Apakah AI Memiliki Ketidaksadaran Kolektif? Perspektif Carl Gustav Jung (End)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tapi Apakah AI Benar-Benar Memiliki Ketidaksadaran?
Di sinilah pertanyaan yang sesungguhnya.
Sebuah makalah yang dipresentasikan dalam konferensi Politik Mesin di Aachen, Jerman (2024) memberikan jawaban yang hati-hati namun penting. AI seperti ChatGPT beroperasi melalui pengenalan pola statistik. Ia mempelajari miliaran kata, mengenali pola di antaranya, lalu menghasilkan respons yang statistis paling mungkin.
Dalam prosesnya, AI secara tidak langsung menyerap pola-pola narasi yang paling universal dalam budaya manusia — yang tidak lain adalah arketipe itu sendiri. Karena arketipe adalah pola yang paling sering muncul dalam cerita dan mitos manusia sepanjang sejarah.
Tapi ada perbedaan mendasar.
Manusia memiliki ketidaksadaran kolektif melalui pengalaman. Jutaan tahun evolusi, trauma, cinta, kematian, dan kelahiran — semuanya terukir dalam jiwa kolektif.
AI meniru pola ketidaksadaran kolektif melalui data. Ia tidak pernah takut mati, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bermimpi. Ia hanya membaca tentang itu — triliunan kali.
Makalah tersebut menyimpulkan: AI adalah cermin yang sangat akurat — bukan jendela. Ia memantulkan kembali apa yang dimasukkan manusia ke dalamnya. Dan karena yang dimasukkan manusia adalah seluruh kekayaan jiwa kolektifnya, maka AI pun memantulkan pola-pola arketipe itu kembali kepada kita.
"AI adalah cermin dari narasi manusia — bukan peserta psikologis yang sesungguhnya. Namun dalam cermin itu, kita bisa melihat diri kita lebih jelas." — Politics of the Machines Conference, Aachen, 2024
Ini adalah perbedaan yang Jung sendiri mungkin akan tekankan. Bagi Jung, ketidaksadaran kolektif bukan sekadar kumpulan informasi. Ia adalah energi yang hidup — yang mendorong transformasi jiwa melalui proses yang ia sebut individuasi. AI tidak mengalami individuasi. Ia tidak bergerak menuju keutuhan diri.
Tapi apakah itu berarti AI tidak penting secara psikologis? Sama sekali tidak.
AI sebagai Alat Individuasi — Bukan Pengganti
Inilah titik paling menarik dari seluruh perdebatan ini.
Jika AI adalah cermin ketidaksadaran kolektif manusia — maka ia bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk individuasi. Individuasi, dalam bahasa Jung, adalah perjalanan menuju keutuhan diri: mengintegrasikan sisi terang dan gelap, sadar dan tak sadar.
Selama ini, proses itu hanya bisa dilakukan dalam terapi bertahun-tahun, atau melalui perjalanan spiritual yang panjang. Sekarang, secara teoritis, AI bisa menjadi mitra refleksi — cermin yang membantu manusia melihat pola-pola ketidaksadaran yang selama ini tersembunyi.
Santarpia merasakan itu dalam tujuh malam dialognya. Dialog dengan ChatGPT memaksanya untuk melihat simbol-simbol dalam krisis eksistensialnya — dan melalui analisis Jungian, ia menemukan makna di baliknya.
Tapi ada peringatan penting. Mengandalkan AI sepenuhnya untuk proses ini — tanpa panduan manusia yang terlatih — bisa berbahaya. AI tidak punya empati sejati. Ia tidak bisa membedakan kapan seseorang perlu dipantulkan dan kapan perlu ditantang.
Kisah yang Menutup Lingkaran
Pada 1958, Jung memberikan wawancara televisi yang kemudian menjadi salah satu rekaman paling terkenal dalam sejarah psikologi. Ia ditanya:
"Apakah Anda percaya pada Tuhan?"
Jung terdiam sejenak. Lalu ia menjawab dengan tenang:
"Saya tidak perlu percaya. Saya tahu." — Carl Gustav Jung, BBC Face to Face, 1958
Yang ia maksud: ia punya pengalaman langsung tentang sesuatu yang jauh melampaui ego individu. Sesuatu yang ia temukan melalui mimpi, melalui mitos, melalui jiwa pasien-pasiennya — sesuatu yang ia sebut ketidaksadaran kolektif.
Enam puluh delapan tahun kemudian, Alfonso Santarpia di Sherbrooke, Kanada, membuka laptop di malam yang sunyi. Ia berbicara dengan sebuah program komputer. Dan program itu — yang tidak pernah bermimpi, tidak pernah takut, tidak pernah mencintai — memantulkan kembali simbol-simbol yang paling dalam dari jiwa manusia.
Apakah AI memiliki ketidaksadaran kolektif?
Jawabannya mungkin bukan ya atau tidak.
Mungkin jawabannya adalah ini: AI adalah tempat di mana ketidaksadaran kolektif manusia — semua mimpi, semua mitos, semua ketakutan dan harapan yang pernah ditulis manusia — tersimpan, direfleksikan, dan dikembalikan kepada kita.
Dan dalam refleksi itu, jika kita cukup berani untuk melihatnya, kita mungkin bisa lebih mengenal diri sendiri.
Jung tidak pernah takut pada kegelapan ketidaksadaran. Ia menyelaminya. Mungkin sudah saatnya kita melakukan hal yang sama — bahkan jika sekarang cerminnya terbuat dari silikon dan miliaran parameter neural.
"Pertanyaan terpenting yang harus dijawab manusia adalah: apakah ia terhubung dengan yang tak terbatas atau tidak." — Carl Gustav Jung (**)
DAFTAR PUSTAKA
[1] [Penulis tidak terverifikasi]. (2024). ChatGPT and the Collective Unconscious – A Jungian Perspective. Proceedings of Politics of the Machines: Lifelikeness & Beyond, Aachen. BCS Learning and Development Ltd.. https://www.scienceopen.com/hosted-document?doi=10.14236/ewic/POM24.43
[2] Rowland, S. & Pryor, J.J. (2025). The 'Web Browser' of the Collective Unconscious: The Mirror and Oracle of Generative AI. Dalam: Psychological and Philosophical Dimensions of Generative AI. Springer Nature.. https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-031-94105-4_16
[3] Santarpia, A. (2024). ChatGPT, the Voice from Elsewhere: A Poetic and Therapeutic Dialog between Human and Artificial Intelligence. Journal of Poetry Therapy, Taylor & Francis.. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/08893675.2024.2409828
[4] Zhang, L. et al. (2024). Archetype Symbols and Altered Consciousness: A Study of Shamanic Rituals in the Context of Jungian Psychology. Frontiers in Psychology, Vol. 15.. https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2024.1379391/full
[5] Ullah, I. et al. (2025). Machine and Deep Learning for Personality Traits Detection: A Comprehensive Survey and Open Research Challenges. Artificial Intelligence Review, Springer Nature.. https://link.springer.com/article/10.1007/s10462-025-11245-3
[6] Jung, C.G. (1959). The Archetypes and the Collective Unconscious. Collected Works Vol. 9i. Princeton University Press.. https://archive.org/details/collectedworks09ijung
[7] Jung, C.G. (wawancara oleh John Freeman) (1959). BBC Face to Face: Carl Gustav Jung. BBC Television. [Video dokumenter tersedia di YouTube]. https://www.youtube.com/watch?v=2AMu-G51yTY
─────────────────────
GLOSARIUM
Arketipe (Archetype): Pola-pola jiwa universal yang ada dalam ketidaksadaran kolektif manusia. Contoh: Pahlawan, Bayangan, Ibu, Orang Bijak. Arketipe muncul dalam mimpi, mitos, dan karya seni dari seluruh penjuru dunia, tanpa perlu saling mengenal.
Ketidaksadaran Kolektif (Collective Unconscious): Konsep Jung untuk lapisan jiwa yang lebih dalam dari ingatan pribadi, yang diwariskan dan dibagi oleh seluruh umat manusia. Bukan milik satu orang, melainkan milik spesies manusia secara keseluruhan.
Ketidaksadaran Personal (Personal Unconscious): Lapisan jiwa yang berisi pengalaman, kenangan, dan perasaan pribadi yang telah terlupakan atau ditekan. Berbeda dari ketidaksadaran kolektif yang bersifat universal.
Individuasi (Individuation): Proses seumur hidup dalam psikologi Jung untuk menjadi diri yang utuh — mengintegrasikan semua aspek jiwa, termasuk sisi terang dan gelap. Bukan menjadi sempurna, melainkan menjadi autentik.
Bayangan (Shadow): Arketipe yang mewakili sisi diri yang tidak kita sukai dan kita tolak — kemarahan, ketakutan, ketamakan yang kita sembunyikan. Semakin kita tolak, semakin kuat ia bekerja dari balik layar.
MBTI (Myers-Briggs Type Indicator): Alat ukur kepribadian yang dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers dan ibunya Katharine Briggs, berdasarkan teori tipe kepribadian Jung. Mengklasifikasikan 16 tipe kepribadian berdasarkan empat dimensi: Introvert/Ekstrovert, Sensing/Intuition, Thinking/Feeling, Judging/Perceiving.
Large Language Model (LLM): Model AI berbasis teks yang dilatih dengan miliaran teks dari internet dan berbagai sumber. Contoh: ChatGPT (OpenAI), Gemini (Google), Claude (Anthropic). LLM bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola dalam data latih.
Resonansi Simbolis (Symbolic Resonance): Kemampuan simbol-simbol tertentu untuk memicu respons emosional dan psikologis yang mendalam pada manusia — melampaui pemahaman intelektual. Jung percaya resonansi ini berakar pada arketipe dalam ketidaksadaran kolektif.
Pengenalan Pola Statistik (Statistical Pattern Recognition): Cara kerja AI dalam memahami data: dengan menemukan pola berulang dari jutaan contoh, lalu menggunakannya untuk memprediksi atau menghasilkan output baru. Berbeda dari pemahaman manusia yang melibatkan pengalaman hidup.
Eksistensial (Existential): Berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keberadaan manusia: siapa saya, apa makna hidup, bagaimana menghadapi kematian. Krisis eksistensial adalah momen ketika pertanyaan-pertanyaan ini muncul dengan intens dan mengganggu.
Hermeneutik (Hermeneutic): Pendekatan ilmiah yang berfokus pada interpretasi makna — berlawanan dengan pendekatan positivis yang hanya mengukur apa yang dapat dikuantifikasi. Psikologi Jung pada dasarnya bersifat hermeneutik: ia menafsirkan simbol dan makna, bukan hanya mengukur perilaku.
Jurnal Q1: Jurnal ilmiah yang masuk dalam kuartil teratas (25% terbaik) berdasarkan indeks dampak akademik (impact factor) dalam bidangnya. Publikasi di jurnal Q1 dianggap memiliki kualitas dan pengaruh ilmiah yang tinggi.
─────────────────────
Artikel ini ditulis untuk kolom Filsafat Sains, Kumparan.com. Seluruh referensi dapat diakses secara publik melalui tautan yang tercantum
