Di Tengah Gempuran Game Digital, KKN Navantara 125 Hidupkan Budaya

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Manajemen Pendidikan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fikri Gumilang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika gawai dan permainan digital semakin lekat dengan keseharian anak-anak, permainan seperti congklak, bakiak, bekel, egrang batok hingga gangsing bambu perlahan mulai kehilangan tempat. Di tengah perubahan pola bermain tersebut, mahasiswa KKN Navantara 125 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mencoba menghadirkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari pengalaman belajar anak.
Upaya itu dilakukan melalui program Literasi Budaya x Traditional Games yang berkolaborasi dengan Sekolah Alam Youth Khalifa, Depok, Kamis (13/8/2026). Mengusung tema “Bermain Bersama, Melestarikan Budaya Indonesia," kegiatan berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB dan diikuti siswa mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga kelas 6.
Bukan sekadar mengajak anak bermain, kegiatan ini dikemas sebagai sarana untuk mengenalkan kembali budaya Indonesia melalui pengalaman yang dekat dengan dunia anak. Para siswa diperkenalkan dengan sejumlah permainan tradisional, kemudian diberi kesempatan untuk mencoba dan memainkannya secara langsung bersama teman-teman.
Ketika Permainan Tradisional Mulai Asing bagi Anak
Penanggung jawab program Literasi Budaya, Fikri Gumilang, mengatakan gagasan kegiatan tersebut berangkat dari perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan media sosial yang turut mengubah pola bermain anak.
Menurut Fikri, kondisi tersebut membuat sebagian anak mulai tidak mengenal permainan tradisional yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Program ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada siswa bagaimana mereka dapat memahami dan mengenal budaya melalui permainan tradisional. Perkembangan teknologi dan maraknya media sosial membuat banyak siswa mulai tidak mengenal permainan seperti egrang batok, gangsing bambu, congklak, bakiak, dan bekel,” ujar Fikri.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN Navantara 125 memperkenalkan berbagai permainan tradisional melalui kegiatan yang interaktif. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam permainan dengan pendampingan mahasiswa.
Beberapa permainan yang diperkenalkan meliputi egrang batok, gangsing bambu, congklak, bakiak, bekel, dan permainan karet.
Setiap permainan juga membawa nilai pembelajaran yang berbeda. Permainan bakiak, misalnya, mendorong kekompakan dan kerja sama. Congklak dapat melatih konsentrasi serta kemampuan berhitung, sedangkan egrang batok membantu melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Dengan cara tersebut, permainan tradisional tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang dapat membantu perkembangan karakter, keterampilan sosial, dan kemampuan motorik anak.
Sekolah Alam Youth Khalifa: Banyak Hal Baru yang Diperkenalkan
Kolaborasi dengan Sekolah Alam Youth Khalifa menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Pihak sekolah memberikan ruang bagi mahasiswa KKN untuk menghadirkan pengalaman belajar budaya melalui pendekatan bermain.
Direktur Sekolah Alam Youth Khalifa, Aditya Mulyadi, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai permainan tradisional memberikan pengalaman baru yang bermanfaat bagi para siswa.
“Acara ini bagus banget. Anak-anak KKN Navantara 125 memberikan edukasi tentang literasi budaya, khususnya permainan tradisional. Ini bagus buat anak-anak kami. Walaupun mereka sebenarnya sudah terbiasa dengan alam, tetapi banyak hal baru yang diperkenalkan,” kata Aditya.
Menurut Aditya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi siswa, tetapi juga menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Ia berharap mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi di bidang pendidikan maupun bidang lainnya untuk kemajuan Indonesia.
“Harapannya untuk KKN ini, atau mungkin untuk semua mahasiswa UIN secara umum, tetap berkembang dan terus berkembang, serta dapat mengembangkan pendidikan di Indonesia dan berkontribusi untuk kemajuan Indonesia di bidang apa pun,” ujarnya.
Dari Bermain, Anak Mengenal Budayanya
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Anak-anak dari berbagai jenjang usia mencoba permainan yang sebagian di antaranya mungkin belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Bagi mahasiswa KKN Navantara 125, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari tujuan Literasi Budaya. Pengenalan budaya tidak harus dilakukan melalui pembelajaran yang formal dan kaku. Permainan dapat menjadi pintu masuk yang sederhana untuk membuat anak mengenal budaya dengan cara yang menyenangkan.
Fikri mengatakan keberadaan permainan tradisional akan terus bertahan apabila generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal dan memainkannya.
“Diharapkan dengan adanya program Literasi Budaya, anak-anak dapat belajar, mengenal, sekaligus membudayakan dan melestarikan permainan tradisional yang sudah ada sejak lama,” ujarnya.
Program Literasi Budaya x Traditional Games menjadi upaya mahasiswa KKN Navantara 125 untuk mempertemukan pendidikan dengan pelestarian budaya. Di tengah perkembangan teknologi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak-anak, permainan tradisional kembali diperkenalkan sebagai alternatif aktivitas yang edukatif, interaktif, sekaligus menyenangkan.
Pada akhirnya, pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Bisa dimulai dari hal sederhana: memperkenalkan sebuah permainan, mengajak anak memainkannya, lalu membuat mereka ingin memainkannya kembali.
