Rendahnya Gaji Guru Honorer dan Ekonomi Pendidikan yang Belum Tersistem

Fiky Nurtita Yuani
Mahasiswa Universitas Negeri Malang
Konten dari Pengguna
30 April 2023 20:22 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Fiky Nurtita Yuani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gambar Guru dengan murid. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar Guru dengan murid. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Rendahnya upah yang diterima oleh tenaga pendidik honorer atau guru honorer di Indonesia belum lama ini terkuak oleh berbagai unggahan mengenai topik tersebut. Hal ini mengakibatkan banyaknya komentar serta respons dari warganet yang tersebar luas mendukung pernyataan tersebut.
ADVERTISEMENT
Guru honorer seringkali memiliki status pekerjaan yang lebih rendah dari tenaga pendidik pada umumnya. Sebab biasanya tidak dijamin dengan program jaminan sosial dan tidak memiliki hak yang setara dengan pegawai pemerintah berstatus PPPK atau PNS.
Banyak pihak mengutarakan bahwa gaji honorer yang rendah merupakan salah satu kelemahan yang dimiliki bangsa Indonesia, hal ini dikarenakan pendidik yang seharusnya mendapat hak upah sesuai kebutuhannya yang semakin berkurang.
Salah satu unggahan yang membuat iba warganet adalah postingan dari salah satu media sosial yakni TikTok dengan username @wafaaliy_ yang menunjukkan gaji guru honorer yang di bawah rata-rata penghasilan di Indonesia. Kisaran yang ditunjukkan antara Rp 150.000 hingga Rp 1 juta.
Hal tersebut menjadi persoalan yang masih menjadi topik hangat, di mana pun guru honorer mengutarakan nasib akan gaji yang kurang layak. Dalam ekonomi pendidikan yang tidak terstruktur, penentuan gaji untuk guru honorer sering kali tidak memiliki sistem yang jelas.
ADVERTISEMENT
Pembagian upah yang tidak merata bagi guru honorer dapat berdampak negatif pada ekonomi pendidikan dan masyarakat secara keseluruhan. Beberapa dampak yang mungkin terjadi adalah penurunan kualitas pendidikan akibat kurangnya motivasi.
Ilustrasi belajar di sekolah. Foto: Ahmad Subaidi/Antara Foto
Belum lagi berdampak pada semangat mengajar dari guru honorer akibat upah yang tidak mencukupi, timbulnya kesenjangan sosial antara guru honorer dan guru tetap, ketidakstabilan keuangan yang mempengaruhi motivasi guru honorer dan meningkatnya angka pengangguran karena kurangnya peluang kerja bagi guru honorer yang ingin bekerja penuh waktu.
Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan sistematisasi dalam ekonomi pendidikan untuk memastikan pembagian upah yang adil dan sesuai dengan pekerjaan guru honorer. Selain itu, perlu juga dikembangkan jalur karier untuk guru honorer agar dapat menjadi guru tetap dengan upah yang lebih baik dan stabil secara finansial.
ADVERTISEMENT
Kurangnya keteraturan dalam sistem ekonomi pendidikan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keterbatasan anggaran yang tersedia. Pendidikan membutuhkan biaya yang besar untuk membangun infrastruktur, menyediakan sumber daya, dan membayar gaji tenaga pendidik.
Namun, karena anggaran pendidikan terbatas, maka sulit untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Selain itu, beberapa sistem pendidikan kurang memiliki sistem yang transparan dan akuntabel dalam penggunaan anggaran pendidikan.
Hal ini dapat menyebabkan penyalahgunaan dana dan alokasi anggaran yang tidak efisien. Selanjutnya, beberapa sistem pendidikan juga kurang mampu membuat kebijakan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran pendidikan.
Ini dapat menyebabkan pemborosan anggaran dan tidak efisien dalam menyediakan fasilitas pendidikan. Selain itu, kurangnya insentif yang memadai bagi lembaga pendidikan dan tenaga pendidik juga dapat menyebabkan tidak teraturnya sistem ekonomi pendidikan.
Ilustrasi belajar di sekolah. Foto: Iggoy el Fitra/Antara Foto
Akhirnya, ketimpangan sosial dan ekonomi juga dapat mempengaruhi sistem ekonomi pendidikan. Keterbatasan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu secara finansial dan sosial dapat menghambat kemajuan sistem pendidikan dan ekonomi secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, para guru honorer mungkin merasa tidak yakin dalam menentukan jumlah upah yang pantas bagi mereka. Selain itu, persaingan antara guru honorer dalam mencari pekerjaan dapat meningkat ketika tidak ada sistem yang teratur.
Dalam keadaan ini, guru honorer mungkin harus menerima gaji yang rendah agar bisa memperoleh pekerjaan. Sebaliknya, dengan adanya sistem yang jelas untuk menentukan gaji guru honorer, mereka dapat lebih mudah mengetahui gaji yang seharusnya mereka dapatkan dan dapat melakukan negosiasi dengan pengusaha.
Namun, perlu diingat bahwa faktor lain seperti kualifikasi pendidikan, pengalaman kerja, jenis pekerjaan, dan lokasi juga dapat mempengaruhi besarnya gaji guru honorer, selain dari ekonomi pendidikan yang tidak terstruktur.
Ada beberapa solusi yang bisa diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah gaji rendah yang dialami oleh guru honorer. Salah satunya adalah meningkatkan anggaran pendidikan sehingga gaji yang diberikan kepada guru honorer bisa lebih baik.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan tunjangan kesejahteraan seperti asuransi kesehatan dan jaminan pensiun kepada guru honorer agar bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Selain itu, pemerintah juga bisa menyediakan pelatihan dan pengembangan bagi guru honorer agar bisa meningkatkan kualitas pengajaran mereka dan memperoleh kemampuan baru yang bisa meningkatkan nilai jual mereka.
Tak hanya itu, pemerintah juga bisa memberikan jalan keluar untuk mengubah status guru honorer menjadi guru tetap, sehingga gaji dan jaminan kerja mereka bisa lebih baik. Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan insentif kinerja bagi guru honorer yang bisa meningkatkan motivasi mereka dan memberikan kepuasan kerja.
Dengan mengambil tindakan-tindakan ini, pemerintah bisa memberikan solusi untuk masalah gaji rendah yang dialami oleh guru honorer dan memperbaiki sistematisasi dalam ekonomi pendidikan secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT