KH Zainal Mustafa, Kiai Singaparna yang Berani Berkata “Tidak” pada Jepang
Tulisan dari Muhammad Fikri Yafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
KH Zainal Mustafa adalah pahlawan nasional asal Tasikmalaya yang tercatat sebagai pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengangkat senjata melawan pendudukan Jepang. Dari sebuah pesantren kecil di Singaparna, ia menyalakan api perlawanan. KH Zainal Mustafa tercatat sebagai pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengangkat senjata melawan pendudukan Jepang. Kini, namanya tercantum sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Anak Petani dari Bageur
KH Zainal Mustafa lahir di Kampung Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, pada 1 Januari 1899. Nama kecilnya Hudaemi. Ia putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, dari keluarga petani yang berkecukupan. Soal tahun kelahiran, sumber sejarah memang tidak seragam. Ada yang menyebut 1901, Ensiklopedia Islam mencatat 1907, sementara tahun 1899 merujuk pada catatan sejarawan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. Nama Zainal Mustafa baru ia pakai setelah menunaikan ibadah haji pada 1927.
Santri Kelana yang Haus Ilmu
Hudaemi kecil bersekolah di Sekolah Rakyat, sambil belajar mengaji kepada guru agama di kampungnya. Kondisi ekonomi keluarga memungkinkannya menimba ilmu agama lebih jauh. Ia lalu berguru ke Pesantren Gunung Pari di bawah bimbingan kakak sepupunya, Dimyati, yang dikenal sebagai KH Zainal Muhsin. Setelah itu, ia berpindah ke Pesantren Cilenga di Leuwisari, kemudian Pesantren Sukamiskin di Bandung.
Selama sekitar 17 tahun, KH Zainal Mustafa berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain. Dari perjalanan panjang itulah ia dikenal mahir berbahasa Arab dan luas pengetahuan agamanya.
Perjuangan KH Zainal Mustafa di Pesantren Sukamanah
Ibadah haji menjadi titik balik hidupnya. Di Tanah Suci, KH Zainal Mustafa bertemu ulama-ulama terkemuka, bertukar pikiran, dan melihat langsung pusat pendidikan agama. Pengalaman itu mendorongnya untuk mendirikan pesantren sendiri.
Sepulang haji pada 1927, ia mendirikan Pesantren Sukamanah di Kampung Cikembang. Sebelumnya, pada 1922, KH Zainal Muhsin sudah lebih dulu mendirikan Pesantren Sukahideng di Kampung Bageur. Lewat Sukamanah, ia menyebarkan ajaran Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut mayoritas umat Islam di Indonesia.
Tidak hanya mengajar di pesantren, ia juga rajin berceramah ke pelosok desa di Tasikmalaya. Dari situlah sebutan “kiai” melekat padanya. Pada 1933, ia bergabung dengan Nahdlatul Ulama dan dipercaya menjadi wakil rais Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.
Dua Kali Dipenjara Belanda
Mulai 1940, KH Zainal Mustafa terang-terangan membangkitkan semangat kebangsaan lewat ceramahnya dan mengkritik kebijakan kolonial Belanda. Sikap itu berbuah penahanan.
Pada 17 November 1941, ia ditangkap bersama rekan-rekannya dan dipenjara di Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung. Setelah sempat bebas, ia kembali ditangkap pada akhir Februari 1942 dan ditahan di Ciamis hingga kekuasaan Belanda runtuh.
Menolak Membungkuk ke Arah Tokyo
Jepang mengambil alih kekuasaan pada Maret 1942, dan KH Zainal Mustafa pun dibebaskan. Namun, kebebasan itu tidak membuatnya tunduk. Ia justru menolak ambisi fasis Jepang dan memperingatkan para santrinya bahwa fasisme Jepang lebih berbahaya daripada Belanda. Ia juga menentang keras seikeirei, ritual membungkuk ke arah Tokyo, karena dianggap merusak akidah tauhid.
Pertempuran di Sukamanah
Kemarahan terhadap kezaliman penjajah akhirnya memuncak. KH Zainal Mustafa merencanakan perlawanan pada 25 Februari 1944. Para santri Sukamanah dibekali latihan pencak silat, bambu runcing, hingga latihan spiritual.
Ketegangan pecah ketika empat opsir Jepang datang memaksanya menghadap. Ia menolak tegas. Peristiwa itu berujung pada tewasnya tiga opsir Jepang, dan ia mengirim ultimatum agar Jepang memerdekakan Pulau Jawa.
Menjelang sore, pasukan Jepang menyerbu Pesantren Sukamanah dengan taktik adu domba: yang dikerahkan adalah orang Indonesia sendiri. Pertempuran sengit pun terjadi.
Korbannya besar. Sebanyak 86 santri gugur di tempat, puluhan lainnya meninggal akibat penyiksaan di berbagai penjara, dan ratusan orang ditangkap.
Demi melindungi para pengikutnya, KH Zainal Mustafa menanggung seluruh tanggung jawab pemberontakan seorang diri. Ia dan 23 pengikutnya dibawa ke Jakarta untuk diadili, namun tidak pernah kembali. Pesantren Sukamanah ditutup paksa oleh Jepang. Ia wafat di Jakarta pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.
Pelajaran dari Sang Kiai
Kisah KH Zainal Mustafa bukan sekadar catatan masa lalu. Ada nilai-nilai yang masih relevan untuk kita teladani hari ini:
1. Teguh pada prinsip. Ia menolak seikeirei dan propaganda Jepang meski berhadapan dengan senjata. Baginya, keyakinan dan martabat tidak boleh ditukar dengan apa pun.
2. Cinta agama dan tanah air berjalan beriringan. Ia memandang membela bangsa dari penindasan sebagai bagian dari kewajiban moral dan keimanan. Lewat Sukamanah, ia tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bela negara agar masyarakat tidak mudah diadu domba.
3. Berani melawan ketidakadilan. Ia sadar kekuatan lawan jauh lebih besar dan modern, tetapi tetap bersuara. Ia berani pasang badan, baik terhadap kolonial Belanda maupun kekejaman Jepang.
4. Pemimpin yang tidak lari dari tanggung jawab. Ia rela menanggung seluruh risiko pemberontakan seorang diri dan mengutamakan keselamatan para santrinya.
Warisan yang Tak Lekang Waktu
Perjuangan KH Zainal Mustafa mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia ditebus dengan air mata, keringat, dan keteguhan prinsip para pendahulu. Di tengah era modern, teladannya terasa penting, terutama bagi generasi muda: menjaga persatuan, menjunjung integritas, dan peduli pada bangsa adalah tanggung jawab yang harus terus dirawat.
Semoga semangat juangnya terus hidup dan menginspirasi langkah kita membangun Indonesia yang lebih baik.
Sumber bacaan:
A. Munawir (2018), “KH Zainal Mustafa menggerakkan pesantren di Jabar melawan penjajah”, NU Online.
T. Yulianti (2022), “Kiprah KH Zainal Mustafa, Pahlawan Nasional Asal Tasikmalaya”, Detik Jabar.

