Antara Kant, Karbala, dan Kematian (Dimensi Filosofis Ali Larijani)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

📌 CATATAN EDITORIAL
Ali Larijani adalah filsuf sekaligus pejuang dan negarawan yang tangguh. Tulisan ini adalah analisis filosofis dan psikologis atas satu dimensi tertentu: bagaimana seorang filsuf menghadapi kematian dengan sadar dan apa yang fenomena itu tunjukkan tentang jiwa manusia dari perspektif Carl Gustav Jung.
Senin Pagi, Sebelum Subuh
Senin, 16 Maret 2026. Dini hari. Di suatu tempat di Tehran yang dirahasiakan, Ali Larijani membuka aplikasi X di teleponnya.
Amerika Serikat baru saja memasang hadiah 10 juta dolar untuk informasi tentang keberadaannya. Khamenei sudah gugur dua minggu sebelumnya. Putranya, Morteza, ada di sampingnya. Larijani tahu betul bahwa ia sedang menjadi target.
Ia mengetik mengetik sebuah kutipan dari Imam Husain, yang mati syahid di Karbala lebih dari tiga belas abad yang lalu:
"Aku tidak melihat kematian kecuali sebagai kebahagiaan, dan tidak melihat kehidupan bersama orang-orang zalim kecuali sebagai kehinaan." — Ali Larijani, X, 16 Maret 2026
Dua hari kemudian, ia gugur sebagai martir dalam serangan udara Israel. Ia syahid.
Pesan yang ia ketik mendekati saat-saat akhir ia gugur merupakan suatu pernyataan filosofis yang padat dan jujur yang pernah ia tulis. Bagi sebagian orang mungkin itu adalah firasat. Atau dalam bahasa Sheldrake, resonanfi morik.
Dan bagi jutaan orang Muslim di Indonesia yang membacanya, sesuatu dalam diri mereka terasa bergetar. Bukan hanya karena simpati. Tapi karena sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, dan lebih universal dari sekadar simpati politik.
Untuk memahami mengapa pesan itu bergema begitu kuat, kita perlu meminjam mata seorang psikiater , saintis sekaligus pemikir besar yang Bernama Carl Gustav Jung.
Seorang Filsuf di Panggung Politik
Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga ulama terkemuka yang berakar di Mazandaran, Iran.
Tapi tidak seperti kebanyakan politisi Iran, Larijani punya jalur akademis yang tidak biasa. Ia menyelesaikan sarjana Matematika dan Ilmu Komputer di Sharif University of Technology — salah satu universitas teknik paling bergengsi di kawasan. Kemudian ia melanjutkan ke Universitas Tehran untuk studi filsafat Barat, dan menulis disertasi doktoralnya tentang Immanuel Kant.
Kant. Bukan sembarang pilihan.
Kant adalah filsuf yang bertanya: apa batas-batas pengetahuan manusia? Apa yang bisa kita ketahui, dan apa yang melampaui kemampuan akal kita? Ia membangun sistem filsafat yang memisahkan antara dunia fenomena — yang bisa diamati — dan dunia noumena — yang transenden, melampaui indra.
Al Jazeera, dalam obituari Larijani, menggambarkannya sebagai 'wajah pragmatis dan tenang dari sistem Iran — seorang pria yang menulis buku tentang Kant dan bernegosiasi soal nuklir dengan Barat.'
Larijani dan Kant: Apa Relevansinya?
Kant membedakan antara tindakan yang dilakukan karena konsekuensinya (instrumental) dan tindakan yang dilakukan karena kewajiban moral yang murni (deontologis). Kutipan Imam Husain yang dipilih Larijani — memilih kematian daripada hidup bersama penindas — persis mencerminkan etika deontologis Kant: ada nilai yang lebih tinggi dari kelangsungan hidup itu sendiri.
Karbala: Arketipe yang Hidup
Jung menemukan sesuatu yang mengejutkan sepanjang karirnya: manusia di seluruh penjuru dunia — dari Amazon hingga Afrika, dari Eropa hingga Asia — secara spontan menghasilkan simbol-simbol yang sama dalam mimpi, mitos, dan seni mereka.
Ia menyebut pola-pola universal ini arketipe — dari bahasa Yunani 'arche' (asal) dan 'typos' (pola). Arketipe adalah cetak biru terdalam dari jiwa kolektif manusia.
Salah satu arketipe yang paling kuat dan paling universal adalah apa yang Jung sebut arketipe Pahlawan yang Gugur — sosok yang memilih mati daripada menyerah pada kejahatan. Socrates minum racun daripada mengingkari keyakinannya. Imam Husain pergi ke Karbala dengan pengetahuan penuh tentang nasibnya. Yesus berjalan ke Golgota.
Bagi masyarakat Muslim — terutama yang memiliki kedekatan dengan tradisi Ahlul Bait Nabi Saw atau yang menghargai narasi perlawanan — kisah Karbala adalah arketipe yang hidup. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah pola jiwa yang terus berulang, terus memanggil, terus bergema.
"Apa yang paling kita hormati bukan kemenangan, melainkan kesediaan untuk kalah demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri." — Carl Gustav Jung, Collected Works Vol. 11
Ketika Larijani mengutip Imam Husain sehari sebelum kematiannya — dalam kondisi nyawa benar-benar terancam, bukan retorika — ia secara sadar menempatkan dirinya dalam pola arketipe itu.
Dan pembaca Indonesia dan dunia yang melihatnya mengenali pola itu. Bukan dengan pikiran. Dengan jiwa.
Resonansi Indonesia: Ketidaksadaran Kolektif Bergetar
Mengapa kematian Larijani — seorang pejabat Iran yang jauh dari keseharian orang Indonesia — memicu begitu banyak ekspresi duka, kekaguman, dan refleksi di media sosial Indonesia?
Jung akan menjawab: karena arketipe tidak mengenal batas negara.
Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dalam ketidaksadaran kolektif komunitas ini — terbentuk oleh berabad-abad tradisi, pesantren, sastra, dan cerita — narasi Karbala sudah lama hadir. Ia ada dalam syair-syair, dalam ratapan, dalam pelajaran agama.
Ketika seseorang di zaman modern mereproduksi pola itu — seorang filsuf, di tengah perang nyata, mengutip Husain sebelum ia mati — ketidaksadaran kolektif itu tersentuh.
Dr. Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta, menulis di Republika segera setelah kematian Larijani:
"Larijani menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup. Ada jenis kehidupan yang justru kehilangan maknanya ketika ia dipertahankan dengan harga yang terlalu mahal — harga kehormatan, harga keadilan, dan harga kebenaran." — Dr. Otong Sulaeman, Republika, 20 Maret 2026
Ini bukan analisis politik. Ini adalah respons jiwa terhadap arketipe yang terpanggil kembali ke permukaan.
Media Islam Indonesia seperti Republika, Suara Muhammadiyah, dan berbagai platform digital meliput kematian Larijani dengan nada yang jauh melampaui sekadar berita. Mereka menulis tentang filsafat, tentang makna kematian, tentang warisan intelektual. Sebuah respons yang menunjukkan bukan sekadar simpati geopolitik, tapi resonansi arketipe yang dalam.
Filsuf yang Mengintegrasikan Kematiannya
Salah satu konsep paling kuat dalam psikologi Jung adalah fungsi transenden — kemampuan jiwa untuk mengintegrasikan dua sisi yang bertentangan menjadi sesuatu yang baru dan lebih utuh.
Larijani hidup dalam ketegangan besar antara dua dunia.
Di satu sisi: dunia filsafat — Kant, rasionalitas, universitas, negosiasi diplomatik, dialog dengan Barat. Di sisi lain: dunia jihad — IRGC, revolusi, perang, komando militer.
Bagi kebanyakan orang, dua dunia itu tidak bisa berjalan berdampingan. Tapi bagi Larijani — paling tidak dalam cara ia memilih untuk mati — keduanya terintegrasi dalam satu kutipan, satu gestur terakhir.
Ia tidak mati sambil berteriak slogan militer. Ia mati sambil mengutip kata-kata Cucu Nabi Saw yang sudah syahid tiga belas abad lalu memahami bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari kelangsungan hidup.
Dalam bahasa Jung, ini adalah ekspresi Self — arketipe tertinggi dari keutuhan jiwa. Bukan ego yang mempertahankan diri. Bukan persona yang mempertahankan citra. Melainkan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa ada makna yang lebih besar dari diri sendiri.
💡 SELF DALAM PSIKOLOGI JUNG
Self adalah arketipe tertinggi — pusat dan totalitas jiwa yang mencakup sadar dan tak sadar. Ketika ego berhenti menjadi pusat dan berserah pada sesuatu yang lebih besar, Jung menyebut ini sebagai momen individuasi yang dalam. Dalam tradisi spiritual, momen ini sering bertepatan dengan kesiapan menghadapi kematian.
Di Mana Kant Bertemu Jung
Ada ironi yang indah di sini.
Kant membangun filsafatnya di atas pemisahan yang tegas antara dunia yang bisa diketahui akal (fenomena) dan dunia yang melampaui akal (noumena). Tuhan, jiwa, dan kebebasan — bagi Kant — tidak bisa dibuktikan oleh akal murni, tapi bisa diyakini sebagai postulat akal praktis.
Jung, dua abad kemudian, melangkah lebih jauh. Ia berkata: dunia noumena itu bukan abstraksi. Ia hadir nyata dalam jiwa manusia, dalam bentuk arketipe, simbol, dan pengalaman transenden.
Larijani, yang menulis disertasi tentang Kant, tampaknya sudah lama bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan itu: apa yang melampaui akal? Apa yang lebih nyata dari fakta empiris? Apakah ada nilai yang transenden?
Jawaban terakhirnya bukan sebuah argumen filosofis. Ia adalah sebuah tindakan.
Dan tindakan itu berbicara lebih keras dari ribuan halaman disertasi.
"Kita tidak mengetahui dalam-dalamnya, melainkan melalui simbol. Simbol adalah cara terbaik manusia mengekspresikan sesuatu yang belum bisa sepenuhnya dipahami." — Carl Gustav Jung, Psychological Types
Pertanyaan untuk Indonesia
Pertanyaannya untuk kita di Indonesia adalah: ketika kita merespons kematian Larijani dengan kekaguman, apakah kita sedang memproyeksikan fantasi tentang pemimpin ideal yang berani mati? Atau kita benar-benar mengakui sesuatu yang nyata — bahwa ia memang menghadapi kematiannya dengan cara yang filosofis dan bermakna?
Jawabannya mungkin: keduanya sekaligus. Dan itulah yang membuat fenomena ini layak direnungkan — bukan disederhanakan menjadi heroisme buta atau sinisme total.
Jung akan berkata: perhatikan apa yang bergetar dalam dirimu ketika kamu membaca kutipan Imam Husain itu. Bukan untuk menghakimi dirimu. Tapi untuk memahami apa yang sesungguhnya kamu rindukan.
Kerinduan itu lebih tua dari Larijani. Lebih tua dari Karbala. Ia adalah kerinduan jiwa manusia akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Akan makna yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa dirampas.
Epilog: Di Teheran, Seorang Filsuf Memilih
Jumat, 13 Maret 2026. Empat hari sebelum kematiannya.
Di tengah perang yang berkecamuk, Ali Larijani hadir di pawai Hari al-Quds di Teheran. Fotonya beredar luas di media sosial Indonesia — ia berdiri tegak, mengenakan jubah hitam, di antara kerumunan.
Ia tahu namanya ada dalam daftar target. Ia tahu 10 juta dolar sudah ditawarkan untuk keberadaannya. Ia tahu Khamenei sudah gugur. Ia tahu apa yang mungkin menanti.
Tapi ia hadir.
Tiga hari kemudian, ia memposting kutipan Imam Husain tentang kematian sebagai kebahagiaan.
Dua hari setelahnya, ia mati bersama putranya dalam serangan udara.
Jung pernah menulis bahwa kita tidak bisa sepenuhnya memahami orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah memahami apa yang mereka panggil dari kedalaman kita sendiri.
Dan kutipan Imam Husain itu — yang ditulis oleh seorang filsuf Kant di dini hari sebelum kematiannya — memanggil sesuatu yang sudah lama tidur dalam jiwa kolektif kita.
Sesuatu yang berkata: ada hal-hal yang lebih penting dari keselamatan diri.
Larijani mengingatkan kita semua , dengan kesiapannya menyambut kesyahidan bahkan bersama dengan anaknya, ada hal-hal yang lebih penting dari keselamatan diri. Tetap hidup di dunia ini dengan biaya atau ongkos mentoleransi kezaliman merajalela di muka bumi adalah kehinaan. Adalah tidak ada harganya sama sekali. Dan mati dalam perjuangan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan, demi perkhidmatan pada sesama , adalah kebahagiaan. Adalah sangat bernilai. Bahkan lebih bernilai ketimbang hidup itu sendiri.
Dan itulah mengapa, pagi itu di Indonesia, begitu banyak orang terbangun dengan hati yang berat. Mereka menangis, sembari melihat Larijani seolah mimpi, dan kemudian melihat ke dalam diri sendiri sambil bertanya pada diri sendiri, “ Sudahkah kau terjaga dari tidur panjangmu?”
"Siapa yang melihat ke luar, bermimpi. Siapa yang melihat ke dalam, terjaga." — Carl Gustav Jung (**)
REFERENSI
[1] Al Jazeera. (2026, 18 Maret). 'Who was Ali Larijani, Iran's philosopher-security chief killed by Israel?' https://www.aljazeera.com/features/2026/3/3/who-is-ali-larijani-the-iranian-official-promising-a-lesson-to-the-us
[2] Sulaeman, O. (2026, 20 Maret). 'Syahidnya Ali Larijani, Jalan Kebahagiaan dan Suluk Filsafat yang Melekat.' Republika Online. https://khazanah.republika.co.id/berita/tc7est320/syahidnya-ali-larijani-jalan-kebahagian-dan-suluk-filsafat-yang-melekat
[3] DariMedia.id. (2026, 18 Maret). 'Pesan Larijani Sebelum Menjemput Syahid.' https://www.darimedia.id/pesan-larijani-sebelum-menjemput-syahid/
[4] Wikipedia. (2026). 'Ali Larijani.' Termasuk dokumen dari UN, Human Rights Watch, dan laporan SNSC. https://en.wikipedia.org/wiki/Ali_Larijani
[5] Suara Muhammadiyah. (2026, Maret). 'Duka Ramadan: Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei.' https://www.suaramuhammadiyah.id/read/duka-ramadan-wafatnya-ayatullah-ali-khamenei
[6] Parlan, H. (2026, Maret). 'Duka Ramadan: Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei.' Suara Muhammadiyah. https://www.suaramuhammadiyah.id/read/duka-ramadan-wafatnya-ayatullah-ali-khamenei
[7] Jung, C.G. (1963). Memories, Dreams, Reflections. Pantheon Books.
[8] Jung, C.G. (1921). Psychological Types. Collected Works Vol. 6. Princeton University Press.
[9] Jung, C.G. (1938/1940). Psychology and Religion. Collected Works Vol. 11. Princeton University Press.
[10] HarianIndonesia.id. (2026, 13 Maret). 'Percakapan Terakhir antara Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan Ali Larijani sebelum Syahid.' [Catatan: sumber ini bersifat naratif, keaslian dialog tidak terverifikasi independen] https://www.harianindonesia.id/berita-utama/percakapan-terakhir-antara-ayatullah-sayyid-ali-khamenei-dan-ali-larijani-sebelum-syahid.html
[11] Bloomberg. (2026, Januari). 'How Iran Supreme Leader Khamenei's Son Built a Global Property Empire.' https://www.bloomberg.com/news/features/2026-01-28/how-iran-supreme-leader-khamenei-s-son-built-a-global-property-empire
─────────────────────
GLOSARIUM
Arketipe (Archetype)
Pola-pola jiwa universal yang ada dalam ketidaksadaran kolektif seluruh umat manusia. Arketipe tidak bisa dilihat langsung — ia muncul melalui simbol, mimpi, mitos, dan karya seni. Contoh: Pahlawan yang Gugur, Ibu, Orang Bijak, Bayangan.
Bayangan (Shadow)
Arketipe yang mewakili sisi diri yang kita tolak, sembunyikan, atau tidak kita akui. Semakin ditekan, semakin kuat ia bekerja dari balik layar — melalui proyeksi kepada orang lain atau ledakan yang tidak terkontrol.
Deontologi (Deontological Ethics)
Aliran etika yang berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh kewajiban atau prinsip moral yang inheren — bukan oleh konsekuensinya. Kant adalah filsuf deontologi paling berpengaruh: tindakan moral dilakukan karena kewajiban, bukan karena keuntungan.
Fungsi Transenden (Transcendent Function)
Kemampuan jiwa untuk mengintegrasikan dua sisi yang bertentangan — sadar dan tak sadar, terang dan gelap — menjadi sikap atau pandangan baru yang lebih utuh. Ini adalah mekanisme utama pertumbuhan psikologis dalam teori Jung.
Individuasi (Individuation)
Proses seumur hidup menuju keutuhan jiwa yang autentik — mengintegrasikan semua aspek diri, termasuk Bayangan. Bukan menjadi sempurna, melainkan menjadi utuh dan jujur pada diri sendiri. Tujuan tertinggi perkembangan psikologis menurut Jung.
Ketidaksadaran Kolektif (Collective Unconscious)
Lapisan terdalam jiwa yang bersifat universal — dibagi oleh seluruh umat manusia, berisi arketipe-arketipe yang terbentuk dari jutaan tahun evolusi dan sejarah manusia bersama. Konsep orisinal terbesar Jung, berbeda dari ketidaksadaran personal Freud.
Noumena
Istilah dari filsafat Kant untuk realitas yang melampaui kemampuan indra dan akal manusia untuk mengetahuinya secara langsung. Berbeda dari fenomena (yang bisa diamati). Tuhan, jiwa, dan kebebasan adalah contoh noumena — tidak bisa dibuktikan akal murni, tapi bisa diyakini.
Proyeksi (Projection)
Mekanisme psikologis di mana kita memindahkan kualitas internal kita — terutama dari Bayangan atau keinginan yang tidak terpenuhi — ke orang atau situasi luar. Dalam konteks politik, proyeksi bisa membuat kita mengidolakan tokoh luar sebagai wujud dari nilai-nilai yang kita rindukan dalam pemimpin kita sendiri.
Self (Diri Sejati)
Arketipe tertinggi dalam psikologi Jung — pusat dan totalitas jiwa yang mencakup sadar dan tak sadar, terang dan gelap. Berbeda dari ego (pusat kesadaran semata). Self muncul ketika seseorang berhasil mengintegrasikan semua aspek dirinya — dan sering dikaitkan Jung dengan pengalaman tentang yang Ilahi.
Syahid
Dalam tradisi Islam: mereka yang gugur di jalan kebenaran atau dalam pembelaan agama. Akar kata Arab 'syahida' berarti 'menjadi saksi'. Seorang syahid diyakini bukan hanya mati, melainkan menjadi saksi kebenaran dengan taruhan jiwa. Konsep ini memiliki resonansi arketipe yang kuat lintas budaya Muslim.
─────────────────────
Artikel ini ditulis untuk kolom Filsafat Sains, Kumparan.com. Seluruh referensi berisi tautan publik yang dapat diakses.
