Menjaga Akhlak Muslim di Era Media Sosial

Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari fikri Juliansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital seperti sekarang, media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X, masyarakat dapat dengan mudah berbagi informasi, menyampaikan pendapat, serta berinteraksi dengan orang lain tanpa batasan jarak dan waktu. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, media sosial juga menghadirkan tantangan, terutama dalam menjaga akhlak dan perilaku sebagai seorang Muslim.
Islam mengajarkan bahwa akhlak yang baik harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk ketika berinteraksi di dunia digital. Perkataan yang disampaikan melalui tulisan, komentar, maupun unggahan di media sosial tetap mencerminkan kepribadian seseorang. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab dan kesadaran terhadap dampak yang ditimbulkan.
Menjaga Lisan, Termasuk Jari-Jari di Media Sosial
Salah satu bentuk akhlak yang perlu diperhatikan adalah menjaga ucapan dan tulisan. Di media sosial, seseorang terkadang mudah memberikan komentar kasar, menghina orang lain, menyebarkan fitnah, atau terlibat dalam perdebatan yang tidak bermanfaat. Hal ini sering terjadi karena pengguna merasa lebih bebas berbicara di balik layar.
Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik atau diam. Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam percakapan secara langsung, tetapi juga dalam aktivitas digital. Sebelum menulis komentar atau mengunggah sesuatu, seorang Muslim sebaiknya mempertimbangkan apakah perkataan tersebut membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain.
Bijak dalam Menyebarkan Informasi
Tantangan lainnya adalah maraknya penyebaran berita yang belum tentu benar. Informasi yang menarik atau mengejutkan sering kali langsung dibagikan tanpa diperiksa terlebih dahulu. Akibatnya, berita bohong, prasangka, dan kesalahpahaman dapat menyebar dengan cepat.
Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6, umat Islam diperintahkan untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran berita sebelum mengambil tindakan. Prinsip ini sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. Memastikan sumber informasi, membaca berita secara utuh, dan tidak terburu-buru membagikan kabar merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.
Menghindari Ghibah, Fitnah, dan Ujaran Kebencian
Media sosial juga dapat menjadi tempat munculnya ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian. Membicarakan keburukan orang lain, mempermalukan seseorang di ruang publik, atau menyebarkan informasi pribadi tanpa izin dapat merugikan orang lain dan merusak hubungan sosial.
Seorang Muslim hendaknya menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, memberikan dukungan, serta membangun hubungan yang positif. Jika menemukan perbedaan pendapat, sampaikanlah dengan bahasa yang santun dan tidak merendahkan. Perbedaan bukan alasan untuk kehilangan rasa hormat kepada sesama manusia.
