Konten dari Pengguna

Tren Pamer LoA Luar Negeri, Yakin Sudah Final atau Baru Sekadar Bersyarat?

Fikri Haekal Akbar

Fikri Haekal Akbar

Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fikri Haekal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini sekolah-sekolah ramai memamerkan siswanya yang mendapat Letter of Acceptance (LoA) kampus luar negeri, tetapi sering kali tanpa penjelasan jelas apakah penerimaan tersebut sudah final (unconditional) atau masih bersyarat (conditional). Gambar: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Belakangan ini sekolah-sekolah ramai memamerkan siswanya yang mendapat Letter of Acceptance (LoA) kampus luar negeri, tetapi sering kali tanpa penjelasan jelas apakah penerimaan tersebut sudah final (unconditional) atau masih bersyarat (conditional). Gambar: Shutterstock

Baru-baru ini, timeline media sosial tiba-tiba penuh dengan poster dari sekolah. Foto siswa lengkap ditemani logo kampus luar negeri yang keren, lalu dengan ucapan “Congratulations” atau "Selamat Atas Kelulusannya" dan banyak lagi. Nama kampusnya pun tidak main-main. Ada Harvard, Cornell, Oxford, Cambridge, sampai universitas top di Eropa, Amerika, dan Australia. Di satu sisi, ini jelas membanggakan. Melihat siswa bisa tembus kampus luar negeri memang sesuatu yang layak dirayakan. Tapi kalau diperhatikan lebih jauh, yang terjadi bukan hanya euforia siswa, melainkan juga semacam “kejar-kejaran” antar sekolah. Satu sekolah mengunggah, sekolah lain ikut memamerkan. Fenomena ini pelan-pelan menunjukkan FOMO di level institusi, di mana sekolah berlomba-lomba menampilkan siapa yang paling banyak “mengirim” siswa ke kampus luar negeri.

Padahal, di balik unggahan-unggahan itu, ada satu hal penting yang sering tidak dijelaskan. Sederhana saja pertanyaannya, LoA yang didapat itu sudah final, atau masih bersyarat?

Kalau dilihat lebih jauh, bagi sekolah tren pamer LoA ini juga jadi semacam ajang pamor. Menampilkan logo kampus top dunia di media sosial jelas punya efek besar. Citra sekolah naik, terlihat prestisius, dan tentu saja menarik bagi calon orang tua dan siswa baru. Pesannya kurang lebih seperti ini, kalau sekolah di sini, peluang ke luar negeri terbuka lebar. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi masalahnya muncul ketika informasi yang ditampilkan tidak utuh, karena dalam sistem pendaftaran kampus luar negeri, LoA itu tidak selalu berarti sudah aman.

Banyak orang belum tahu bahwa LoA itu ada dua jenis utama, dan perbedaannya cukup jauh. Yang pertama adalah LoA Conditional atau Letter of Acceptance Bersyarat. Ini yang paling sering muncul di awal. Artinya kampus sudah tertarik dengan profil pelamar, baik dari nilai, esai, maupun aktivitasnya. Bahkan bisa dibilang pelamar sudah “dipilih”, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi.

Biasanya LoA jenis ini dikeluarkan karena berkas pendaftaran belum lengkap, namun pelamar dianggap potensial. Syarat yang diminta pun cukup banyak, seperti skor bahasa Inggris IELTS atau TOEFL yang belum mencapai batas minimum, dokumen akademik yang belum dilegalisir, belum melampirkan ijazah atau transkrip asli, atau kekurangan dokumen administratif seperti bukti sponsor pendanaan. Selama syarat-syarat ini belum terpenuhi, statusnya masih menggantung. Kalau sampai tenggat waktu terlewati, LoA tersebut bisa gugur. Jadi, meskipun terlihat sudah “diterima”, sebenarnya belum sepenuhnya aman.

Jenis kedua adalah Unconditional LoA, yaitu penerimaan tanpa syarat tambahan. Ini yang benar-benar final. Kalau sudah sampai tahap ini, artinya semua syarat akademis sudah beres dan tidak ada lagi target nilai atau dokumen yang harus dilengkapi. Statusnya sudah resmi sebagai calon mahasiswa. Yang tersisa biasanya hanya urusan administratif seperti membayar deposit, mengurus visa, mencari pendanaan, dan persiapan keberangkatan. Singkatnya, bukan lagi soal diterima atau tidak, tapi tinggal berangkat atau tidak.

Di sinilah sering terjadi salah paham. LoA yang bersifat conditional sebenarnya cukup umum, terutama untuk siswa yang mendaftar sebelum lulus. Banyak yang bisa mendapatkannya dari beberapa kampus sekaligus. Sementara yang benar-benar unconditional jumlahnya jauh lebih sedikit malah lebih susah dan langka. Artinya, dari sekian banyak nama yang muncul di poster sekolah, belum tentu semuanya sudah benar-benar aman.

Ada satu sisi lain yang jarang dibicarakan, yaitu tekanan yang muncul di balik semua itu. Bayangkan kamu ada di posisi tersebut. Namamu dipajang di Instagram sekolah, ucapan selamat datang dari mana-mana, dan orang-orang menganggap kamu sudah pasti kuliah di luar negeri. Padahal kamu masih harus mengejar skor IELTS, masih menunggu nilai akhir, dan masih dikejar deadline. Di satu sisi kamu senang, tapi di sisi lain kamu cemas. Validasi datang lebih dulu, sementara kepastian belum ada. Buat sebagian orang, ini bisa jadi tekanan yang cukup berat.

Bukan berarti pencapaian ini tidak layak diapresiasi. Mendapat LoA, bahkan yang masih bersyarat, tetap butuh usaha besar. Tapi akan lebih sehat kalau narasinya lebih mengutamakan kejujuran. Sekolah tetap bisa bangga tanpa harus membuatnya terlihat seolah semuanya sudah pasti. Siswa juga bisa dihargai tanpa dibebani ekspektasi berlebihan. Karena proses menuju kuliah di luar negeri itu panjang, dan tidak berhenti di satu surat penerimaan.