Personal Branding Gen Z di TikTok: Antara Kuliah, Ngojek, dan Konten Kreator

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fikri Apriadi Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Gen Z, aktivitas sehari-hari ternyata bisa menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Dari ruang kelas, jalanan, sampai layar TikTok, semuanya bisa menjadi bagian dari cara mereka memperkenalkan diri.
Pagi kuliah, siang cari order, malam edit video. Begitulah kurang lebih keseharian sebagian anak muda yang harus membagi waktu antara pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas di media sosial.
Di tengah kesibukan tersebut, TikTok hadir bukan hanya sebagai tempat mencari hiburan. Platform ini juga menjadi ruang bagi Gen Z untuk bercerita tentang kehidupan mereka. Bahkan, pekerjaan dan rutinitas yang terlihat sederhana bisa berubah menjadi konten yang menarik ketika dikemas dengan sudut pandang yang berbeda.
Salah satunya adalah mahasiswa yang menjalani kuliah sambil menjadi driver ojek online sekaligus konten kreator. Aktivitas tersebut kemudian dibagikan melalui TikTok, mulai dari cerita mendapatkan order, pengalaman di jalan, kehidupan sebagai mahasiswa, sampai berbagai kejadian sederhana yang ditemui sehari-hari.
Ketika Kehidupan Sehari-hari Jadi Identitas
Personal branding sebenarnya tidak selalu harus dimulai dengan membuat sesuatu yang luar biasa. Bagi sebagian Gen Z, personal branding justru muncul dari apa yang memang mereka lakukan setiap hari.
Ketika seseorang secara konsisten membagikan cerita tentang kuliah sambil ngojek, misalnya, lama-kelamaan audiens akan mengenali dirinya melalui aktivitas tersebut. Dari situlah terbentuk sebuah identitas yang membedakannya dari kreator lain.
Konten seperti ini juga terasa lebih dekat karena tidak dibuat-buat. Penonton dapat melihat sisi kehidupan yang mungkin mereka alami sendiri: berangkat kuliah, mencari penghasilan, menghadapi macet, mengejar deadline tugas, hingga tetap berusaha membuat konten di sela-sela kesibukan.
TikTok Bukan Cuma Soal Viral
Jumlah views dan likes memang sering menjadi perhatian ketika seseorang membuat konten. Namun, membangun personal branding tidak berhenti pada seberapa banyak sebuah video ditonton. Yang lebih penting adalah bagaimana audiens mengingat seseorang setelah melihat kontennya.
Apakah dikenal sebagai mahasiswa? Driver ojol? Komedian? Edukator? Atau seseorang yang membagikan cerita perjuangan anak muda?
Identitas tersebut dapat terbentuk melalui konten yang dibuat secara konsisten. Karena itu, kreator tidak selalu harus mengikuti semua tren. Mengikuti tren boleh, tetapi tetap perlu ada karakter yang membuat konten tersebut terasa sebagai "dirinya".
Dari Jalanan sampai Layar TikTok
Menariknya, kehidupan sebagai driver ojol memberikan banyak cerita yang bisa diangkat menjadi konten. Jalanan menjadi tempat bertemu berbagai macam orang dan situasi. Setiap order bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Bagi seorang kreator, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk bercerita. Bukan sekadar menunjukkan pekerjaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dirinya menjalani kehidupan sebagai anak muda yang sedang berusaha mencapai sesuatu.
Di sisi lain, status sebagai mahasiswa juga memberikan cerita tersendiri. Ada tugas, presentasi, kegiatan kampus, hingga perjuangan membagi waktu dengan pekerjaan.
Dua dunia tersebut kemudian bertemu di TikTok. Kuliah dan ngojek bukan lagi dua aktivitas yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari sebuah cerita personal.
Konsisten Menjadi Diri Sendiri
Membangun personal branding tentu membutuhkan proses. Tidak semua video akan langsung ramai dan tidak semua konten akan mendapatkan respons sesuai harapan.
Namun, konsistensi dapat membantu audiens mengenali karakter seorang kreator. Semakin sering seseorang menunjukkan aktivitas, sudut pandang, dan gaya komunikasinya, semakin mudah pula audiens memahami identitas yang ingin dibangun.
Pada akhirnya, personal branding bukan tentang menciptakan kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Justru kehidupan yang apa adanya dapat menjadi cerita yang menarik ketika disampaikan dengan jujur dan kreatif.
Bagi Gen Z yang kuliah sambil bekerja dan menjadi konten kreator, perjalanan tersebut bisa menjadi bagian dari personal branding mereka.
Sebab, kadang-kadang konten terbaik bukan datang dari kehidupan yang sempurna, tetapi dari kehidupan yang benar-benar sedang dijalani.
