Konten dari Pengguna

Altruisme dan Empati, Perspektif Filsafat, Sains, dan Agama (Bag II)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Keluarga Ali bin Abi Thalib (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Keluarga Ali bin Abi Thalib (Sumber: Unsplash)

Bagian Dua

Membaca Kisah Keluarga 'Ali dengan Kacamata Alfie Kohn

Dalam bukunya The Brighter Side of Human Nature (1990), filsuf dan psikolog sosial Alfie Kohn mengajukan gagasan yang pada masanya dianggap revolusioner, bahwa kepedulian dan kemurahan hati sama alaminya dengan keegoisan dan agresi.

Kohn menolak tradisi panjang pemikiran Barat yang merendahkan kodrat manusia yang dimulai dari pandangan pesimis Hobbes tentang hidup yang “brutal dan pendek” hingga Freud yang menganggap anak sebagai makhluk yang sepenuhnya egois.

1. Empati sebagai Perspective-Taking

Kohn mendefinisikan empati sebagai “kapasitas untuk berbagi dalam kehidupan afektif orang lain.” Dalam kisah ini, ketika seorang miskin datang dan berkata bahwa ia kelaparan, keluarga 'Ali tidak sekadar mendengar kata-kata itu. Mereka ikut merasakan penderitaan orang tersebut. Mereka membayangkan diri mereka berada pada posisi yang sama. Inilah yang disebut Kohn sebagai perspective-taking, yaitu kemampuan untuk membayangkan dunia dari sudut pandang orang lain.

Kohn berpendapat bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat secara sadar memilih untuk melihat dunia dari sudut pandang makhluk lain. Dalam kisah ini, keluarga 'Ali tidak hanya berempati kepada satu orang, tetapi kepada tiga orang yang berbeda selama tiga hari berturut-turut: seorang miskin, seorang anak yatim, dan seorang tawanan. Empati mereka tidak terbatas pada satu kelompok tertentu, melainkan bersifat universal.

2. Altruisme Otentik: Menolak Keegoisan Terselubung

Kohn dengan tegas menolak pandangan bahwa altruisme hanyalah bentuk keegoisan yang tersembunyi. Dalam kisah keluarga 'Ali, tidak ada imbalan yang mereka harapkan. Mereka bahkan tidak tahu bahwa perbuatan mereka akan diabadikan dalam Al-Qur'an. Mereka bertindak semata-mata karena dorongan batin untuk meringankan penderitaan orang lain.

Inilah contoh altruisme yang benar-benar tulus.

Apa yang ingin kita lakukan dan apa yang seharusnya kita lakukan, ternyata tidak begitu berjauhan.

— Alfie Kohn, The Brighter Side of Human Nature

3. Kebaikan sebagai Kodrat, Bukan Pengecualian

Kohn menjelaskan bahwa altruisme memang bisa melemah dalam perkembangan individu atau masyarakat, tetapi juga bisa dipulihkan.

Keluarga 'Ali menunjukkan bahwa dalam situasi yang tepat, yaitu kondisi ketika ada pendidikan moral yang kuat dan teladan yang baik, maka altruisme dapat menjadi respons yang spontan, bukan hasil perhitungan untung-rugi.

Kisah ini menjadi bukti awal dalam sejarah Islam tentang apa yang disebut Kohn sebagai the brighter side of human nature, yang berarti sisi terang dari kemanusiaan.

Bagian Tiga

Validasi Saintifik atas Kebaikan Manusia

Jika Kohn membangun argumentasinya dari berbagai sumber di masanya, penelitian-penelitian mutakhir dalam psikologi sosial telah memberikan bukti empiris yang kuat untuk mendukung gagasan tentang empati dan altruisme.

Tiga artikel jurnal Q1 berikut adalah yang paling legendaris dalam tradisi penelitian empati-altruisme.

1. Jurnal 1

Batson dkk. (1988) — Membuktikan Altruisme yang Tulus Ada

Pada masa itu, teori psikologi banyak dipengaruhi pandangan egoisme, yaitu anggapan bahwa semua perilaku manusia pada akhirnya didorong oleh kepentingan diri sendiri.

Untuk menguji pandangan tersebut. Betson dan teamnya melakukan lima eksperimen yang menguji dua kemungkinan motivasi egoistik, yaitu:

1) Empathy-Specific Reward Hypothesis

Orang menolong karena mengaharapkan imbalan tertentu, seperti pujian atau rasa lega.

2) Empathy-Specific Punishment Hypothesis

Orang menolong untuk menghindari konsekuensi negatif, seperti rasa bersalah atau kritik sosial.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis hipotesis egoistik tersebut tidak didukung oleh data. Sebaliknya, temuan penelitian konsisten dengan Empaty-Altruism Hypothesis, yaitu bahwa mampu memunculkan motivasi altruistik yang tulus.

Keluarga 'Ali bertindak tanpa mengharapkan pujian dan tanpa takut celaan. Tindakan mereka adalah altruisme murni yang dibuktikan secara empiris oleh Batson lebih dari 1.300 tahun kemudian.

— Relevansi dengan Kisah Keluarga 'Ali

2. Jurnal 2

Batson dkk. (1995) — Kompleksitas Altruisme dalam Dilema Sosial

Setelah menunjukkan bahwa empati dapat mendorong perilaku altruistik, penelitian berikutnya meneliti dampak empati dalam situasi yang lebih kompleks, yaitu dilema sosial. Penelitian ini menguji apakah empati yang kita rasakan pada satu individu tertentu justru dapat merugikan kepentingan kelompok yang lebih besar.

Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang merasakan empati tinggi terhadap seseorang cenderung memberikan lebih banyak sumber daya kepada individu tersebut, meskipun keputusan tersebut terkadang mengurangi keuntungan kolektif.

Kisah keluarga Ali justru menunjukkan keseimbangan yang jarang terjadi. Mereka tetap menjaga keadilan bagi semua, meskipun empati mereka muncul terhadap individu yang berbeda.

Selama tiga hari berturut-turut, mereka memberi kepada tiga orang yang berbeda, tanpa memprioritaskan satu orang secara berlebihan. Hal ini mencerminkan altruisme yang matang dan adil.

3. Jurnal 3

Sun, Liu & Zhang (2025) — Meta-Analisis Universal

Sebagai penelitian terbaru, studi ini merupakan meta-analisis yang menggabungkan data dari 18 penelitian sebelumnya dengan total 10.633 partisipan.

Tujuannya adalah menilai seberapa kuat hubungan antara empati dan altruisme, serta apakah hubungan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain seperti usia, budaya, atau jenis kelamin.

Hasilnya menunjukkan korelasi positif yang kuat antara empati dan perilaku altruistik. Selain itu, hubungan tersebut tidak banyak dipengaruhi oleh faktor usia, suasana hati, budaya, maupun metode pengukuran.

Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan menolong yang berasal dari empati merupakan fenomena universal yang muncul secara konsisten di berbagai kelompok manusia.

Keluarga Ali hidup pada abad ke-7 di Jazirah Arab, dalam konteks budaya yang sangat berbeda dari masyarakat modern. Namun pola yang sama tetap terlihat: empati mendorong tindakan altruistik.

Sintesis Tiga Perspektif

Ketiga artikel jurnal di atas, jika dibaca bersama dengan karya Kohn dan kisah keluarga 'Ali, menawarkan sintesis yang indah, yaitu sebagai berikut:

Perspektif Sumber Kontribusi Utama

Agama Kisah Keluarga 'Ali (Abad ke-7 M) Menunjukkan altruisme sebagai puncak keimanan, seperti tindakan memberi tanpa pamrih sebagai bentuk ibadah tertinggi

Filsafat Alfie Kohn, The Brighter Side of Human Nature (1990) Membangun argumen filosofis bahwa kebaikan dan altruisme itu alamiah dan sesuai fitrah manusia

Sains (1988) Batson dkk., Journal of Personality and Social Psychology Membuktikan secara eksperimental bahwa altruisme yang tulus ada dan tidak bisa direduksi menjadi keegoisan terselubung

Sains (1995) Batson dkk., Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan kompleksitas altruisme dalam konteks sosial dan dilema kolektif yaitu antara altruisme personal denngan kebaikan kolektif

Sains (2025) Sun, Liu & Zhang, Personality and Individual Differences Memvalidasi universalitas hubungan empati-altruisme melintasi usia, budaya, dan konteks (N=10.633 partisipan)

Dari ketiga sumber, kita dapat membuat satu kesimpulan, yaitu manusia memiliki kapasitas bawaan untuk kebaikan yang tidak egois. Kapasitas ini dapat dipupuk, dikembangkan, dan diekspresikan dalam tindakan-tindakan heroik sehari-hari. (Bersambung)