalan dijaga, ruang pengembangannya akan semakin luas.

Gen Z dapat menjadi salah satu penggerak perubahan tersebut. Dengan teknologi, kreativitas, komunitas, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar, generasi ini memiliki peluang untuk tidak hanya menikmati perkembangan pariwisata, tetapi juga menciptakan inovasi di dalamnya. Ketika perjalanan ke alam dapat dikemas secara ramah Muslim, UMKM lokal mampu berkembang melalui digitalisasi, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan, pariwisata halal tidak lagi sekadar menjadi konsep, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang nyata.

Diharapkan, pemerintah dapat terus membuka ruang bagi pengembangan pariwisata halal melalui kebijakan, infrastruktur, pendampingan usaha, dan kolaborasi yang melibatkan generasi muda. Di sisi lain, Gen Z juga diharapkan berani mengambil peran sebagai pelaku usaha, pencipta inovasi, penggerak komunitas, sekaligus wisatawan yang bertanggung jawab. Dengan kolaborasi tersebut, potensi pariwisata halal Indonesia dapat berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai keislaman, identitas lokal, dan manfaat ekonominya bagi masyarakat.

Ilustrasi Pemerintah dapat membuka pendampingan usaha kepada masyarakat lokal (Sumber: Pixabay)