Jalan Terjal Atlet Indonesia Menuju Panggung LA 2028

Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fikri Haekal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Olimpiade Paris 2024 telah berakhir, membawa serta berbagai perasaan. Sementara beberapa negara merayakan pesta kejayaan, Indonesia pulang dengan tiga medali: dua emas dan satu perunggu. Hasil ini patut dihargai, namun sekaligus menjadi cermin reflektif tentang posisi olahraga Indonesia di panggung dunia. Paris adalah catatan, Los Angeles 2028 adalah peluang untuk menulis ulang sejarah. Namun, menuju ke sana bukanlah lintasan lurus. Perjalanan menuju LA akan menjadi ujian komitmen, strategi, dan ketahanan seluruh ekosistem olahraga nasional.
Capaian di Paris menunjukkan bahwa Indonesia masih bertumpu pada cabang olahraga unggulan seperti bulutangkis dan angkat besi, sementara cabang olahraga lain belum mampu bersinar. Ini bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan juga soal struktur pembinaan yang belum merata dan kesiapan atlet dalam menjawab tekanan kompetisi di level tertinggi. Terlebih, beberapa atlet senior yang tampil di Paris kemungkinan tidak akan lagi bertanding di Olimpiade berikutnya. Artinya, dalam empat tahun ke depan, regenerasi tidak bisa lagi bersifat reaktif. Ini harus dirancang, dibina, dan dijaga sejak sekarang dengan program jangka panjang yang terstruktur.
Beberapa tantangan sudah terlihat di depan mata. Pembinaan atlet muda di daerah memang menunjukkan geliat, namun belum semua wilayah memiliki akses dan fasilitas yang layak untuk mencetak juara. Kesenjangan ini harus segera diatasi agar potensi atlet muda di seluruh pelosok negeri dapat teridentifikasi dan terasah secara optimal. Program pemerataan fasilitas dan pelatihan perlu digalakkan, mungkin dengan membangun pusat pelatihan regional atau memfasilitasi akses ke fasilitas yang ada bagi atlet dari daerah terpencil.
Di sisi lain, kebutuhan akan pendekatan sport science juga semakin mendesak. Negara-negara pesaing telah lama menggunakan analisis performa berbasis data, pelatihan berteknologi tinggi, dan pendekatan nutrisi serta psikologis yang terintegrasi. Indonesia tidak bisa lagi tertinggal dalam hal ini.
Investasi pada sport science bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar atlet bisa bersaing setara dengan para kompetitor global. Penggunaan teknologi dan data akan membantu mengoptimalkan program latihan, meminimalkan risiko cedera, serta meningkatkan performa atlet secara signifikan. Ini mencakup penggunaan teknologi wearable, analisis video pertandingan, pemantauan kondisi fisik dan mental atlet secara real time, serta pengembangan program nutrisi yang spesifik untuk setiap cabang olahraga.
Soal pendanaan juga menjadi isu klasik yang belum tuntas. Atlet dan pelatih membutuhkan sokongan anggaran yang stabil dan terukur, tidak hanya menjelang Olimpiade. Ketersediaan dana yang berkelanjutan akan memastikan program pelatihan dapat berjalan tanpa hambatan.
Fasilitas latihan yang setara standar internasional, program try out ke luar negeri untuk mendapatkan pengalaman kompetisi yang lebih tinggi, hingga dukungan psikologis yang komprehensif harus menjadi bagian dari sistem pembinaan yang berkelanjutan. Kemenangan bukan hanya ditentukan di lapangan, tetapi jauh hari sebelumnya, dalam sesi latihan, evaluasi performa, dan perencanaan matang.
Dukungan finansial yang kuat akan memungkinkan federasi olahraga untuk merekrut pelatih berkualitas, menyediakan peralatan modern, dan menjamin kesejahteraan atlet. Ini juga berarti memastikan bahwa atlet tidak perlu khawatir tentang biaya hidup atau kebutuhan dasar lainnya, sehingga mereka bisa fokus sepenuhnya pada latihan dan kompetisi. Selain itu, dukungan psikologis yang memadai sangat penting untuk mengatasi tekanan kompetisi dan menjaga kesehatan mental atlet, terutama di ajang sebesar Olimpiade.
Meski begitu, harapan tetap menyala. Cabang olahraga seperti panjat tebing, panahan, karate, hingga taekwondo telah menunjukkan potensi besar di tingkat Asia. Dengan pembinaan yang konsisten dan fokus pada pengembangan jangka panjang, bukan tidak mungkin kejutan hadir dari luar cabang olahraga tradisional andalan.
Los Angeles 2028 bisa menjadi titik balik, bukan hanya dari sisi medali, tetapi juga dari sisi transformasi sistemik olahraga Indonesia. Diversifikasi cabang olahraga unggulan akan mengurangi ketergantungan pada satu atau dua cabang saja, menciptakan fondasi olahraga nasional yang lebih kokoh dan berkesinambungan. Ini juga membuka peluang bagi lebih banyak atlet untuk berprestasi di kancah internasional.
