Altruisme dan Empati, Perspektif Filsafat, Sains, dan Agama (Bag I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah Esai tentang Kebaikan yang Tak Pernah Tuntas
Merujuk pada:
Alfie Kohn · C. Daniel Batson · Sun, Liu & Zhang
Kisah Keluarga 'Ali ibn Abī Thālib · Rachel Corrie
Maret 2026
Bagian Satu
Roti, Air, dan Cinta yang Tak Bersyarat: Sebuah Kisah dari Madinah, Abad ke-7 Masehi
Ibnu Abbas berkata, suatu hari di Madinah, putera Fathimah ra., yaitu Hasan dan Husein mengalami sakit. Rasūlullāh saw dan sejumlah pengikutnya datang mengunjungi mereka. Mereka menganjurkan kepada suami Fathimah, yaitu Hadrat 'Ali ibn Abī Thālib, untuk mengucapkan nazar demi kesembuhan dua puteranya itu. Kemudian 'Ali, Fāthimah dan Fidhdhah (pembantu mereka) bernazar, apabila Hasan dan Husein sembuh, mereka akan berpuasa selama tiga hari. Menurut riwayat yang sama, Hasan dan Husein juga bernazar yang sama.
Tak lama kemudian, kedua putera 'Ali ibn Abī Thālib itu pun sembuh. Maka keluarga tersebut mulai melakukan puasa pada hari pertama. Pada saat itu, keluarga puteri Rasūlullāh saw itu berada dalam keadaan amat membutuhkan makanan. Lalu Hadhrat Ali, sang kepala keluarga, membawa sekantung gandum yang diberikan kepada isterinya untuk segera digiling. Fāthimah ra. menggiling sepertiganya hingga menjadi tepung untuk membuat beberapa potong roti.
Menjelang petang, di saat mereka tengah mempersiapkan hidangan roti buatan tangan puteri Rasūl untuk berbuka puasa, tiba-tiba datang seorang miskin menghampiri pintu rumah mereka dan berkata:
"Salam atas kalian wahai keluarga Muhammad. Aku seorang muslim yang kelaparan, berikanlah aku makanan. Semoga Allāh membalas kebaikan kalian dengan makanan dari surga."
Seluruh anggota keluarga 'Ali berempati dan mengutamakan orang miskin itu, mereka memberikan roti yang seharusnya mereka makan saat berbuka kepada orang miskin tersebut. Maka malam itu mereka berbuka hanya dengan beberapa teguk air.
Hari berikutnya mereka kembali berpuasa. Namun seperti yang terjadi pada hari sebelumnya, kini seorang anak yatim datang menghampiri pintu rumah mereka. Sekali lagi, mereka memberikan roti yang seharusnya menjadi hidangan berbuka mereka, hingga tidak ada yang bisa mengisi perut mereka selain air.
Pada hari ketiga, mereka kembali berpuasa. Kali ini seorang tawanan datang menghampiri rumah mereka, dan sekali lagi mereka memberikan makanan berbuka mereka sebagai sedekah.
Pada hari keempat, 'Ali ibn Abī Thālib mengajak Hasan dan Husein menemui Rasūlullāh saw. Ketika melihat keadaan mereka yang memprihatinkan dengan tubuh mereka gemetar karena menahan lapar, Rasūlullāh saw berkata:
"Aku sedih melihat kondisi kalian seperti ini."
Beliau kemudian berdiri dan pergi ke rumah menantunya sambil membimbing dua cucu kesayangannya, diikuti oleh 'Ali.
Ketika sampai di rumah sang menantu, Rasūlullāh saw mendapati Fathimah sedang shalat. Tampak perut puteri tercinta Rasūl itu sangat cekung karena lapar, dan matanya terlihat dalam. Rasūlullāh saw sangat terharu melihat keadaan mereka.
Pada saat itulah Jibril datang dan berkata:
“Wahai Muhammad, terimalah surah ini. Allah memberi kabar gembira kepadamu karena memiliki keluarga seperti ini.”
Kemudian Jibril membacakan kepada Rasūlullāh saw Surah Hal-Atā (Surat Al-Insan).
Kisah serupa juga dinukil oleh Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf dari Abdullah ibn Abbas, serta oleh Syaikh Fadhl ibn Hasan Tabarsi dalam Majma' Al-Bayān.
Berikut kutipan Surah Al-Insan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut:
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا ﴿٧﴾ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩﴾ إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ﴿١٠﴾ فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا ﴿١١﴾
" Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.' Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati." QS. Al-Insān (76): 5–11
(Bersambung)
