Konten dari Pengguna

Menuju Pendidikan Bermutu: Strategi Melahirkan Guru Berkualitas di Indonesia

Fikri Ahmad Faadhilah

Fikri Ahmad Faadhilah

Hobi: rebahan dan baca buku. Profesi : Mahasiswa. Insitusi Pendidikan: UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fikri Ahmad Faadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan yang bermutu adalah fondasi kemajuan bangsa. Dalam konteks Indonesia, kualitas pendidikan kerap menghadapi tantangan yang berakar pada kualitas tenaga pengajarnya. Guru, sebagai aktor kunci dalam pendidikan, memegang peran esensial tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga pembentuk karakter peserta didik. Oleh karena itu, melahirkan guru yang berkualitas harus menjadi prioritas dalam upaya membangun sistem pendidikan yang lebih baik.

Secara yuridis, peran guru di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menegaskan bahwa guru memiliki tanggung jawab penting dalam mencerdaskan bangsa. UU ini juga mengamanatkan hak guru untuk mendapatkan pelatihan dan perlindungan dalam profesinya, serta mendukung peningkatan kompetensi secara berkelanjutan melalui kualifikasi dan sertifikasi (UU No. 14 Tahun 2005, Pasal 2). Landasan hukum ini memperkuat posisi guru sebagai profesi yang strategis dalam menciptakan pendidikan berkualitas.

Secara historis, guru memiliki peran penting sejak masa perjuangan kemerdekaan, bertindak sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan dan agen perubahan sosial. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pembentuk karakter dan moral anak-anak bangsa. Filosofi peran guru juga tercermin dalam prinsip “Tut Wuri Handayani” dari Ki Hajar Dewantara, yang menggarisbawahi bahwa guru harus memimpin dengan keteladanan. Artinya, seorang guru tidak hanya perlu menguasai materi, tetapi juga menjadi panutan bagi peserta didik (Widianita, 2023).

Sosiologisnya, guru berfungsi sebagai agen perubahan sosial yang membentuk karakter generasi muda. Selain mentransfer ilmu, guru juga mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial yang penting dalam kehidupan. Di negara dengan keberagaman budaya dan agama seperti Indonesia, peran guru sebagai model sosial semakin penting, karena mereka berkontribusi dalam menjaga harmoni di masyarakat.

Hal ini didukung oleh pandangan Oktaviani (2015), yang menyebutkan bahwa pendidikan merupakan alat untuk merawat kesatuan dalam masyarakat yang majemuk.

Sumber foto: www.pixabay.com (Pramuka anak SD)

Dalam upaya menciptakan pendidikan berkualitas, peran guru di Indonesia menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat. Strategi mewujudkan guru berkualitas tidak hanya sekadar menambah jumlah tenaga pengajar, namun mencakup pelatihan berkelanjutan, peningkatan kompetensi teknologi, penguatan karakter, serta pendekatan kolaboratif antar-guru.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menggarisbawahi pentingnya peran strategis guru dalam proses mencerdaskan dan memajukan bangsa, sesuai dengan amanat UUD 1945 serta visi besar Kemendikdasmen, yakni “pendidikan bermutu untuk semua.”

Salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas guru adalah dengan menerapkan program pelatihan berkelanjutan. Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), misalnya, menjadi jalur penting dalam meningkatkan kompetensi pedagogi, sosial, dan profesional para guru.

Menurut pandangan Adha & Fadhilah (2023) menyatakan bahwa guru yang mendapatkan pelatihan rutin memiliki kemampuan mengajar yang lebih baik dan lebih adaptif terhadap perubahan kurikulum dan metode pembelajaran. Hal ini juga mencakup kemampuan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi yang terus berubah, memastikan metode pengajaran tetap relevan dan efektif dalam menarik perhatian siswa.

Era digital saat ini juga mendorong pentingnya literasi teknologi bagi guru, yang memungkinkan integrasi teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Guru yang menguasai literasi digital lebih mampu menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menarik bagi siswa. Literasi ini juga membantu guru dalam menggunakan media digital sebagai sarana belajar yang lebih mendalam dan sesuai dengan kebutuhan generasi digital saat ini (Ulfah & Erlina, 2022)

Menurut Abdul Mu’ti, peningkatan kompetensi guru juga mencakup penguatan pendidikan karakter dan bimbingan konseling. Program Penguatan Pendidikan Karakter, yang menjadi salah satu prioritas Kemendikdasmen, melibatkan pelatihan bimbingan konseling dan pendidikan nilai untuk guru kelas, penanaman karakter tujuh kebiasaan anak Indonesia, serta bimbingan makan siang bergizi bagi para siswa.

Program ini bertujuan membentuk guru yang tak hanya unggul secara akademis, namun juga berperan sebagai teladan yang baik bagi siswa. “Guru tidak hanya sumber ilmu, tetapi juga contoh perilaku,” Ujar Mu’ti Di Jakata (6/11/2024). Dengan adanya pendidikan karakter, guru diharapkan menjadi role model bagi generasi muda Indonesia, baik dalam etika maupun integritas.

Selain itu, peningkatan kesejahteraan guru juga menjadi bagian penting dari strategi Kemendikdasmen. Abdul Mu’ti menegaskan komitmen kementerian untuk memastikan peningkatan kualifikasi pendidikan guru hingga ke jenjang Diploma IV atau Strata Satu (D-IV/S-1), dengan upaya peningkatan kesejahteraan melalui program sertifikasi yang dapat meningkatkan taraf hidup para guru. Peningkatan ini bukan hanya berdampak pada kesejahteraan pribadi guru tetapi juga meningkatkan motivasi dalam mengajar sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh siswa (Setiawan, 2019).

Mendikdasmen juga menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan berkualitas melalui program Wajib Belajar 13 Tahun serta program Penguatan Pendidikan Unggul, Literasi, Numerasi, dan Sains Teknologi. Program ini dirancang agar semua anak Indonesia, dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi, memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan. "Kami ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakangnya, memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas,” tegas Abdul Mu’ti. Menegaskan komitmen pemerintah sekarang dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkemajuan.

Dengan berbagai program dan strategi ini, diharapkan kualitas guru di Indonesia dapat terus meningkat. Guru yang berkualitas tidak hanya berdampak pada proses pembelajaran yang lebih efektif, tetapi juga memperkuat fondasi karakter dan intelektual generasi penerus bangsa.