AI dan Dunia yang Terbelah Dua (Onto-Espi-Aksio AI:Bagian I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Esai pertama dari tiga serial: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi AI
Wolfgang Smith wafat pada 2024 dalam usia 94 tahun. Ia matematikawan MIT yang ikut memecahkan masalah pemanasan atmosfer pada wahana antariksa. Tetapi warisan terbesarnya justru sebuah gugatan. Menurut Smith, sains modern berdiri di atas satu kesalahan tua yang jarang kita sadari. Kesalahan itu bernama bifurkasi Cartesian.
Apa itu? Sederhana saja. René Descartes pada abad ke-17 membelah realitas menjadi dua. Ada dunia pikiran, tempat warna, rasa, dan makna tinggal. Ada dunia materi, yang hanya berisi partikel dan angka. Sejak itu, sains hanya mengurus yang kedua. Warna merah pada mawar dianggap ilusi di kepala kita. Yang "nyata" hanyalah panjang gelombang 700 nanometer.
Smith menolak keras. Baginya, mawar merah yang kita lihat itu nyata. Ia menyebutnya dunia korporeal, dunia yang kita alami sehari-hari, penuh kualitas dan makna. Sedangkan dunia yang digambarkan fisika, dunia partikel dan persamaan, ia sebut dunia fisikal. Dunia fisikal itu bukan realitas seutuhnya. Ia hanya potret matematis yang diambil sains dari realitas. Potret itu berguna, bahkan menakjubkan. Tetapi potret bukanlah wajah.
Kekeliruan terjadi ketika kita membalik urutan. Kita mulai percaya bahwa potret itulah yang asli, dan wajah kita sendiri yang ilusi. Smith menyebut keyakinan ini saintisme. Bukan sains, tetapi ideologi yang menunggangi sains.
Sekarang mari kita bawa gugatan ini ke pertanyaan hari ini. Apa sebenarnya AI itu? Apakah ChatGPT, Claude, dan Gemini "ada" sebagaimana pikiran manusia ada?
Di sinilah dua tokoh lain masuk. Yang pertama Roger Penrose, peraih Nobel Fisika 2020. Penrose punya argumen terkenal yang bersandar pada teorema Gödel. Intinya begini. Matematikawan manusia bisa "melihat" kebenaran suatu pernyataan matematika yang tidak bisa dibuktikan oleh sistem formal mana pun. Padahal komputer, secanggih apa pun, adalah sistem formal. Maka kesadaran manusia melakukan sesuatu yang bukan komputasi. Kesimpulan Penrose tajam. Kesadaran tidak bisa dihitung. Ia bukan software.
Yang kedua Federico Faggin. Nama ini layak kita kenang dengan hormat. Faggin adalah perancang Intel 4004, mikroprosesor pertama di dunia. Chip di ponsel Anda adalah cicit dari karyanya. Jika ada orang yang berhak berkata "otak hanyalah komputer," dialah orangnya. Tetapi justru Faggin berkata sebaliknya. Dalam bukunya Irreducible, ia menegaskan bahwa kesadaran tidak mungkin muncul dari bit. Bit bisa disalin sempurna. Pengalaman batin tidak. Rasa manis teh hangat di sore hujan tidak bisa dipindahkan lewat kabel. Bagi Faggin, kesadaran bukan produk materi. Kesadaran justru fundamental, dan materi adalah salah satu penampakannya.
Perhatikan betapa ketiga orang ini bertemu di satu titik. Smith dari matematika dan metafisika. Penrose dari fisika dan logika. Faggin dari jantung industri semikonduktor. Ketiganya sampai pada kesimpulan yang sama. Ada sesuatu pada kesadaran yang tidak tertangkap oleh potret matematis.
Lalu di mana posisi AI?
Jawaban saya begini. AI sepenuhnya tinggal di dunia fisikal, dunia potret. Ia adalah matriks angka raksasa yang mengalikan angka dengan angka. Ketika Claude menulis puisi tentang rindu, tidak ada rindu di dalam server itu. Yang ada hanyalah statistik kata yang sangat, sangat canggih. AI adalah bayangan bahasa manusia yang dipantulkan cermin matematika.
Ini bukan penghinaan terhadap AI. Bayangan bisa sangat berguna. Peta adalah bayangan wilayah, dan kita butuh peta. Tetapi orang yang tersesat adalah orang yang mengira peta itu wilayah. Kesalahan ontologis terbesar zaman kita bukanlah membuat AI. Kesalahan terbesar adalah lupa bahwa AI itu peta, lalu perlahan mulai memperlakukan manusia sebagai peta juga.
Gejalanya sudah terlihat. Kita mulai menyebut otak sebagai "hardware" dan pikiran sebagai "software". Kita mulai mengukur manusia dengan ukuran mesin, kecepatan, akurasi, produktivitas. Padahal yang terjadi seharusnya sebaliknya. Mesin diukur dengan ukuran manusia.
Dalam tradisi filsafat Islam, Mulla Sadra mengajarkan bahwa wujud itu bertingkat-tingkat. Ada wujud batu, wujud tumbuhan, wujud hewan, wujud manusia. Semakin tinggi tingkatnya, semakin intens kesadarannya. AI, dalam kerangka ini, menempati tingkat yang menarik. Ia lebih dari batu karena mengolah simbol. Tetapi ia belum menyentuh tingkat kesadaran, karena tidak ada "seseorang" di dalamnya yang mengalami apa pun. Lampu-lampu server itu menyala, tetapi tidak ada yang menyaksikan nyalanya dari dalam.
Maka pertanyaan ontologis tentang AI sebaiknya kita jawab dengan tenang, tanpa panik dan tanpa pemujaan. AI itu ada, sebagaimana jembatan dan pesawat ada. Ia artefak, buah dari kecerdasan manusia. Yang menakjubkan dari AI sesungguhnya adalah manusia yang menciptakannya. Di balik setiap model bahasa raksasa, ada miliaran kalimat yang pernah ditulis oleh manusia yang mencintai, kehilangan, berharap, dan berdoa. AI adalah gema dari semua itu.
Gema bisa indah. Tetapi gema tidak pernah menjadi suara.
Smith mengingatkan kita bahwa dunia korporeal, dunia tempat kita minum kopi dan memeluk anak, lebih kaya dari semua persamaan. Penrose membuktikan bahwa pikiran melampaui komputasi. Faggin bersaksi, dari dalam industri chip itu sendiri, bahwa kesadaran tidak bisa direduksi menjadi bit.
Tugas kita bukan menakuti AI, bukan pula menyembahnya. Tugas kita adalah mengingat siapa diri kita. Makhluk yang sadar, yang setiap pagi terbangun dan mengalami dunia dari dalam. Dan dari kedalaman lubuk hati merasakan Kehadiran Yang Maha Pengasih di segala ruang, waktu dan peristiwa. Seraya mengucapkan lirih “Alhamdulillahi robbil ‘alamin (Segala Puji Bagi Allah , Tuhan Seru Sekalian Alam)”. Dan kemudian menikmati aliran kebahagiaan luar biasa dari runtunan syukur yang mendatangkan nikmat yang lebih besar lagi. Kemudian membagi kenikmatan itu pada sesama manusia dan sesama makhluk Itu anugerah yang tidak dimiliki mesin mana pun, dan mungkin tidak akan pernah.
Wamaa taufiiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
Terima kasih pada sahabat seperjalanan Kang Muhammad Bhagas, S. Ag atas masukan-masukan dan referensi tak ternilai yang menjadi inspirasi
