Filsafat Bahasa sebagai Fundamen Kajian Bahasa

mahasiswa STIABI Bahasa dan Sastra Arab
Konten dari Pengguna
25 Juni 2022 12:48
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Rifqy Fikrun Najahy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Rifqy Fikrun Najahy
https://www.shutterstock.com/id/image-photo/statue-aristotle-great-greek-philosopher-421724455
zoom-in-whitePerbesar
https://www.shutterstock.com/id/image-photo/statue-aristotle-great-greek-philosopher-421724455
ADVERTISEMENT
Dalam kehidupan di dunia sementara ini manusia tidak akan lepas dari masalah, masalah akan terus berdatangan seiring berjalannya waktu. Tapi perlu diketahui, masalah ada supaya manusia bisa mencari solusinya dengan berpikir. Sebagian filsuf mendapatkan sebuah solusi dengan menganalisis bahasa, karena bahasa merupakan sentral atau inti terselesaikannya sebuah masalah. Oleh karena itu filsafat bahasa sebagai fundamen kajian bahasa menarik sekali untuk dibicarakan.
ADVERTISEMENT
Kaitan filsafat dengan bahasa sudah berlangsung sejak lama. Keduanya memiliki kaitan yang kuat sejak zaman sebelum Socrates. Herakleitos adalah salah satu filsuf pada zaman itu. Pada saat itu dia menyatakan tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta ini. Yang mana dia memusatkan seluruh minat dan perhatiannya pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju kalau dunia yang dirasakannya saat ini bersifat permanen. Karena ada dunia yang lebih tinggi dan bersifat kekal secara murni yaitu dunia akhirat. Sampai-sampai dalam hal ini Aristoteles menyebutnya sebagai fisiologis kuno.
Selain itu dia juga menyatakan bahwa fakta perubahan saja tidak cukup, karena hal tersebut mesti dibarengi dengan mencari prinsip dari perubahannya. Yang mana prinsip perubahan tersebut tidak dapat ditemukan dalam benda material. Karena baginya petunjuk ke arah prinsip perubahan yang tepat itu terdapat di dalam dunia manusiawi.
ADVERTISEMENT
Mengenai dunia manusiawi sudah pasti kalau yang menduduki tempat yang fenomenal adalah kemampuan bicara. Dengan ini maka peranan bahasa dalam dunia manusiawi bersifat inti. Yang mana dalam bahasa tentu tersusun dari kata-kata. Herakleitos menyatakan bahwa kata bukan hanya gejala antropologi yang terbatas dalam ruang lingkup yang sempit melainkan mencakup kebenaran yang bersifat universal. Dengan pemikiran tersebut maka makna filsafat di zaman Yunani awal mengalami pergeseran dari filsafat alam kepada filsafat bahasa. Hal itu disebabkan karena antara filsafat dengan bahasa memiliki kaitan yang sangat kuat.
Pada zaman Socrates ini, bahasa merupakan alat utama dan titik fokus dialog filsafat. Salah satu contohnya yaitu dalam dialog ilmiah Socrates dengan kaum sofis yang menggunakan metode dialektika kritis dan analisis linguistik. Ia menggunakan metode tersebut karena ungkapannya yang menyatakan bahwa objektivitas kebenaran filsafat harus diungkapkan dengan metode tersebut, yaitu dengan analisis dialektis bahasa yang berdasarkan alasan logis. Bukan hanya itu, Plato dan Aristoteles juga sama pedulinya terhadap bahasa. Dan mereka menjadikan hakikat dari bahasa itu sebagai subjek minat utama mereka.
ADVERTISEMENT
Berlanjut pada zaman modern, filsafat analisis bahasa muncul dengan indra dan intuisi manusia yang berperan penting dalam menentukan pengenalan pengetahuan manusia. Dari sini menjadikan rasionalisme lebih menekankan pada otoritas akal. Adapun empirisme lebih menekankan pada pengalaman yang bersifat penginderaan. Filsafat analisis bahasa ini lahir dengan pengaruh immaterialisme dan kritisisme Immanuel Kant yang mengungkapkan bahwa realitas sesuatu itu pasti melalui ungkapan bahasa. Karena bahasa merupakan alat filsuf yang paling penting. Selain itu juga bahasa berguna sebagai alat analisis dan refleksi. Sehingga dari sini menyebabkan munculnya ambiguitas dan kelemahan bahasa yang sangat rentan. Itulah sebabnya hal ini dapat menarik banyak perhatian filsuf untuk menyempurnakannya.
Filsafat analisis bahasa ini menggunakan analisis terminologi gramatikal dalam menjelaskan masalah filsafat bahasa. Banyak filsuf, khususnya filsuf analisis linguistik yang menegaskan bahwa tugas yang paling utama bagi filsafat adalah analisis konsep. Banyak di antara mereka yang sudah mempresentasikan konsep mereka dengan menggunakan metode analisis linguistik, seperti “apa itu keadilan?”, “apa itu kebenaran?”, dan lain sebagainya. Kegiatan semacam ini merupakan titik awal filsafat yang mendasar dalam menemukan kebenaran hakiki tentang segala sesuatu termasuk manusia. Tapi, kegiatan filsuf saat itu dianggap tidak cukup karena tidak didukung oleh pengamatan dan bukti yang cukup dalam mencapai sebuah kesimpulan yang pasti.
ADVERTISEMENT
Adapun untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai hakikat segala sesuatu, para filsuf mencoba membuat argumen yang berdasarkan pada analisis linguistik yang sesuai dengan logika. Terdapat tiga cara dalam menganalisis masalah filsafat, seperti menganalisis sifat pengetahuan yaitu:
• Mempelajari pengetahuan.
• Menganalisis konsep pengetahuan.
• Menunjukkan kebenaran dari pengetahuan.
Cara pertama tidak bisa dilakukan, karena dalam hal ini filsafat seolah-olah mencari dan meneliti keberadaan makhluk yang disebut pengetahuan dan bahkan tidak terpikirkan manusia. Adapun cara yang kedua juga tidak bisa dilakukan, karena dengan hal ini menyatakan bahwa tugas filsafat seolah-olah hanya untuk mengkaji, mempelajari, dan mengamati sesuatu yang disebut pengetahuan. Setelah itu, mengidentifikasi bagian-bagian tersebut dan menentukan hubungannya sehingga membentuk konsep pengetahuan. Adapun cara ketiga yang mungkin cocok, menyatakan bahwa tugas utama filsafat adalah menganalisis konsep yang selalu menggunakan bahasa. Maka filsafat sebagai analisis konsep ini dikaitkan dengan bahasa yaitu bidang makna atau disebut semantik.
https://www.shutterstock.com/id/image-vector/problem-solving-skill-critical-thinking-finding-2115401507
zoom-in-whitePerbesar
https://www.shutterstock.com/id/image-vector/problem-solving-skill-critical-thinking-finding-2115401507
Filsafat sebagai analisis konsep memunculkan masalah, yaitu kekurangan dan keterbatasan bahasa yang memiliki kaitan dengan disiplin ilmu. Konsep-konsep filsafat tersebut selalu dijelaskan secara verbal. Maka bahasa memegang peranan sentral dalam hal ini. Alston berpendapat bahwa bahasa adalah laboratorium filsafat untuk memeriksa dan menjelaskan konsep dan masalah filsafat. Bahkan bahasa juga merupakan laboratorium filsafat untuk menentukan kebenaran pemikiran seseorang. Adapun masalah yang muncul adalah kekurangan dan keterbatasan penggunaan bahasa sehari-hari dalam mengungkapkan konsep filsafat.
ADVERTISEMENT
Dalam filsafat bahasa sebenarnya kita tidak berbicara secara langsung tentang realitas. Karena hal yang terpenting dalam berbicara tentang realitas adalah bahasa itu sendiri. Seperti, saat kita sedang berbicara tentang bahasa objek pensil, hewan, tumbuhan, dan lain-lain, maka hal yang kita bicarakan adalah bahasa dari objek tersebut bukan objeknya. Dengan kata lain hal ini disebut metabahasa yaitu melalui bahasa kita membahas tentang bahasa.
Semakin luas realitas yang ingin dibedah oleh filsafat, semakin kuat pula partisipasi bahasa dalam aktivitas filsafat ini. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa para filsuf bahasa lebih peduli terhadap bahasa daripada realitas itu sendiri. Bahkan beberapa filsuf telah menunjukkan bahwa susunan bahasa mendominasi atau mempengaruhi pemikiran filsafat. Adapun Kattsoff menyatakan bahwa pada kenyataannya sistem filsafat dalam beberapa hal dapat dianggap sebagai bahasa, sedangkan refleksi filsafat dapat dianggap sebagai bagian dari bahasa itu sendiri. Pernyataan ini menunjukkan keterikatan hubungan filsafat dengan bahasa yang sangat erat dan menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu sendiri dapat dianggap sebagai sistem filsafat. Fakta inilah yang menarik perhatian para filsuf linguistik yang mendalami persoalan penggunaan bahasa dalam filsafat.
ADVERTISEMENT
Dapat disimpulkan bahwa filsafat bahasa adalah tentang bahasa filsafat. Maka bagi orang yang tertarik dan mempertanyakan bahasa filsafat, Kattsoff mengingatkan dengan perkataannya, “Kita tidak boleh berasumsi bahwa kita benar-benar tahu arti sebuah istilah. Sebaliknya, kita harus selalu berasumsi bahwa kita tidak tahu artinya". Inilah yang menjadikan titik tolak pemikiran para filsuf mengenai bahasa yang akhirnya mereka memulai penyelidikan terhadap bahasa filsafat. Sehingga bagi para pelajar hendaklah memperbanyak dalam membaca dan memahami bacaan. Supaya tidak mudah menilai buruk sesuatu yang ada di alam ini, karena semuanya memiliki manfaatnya masing-masing.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020