Konten dari Pengguna

Gaji Saja Tidak Cukup: Mengapa Perusahaan Perlu Mempertahankan Talenta?

Abdah Roghibah Fillah

Abdah Roghibah Fillah

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdah Roghibah Fillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ilustrasi dibuat dengan AI, 2026
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi dibuat dengan AI, 2026

Penulis: Abdah Roghibah Fillah, Achmad Fanes Raiehan Juraemi, Alfina Laili Fauziah, Aulia Sa'bani Mauliana M.

Pernahkah kamu penasaran, mengapa ada orang yang memutuskan untuk tetap tinggal di perusahaan yang sama selama bertahun-tahun, sementara ada orang lain yang justru ingin segera mencari pekerjaan baru? Padahal, keduanya mungkin memiliki tugas dan tanggung jawab yang hampir sama. Salah satu jawabannya terkait dengan cara perusahaan mengurus dan menjaga talenta yang mereka punya.

Banyak perusahaan mengedepankan proses rekrutmen agar bisa mendapatkan karyawan yang paling baik. Namun, memperoleh karyawan yang berkualitas sebenarnya bukan berarti proses pengelolaan sumber daya manusia telah selesai. Perusahaan juga harus memberi kesempatan untuk tumbuh, menciptakan lingkungan kerja yang ramah, serta membangun hubungan kerja yang membuat karyawan merasa nyaman dan ingin tetap bertahan. Itulah sebabnya strategi mempertahankan karyawan atau retensi talenta menjadi bagian yang sangat penting dalam manajemen talenta.

Apa Sebenarnya Talent Retention Itu?

Secara sederhana, talent retention adalah upaya perusahaan untuk menjaga karyawan, terutama mereka yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan kemungkinan besar berkontribusi bagi perusahaan. Tujuannya bukan hanya mencegah karyawan resign, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa dihargai dan punya alasan untuk terus berkembang bersama perusahaan.

Dalam siklus manajemen talenta, mempertahankan karyawan sangat berkaitan dengan proses merekrut dan mengembangkan talenta. Perusahaan mungkin bisa mendapatkan karyawan yang bagus, tetapi hasilnya sulit bertahan jika karyawan tidak mendapat bantuan yang cukup setelah mereka mulai bekerja.

Bayangkan sebuah perusahaan yang menghabiskan banyak uang untuk mencari dan melatih karyawan baru. Setelah karyawan itu sudah menguasai pekerjaannya, dia malah memilih resign dan pindah ke perusahaan lain karena merasa tidak ada peluang untuk berkembang secara karier. Perusahaan akhirnya harus menghabiskan waktu dan uang lagi untuk mencari orang yang menggantikan posisinya.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa mempertahankan karyawan berbakat harus direncanakan dari awal, bukan hanya dilakukan saat mereka sudah mengajukan keinginan untuk keluar.

Mengapa Karyawan Memilih untuk Resign?

Keputusan seseorang untuk menghentikan pekerjaan tidak selalu karena besarnya upah yang diterima. Kompensasi memang penting, tetapi masih ada beberapa hal lain yang bisa memengaruhi keputusan karyawan untuk tetap bekerja atau mencari pekerjaan baru.

Salah satunya adalah terbatasnya kesempatan pengembangan karier. Karyawan yang sudah bekerja lama mungkin ingin mendapatkan tugas baru, belajar keterampilan tambahan, atau bisa naik jabatan. Ketika peluang itu tidak muncul, mereka bisa mulai memikirkan alternatif karier di tempat lain.

Faktor berikutnya adalah hubungan dengan atasan dan lingkungan kerja. Karyawan yang merasa tidak didengar, tidak dirayakan, atau terus mengalami komunikasi yang tidak baik bisa mengalami penurunan semangat dalam bekerja.

Selain itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Beban tugas yang terlalu berat dan kurangnya fleksibilitas bisa membuat karyawan kesulitan untuk menjaga keseimbangan hidupnya.

Artinya, keputusan untuk mengundurkan diri biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda. Oleh karena itu, perusahaan harus memahami kebutuhan karyawan secara lebih dalam, bukan hanya mengandalkan kenaikan gaji sebagai cara mengatasinya.

Fenomena Great Resignation Menjadi Pengingat bagi Perusahaan

Fenomena Great Resignation menunjukkan peningkatan perhatian terhadap keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan mereka dan mencari peluang kerja baru. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa hubungan antara perusahaan dan karyawan harus terus dilihat dan dinilai lagi.

Dalam tugas kelompok yang dibahas, materi mengenai siklus manajemen talenta dibahas.Artikel Liputan6.com yang diterbitkan pada 26 Oktober 2022 membahas isu mengenai keinginan para pekerja profesional di Indonesia untuk mengajukan resign. Pembahasan itu menekankan betapa pentingnya peran sumber daya manusia dalam merancang strategi untuk mempertahankan karyawan, agar perusahaan bisa menjaga keterlibatan mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa adanya karyawan di perusahaan tidak selalu berarti mereka benar-benar merasa memiliki ikatan yang kuat dengan organisasi tersebut. Ada karyawan yang masih bertahan karena belum menemukan pekerjaan lain yang cocok, bukan karena mereka sudah senang dengan tempat kerjanya.

Bagi perusahaan, kondisi tersebut perlu dijadikan acuan untuk mengevaluasi. Mempertahankan karyawan hanya karena mereka tidak punya pilihan kerja lain bukan cara yang efektif untuk jangka waktu yang lama. Ketika ada peluang kerja lain muncul, perusahaan masih bisa kehilangan karyawan yang sebenarnya ingin mereka jaga.

Oleh karena itu, perusahaan harus menciptakan alasan yang lebih baik agar karyawan tetap bertahan, misalnya kesempatan untuk tumbuh, lingkungan kerja yang menyenangkan, serta pengakuan terhadap usaha mereka.

Pengembangan Karier Membuat Karyawan Memiliki Tujuan

Salah satu cara yang bisa dilakukan perusahaan agar karyawan tetap bertahan adalah dengan memberikan panduan karier yang terbuka dan jelas. Karyawan harus tahu keterampilan apa yang perlu ditingkatkan, tugas apa yang bisa mereka lakukan, serta kesempatan apa saja yang mungkin ada di masa depan.

Tanpa ada arah pengembangan yang terang, karyawan mungkin merasa bahwa pekerjaannya hanya berjalan biasa saja tanpa ada kemajuan yang nyata. Dalam jangka panjang, situasi seperti itu bisa membuat mereka kehilangan minat untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut.

Perusahaan bisa membuat rencana pengembangan individu bersama karyawan dan manajer. Rencana itu bisa mencakup apa yang perlu dipelajari, kemampuan yang ingin dicapai, pengalaman kerja yang harus didapat, dan tujuan karier yang ingin dicapai.

Misalnya, karyawan yang ingin naik jabatan menjadi supervisor bisa diberikan tugas memimpin proyek kecil, mengikuti pelatihan tentang menjadi pemimpin, serta mendapat bimbingan dari manajer yang sudah berpengalaman.

Dengan cara ini, karyawan tidak hanya diminta meningkatkan kinerjanya, tetapi juga diberi pemahaman tentang cara mereka bisa berkembang di dalam perusahaan.

Apresiasi dan Lingkungan Kerja Juga Menentukan

Selain kesempatan untuk berkembang dalam karier, karyawan juga harus merasa bahwa usaha dan kontribusinya dihargai dan diperhatikan. Apresiasi tidak selalu harus diberikan dengan bonus atau penghargaan besar. Ucapan terima kasih, pengakuan terhadap hasil kerja, serta umpan balik yang positif juga bisa menjadi cara untuk menghargai usaha karyawan.

Lingkungan kerja yang sehat harus dibentuk dengan cara berkomunikasi secara terbuka. Karyawan seharusnya bisa berbicara dengan bebas, memberikan saran, dan membahas masalah kerja tanpa takut dihina atau merasa malu.

Di sisi lain, perusahaan harus memperhatikan beban kerja yang diberikan kepada karyawan dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Kebijakan kerja fleksibel bisa dipertimbangkan berdasarkan sifat pekerjaan dan kebutuhan perusahaan.

Namun, setiap strategi harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Program penghargaan yang baik saja tidak cukup bila jalur karier tidak jelas, sedangkan fleksibilitas kerja pun tidak bisa menyelesaikan semua masalah jika komunikasi dengan atasan tetap buruk.

Oleh karena itu, upaya menjaga talenta harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya mengandalkan satu kebijakan saja.

Jangan Menunggu Karyawan Mengajukan Resign

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan perusahaan adalah baru menyadari ada masalah dengan karyawan setelah karyawan tersebut mengajukan surat pengunduran diri. Padahal, gejala menurunnya partisipasi karyawan mungkin sudah muncul sebelumnya.

Perusahaan bisa melakukan survei untuk mengetahui tingkat kepuasan dan keterlibatan karyawan secara rutin. Selain itu, percakapan antara manajer dan anggota tim bisa digunakan untuk mengetahui kebutuhan, hambatan, dan harapan karier karyawan.

Hasil evaluasi tersebut harus diikuti dengan tindakan nyata. Jika karyawan mengatakan bahwa peluang untuk berkembang dalam karier masih sedikit, misalnya, perusahaan bisa mengevaluasi lagi program pelatihan dan cara peningkatan jabatan yang ada.

Perusahaan juga harus mengetahui mengapa karyawan resign agar bisa memahami masalah yang sering terjadi. Informasi tersebut bisa dipakai untuk memperbaiki kebijakan dan mencegah keluarnya talenta yang sebenarnya masih bisa dijaga.

Dengan pendekatan ini, retensi bukan hanya cara untuk mengurangi jumlah karyawan yang resign, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia.

Penutup

Mempertahankan talenta bukan hanya tentang membuat karyawan tetap bekerja di perusahaan. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang memberi kesempatan untuk berkembang, menghargai usaha dan kontribusi karyawan, serta mendukung kebutuhan mereka dengan cara yang seimbang dan wajar.

Gaji dan kompensasi tetap penting, tetapi perusahaan juga harus memperhatikan jalur karier, kemampuan memimpin, keterlibatan karyawan, serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Semua aspek tersebut harus diatur secara bersamaan agar karyawan memiliki alasan yang cukup kuat untuk tetap bertahan.

Akhirnya, keberhasilan dalam mengelola talenta tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan menemukan orang-orang terbaik, tetapi juga oleh kemampuan mereka mengembangkan dan menjaga orang-orang tersebut. Karena, talenta yang berkualitas bisa memberikan manfaat yang bertahan lama jika perusahaan bisa membuat lingkungan yang ingin mereka ikuti dan berkembang bersama.