Filler Words dalam Pidato Publik Figur Indonesia

Mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Geni Marsanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir setiap pembicara publik dari pejabat negara hingga motivator kondang pernah menyelipkan kata seperti "eh," "jadi," "apa," atau "gitu" di sela kalimat mereka. Kebanyakan pelatih public speaking menganjurkan keras untuk menghilangkan kebiasaan ini, karena dianggap menunjukkan kegugupan atau keraguan. Namun di balik anjuran yang terdengar sederhana itu, kata-kata pengisi atau filler words ini sebenarnya menyimpan fungsi linguistik dan psikologis yang jauh lebih kompleks dari sekadar "kebiasaan buruk" yang perlu dihilangkan sepenuhnya.
Dua Jenis Filler Words yang Perlu Dibedakan
Dalam kajian linguistik, kata pengisi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yang berbeda secara fungsi: jeda terisi (filled pause) seperti "eee" atau "mmm" yang tidak bermakna secara leksikal, dan penanda wacana (discourse marker) seperti "jadi," "begitu," atau "kayak" yang sebenarnya memiliki makna, namun sering digunakan tanpa tujuan komunikatif yang jelas. Perbedaan ini penting karena kedua jenis filler words ini melayani fungsi psikologis yang berbeda bagi pembicara, meski sama-sama dianggap "mengotori" kelancaran bicara dari sudut pandang normatif public speaking konvensional.
Fungsi yang Lebih Dalam dari Sekadar Tanda Kegugupan
Penelitian yang mengkaji senyapan dan frasa penjeda pada pembicaraan publik di forum ilmiah menemukan bahwa kata penjeda seperti "apa namanya" muncul sebagai bentuk reaksi terhadap stimulus dalam pikiran pembicara termasuk kegugupan, kebingungan, lupa, maupun hilangnya konsentrasi. Dengan kata lain, filler words bukan sekadar kebiasaan tanpa makna, melainkan cerminan langsung dari proses kognitif yang sedang berlangsung di benak pembicara saat itu juga.
Penelitian lain yang menganalisis filler dalam konteks ujian berbicara bahasa Indonesia mengidentifikasi filler nonleksikal dengan fungsi memberi jeda waktu berpikir sebagai salah satu fungsi paling dominan yang muncul, disusul filler seperti "jadi," "maksudnya," "gitu," "kayak," "iya," dan "sih." Menariknya, penelitian ini juga mengidentifikasi fungsi filler sebagai alat berempati penggunaan kata seperti "seperti," "ya," "jadi," dan "maksudnya" yang berfungsi menjaga koneksi dengan lawan bicara, bukan semata tanda kebingungan pembicara.
Fungsi Koreksi: Ketika Filler Menjadi Alat Perbaikan Ucapan
Fungsi menarik lain yang teridentifikasi dalam kajian linguistik adalah fungsi koreksi filler seperti "ah" dan "eh" yang muncul di tengah kalimat ketika pembicara sedang mengoreksi ucapannya sendiri secara real-time. Fungsi ini menunjukkan bahwa filler words bisa menjadi mekanisme adaptif yang membantu pembicara memperbaiki kesalahan ucapan tanpa harus menghentikan aliran bicara secara total sebuah strategi komunikasi yang sebenarnya cukup canggih, meski sering dipandang sebelah mata dalam pelatihan public speaking formal.
Konteks Indonesia: Fenomena yang Masih Jarang Dipetakan Secara Spesifik
Meski kajian linguistik soal filler words dalam bahasa Inggris sudah cukup banyak dilakukan, penelitian yang secara spesifik memetakan pola filler words dalam pidato publik figur-figur Indonesia baik pejabat negara, tokoh politik, maupun pembicara publik lainnya masih relatif terbatas. Padahal, dari sisi anekdotal, hampir setiap pembicara publik di Indonesia, tanpa memandang level jabatan atau pengalaman berbicara mereka, tetap menyelipkan kata pengisi dalam pidato mereka menunjukkan bahwa fenomena ini bersifat universal, bukan eksklusif bagi pembicara pemula yang belum terlatih.
Perdebatan: Haruskah Sepenuhnya Dihilangkan?
Anjuran umum dari pelatih public speaking yang menekankan penghilangan total filler words perlu dilihat lebih kritis mengingat kompleksitas fungsinya yang sudah dijelaskan di atas. Jika filler words sepenuhnya berfungsi sebagai penanda keraguan atau kegugupan semata, maka anjuran menghilangkannya memang masuk akal demi menjaga kesan percaya diri pembicara. Namun jika sebagian filler justru berfungsi sebagai alat berempati atau mekanisme koreksi adaptif, penghilangan total berpotensi membuat gaya bicara terdengar kaku dan kurang natural menciptakan jarak psikologis dengan audiens, alih-alih mendekatkan komunikasi sebagaimana fungsi aslinya.
Masalah yang Belum Terpecahkan
Berdasarkan tinjauan di atas, ada beberapa celah yang masih perlu dikaji lebih jauh:
Belum ada studi deskriptif skala besar yang secara spesifik memetakan pola dan frekuensi penggunaan filler words pada pidato publik figur-figur Indonesia dari berbagai latar belakang politik, akademik, maupun hiburan untuk melihat apakah ada pola yang konsisten atau justru sangat bervariasi antarindividu
Minim penelitian yang mengukur persepsi audiens Indonesia secara spesifik terhadap filler words tertentu apakah "eh" dan "jadi" dipersepsikan berbeda dari segi kredibilitas pembicara, ataukah dianggap setara sebagai tanda ketidaklancaran semata
Belum jelas bagaimana filler words berbeda penggunaannya antara pidato yang sudah dipersiapkan (scripted) dengan pidato spontan atau sesi tanya-jawab, mengingat konteks persiapan kemungkinan besar memengaruhi frekuensi dan jenis filler yang muncul
Penutup
Filler words seperti "eh," "jadi," dan "gitu" dalam pidato publik figur Indonesia bukan sekadar cacat bicara yang harus dihilangkan sepenuhnya, melainkan fenomena linguistik dengan fungsi psikologis yang beragam mulai dari penanda keraguan, alat memberi jeda berpikir, sarana membangun empati dengan audiens, hingga mekanisme koreksi ucapan secara real-time. Memahami kompleksitas fungsi ini penting bagi siapa pun yang ingin melatih kemampuan public speaking mereka secara lebih bijak bukan sekadar mengejar kelancaran bicara tanpa jeda, melainkan memahami kapan filler words membantu komunikasi, dan kapan ia justru menghambatnya.
