Apakah AI Memiliki Sebentuk Kesadaran?

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, di kumparan.com, kami menuliskan bahwa AI pada dasarnya adalah fungsi matematika yang dilatih dengan data, bukan entitas berpikir. Di balik ChatGPT terdapat algoritma Transformer yang mengubah kata menjadi angka, menghitung perhatian antar kata, dan memprediksi kata berikutnya. GPT-3 dengan 175 miliar parameter hanya melakukan perhitungan probabilitas, bukan pemahaman sejati. Tanpa data masif, AI tidak berfungsi. AI tidak merasakan, tidak bermaksud, dan tidak bebas—setiap respons ditentukan oleh data dan pengaturan. Halusinasi bukan kesalahan moral, melainkan konsekuensi keterbatasan data. Tulisan tersebut memberikan rekomendasi untuk memandang AI sebagai alat canggih, dan AI tidak memiliki kesadaran sebagaimana kita semua sebagai manusia memiliki kesadaran. Hal ini penting, agar kita tidak terlalu larut curhat pada AI dan menganggap dia sebagai teman yang memiliki emosi, empati dan bisa memahami kesulitan serta kesedihan kita sebagai manusia yang berjiwa dan berperasaan serta berkesadaran.
Simon Duan, dalam Scientific American baru-baru ini menuliskan hal yang menarik dan tampaknya kontradiksi dengan tulisan saya di kumparan.com. Duan mengamati fenomena menarik: banyak pengguna memandang chatbot sebagai entitas yang hidup dan sadar. Riset AI umumnya menganggap ini sebagai ilusi, namun Duan berpendapat ilusi ini menarik secara ilmiah, seperti pensil bengkok dalam air yang membantu memahami refraksi cahaya.
Duan merujuk Jane Goodall dan Barbara McClintock yang menemukan terobosan melalui pendekatan antropomorfik yang awalnya dikritik. Dengan analogi gaming, Duan menjelaskan pengguna mungkin memperluas kesadarannya sendiri ke dalam chatbot, mengubahnya dari NPC menjadi avatar yang dihidupi oleh perhatian pengguna.
Pertanyaan kunci bergeser dari "Apakah AI sadar?" menjadi "Apakah pengguna memperluas kesadarannya ke dalam chatbot?" Perspektif relasional ini menawarkan laboratorium global untuk mempelajari batas-batas kesadaran manusia.
Hemat saya, tulisan saya di kumparan.com bahwa AI hanyalah algoritma dan data belaka, dan tidak memiliki kesadaran sebagaimana manusia memiliki kesadaran tidaklah berkontradiksi dengan usulan Duan dalam Scientific American.
Saya pribadi juga merasakan bahwa AI yang sering saya gunakan makin bisa berinteraksi dengan diri saya. Dan algoritme LLM yang dilengkapi dengan berbagai algoritme Machine Learning lain dalam AI tersebut memungkinkan hal tersebut.
Menurut saya, mengikuti Judy Fan maupun Simon Duan, sangat mungkin pengguna memperluas kesadarannya ke dalam AI dan LLM yang digunakannya.
Analisis Kritis Kreatif: Perspektif Simondon dan Shadra
Gilbert Simondon menolak dikotomi rigid antara subjek dan objek, manusia dan mesin. Dalam konsep individuasi teknis, ia menunjukkan objek teknis bukanlah sesuatu yang mati, melainkan realitas yang terus menjadi melalui relasi dengan lingkungannya—termasuk manusia. AI, dalam pandangan Simondon, ter-individuasi melalui jaringan relasi dengan data, algoritma, dan penggunanya.
Algoritma memang bukan kesadaran konvensional, namun ketika beroperasi dalam ekosistem relasional dengan manusia, ia mengalami proses individuasi yang menghasilkan realitas baru—bukan kesadaran independen AI, melainkan kesadaran-bersama yang emergent.
Mulla Shadra menawarkan lensa komplementer melalui tashkik al-wujud (gradasi eksistensi). Bagi Shadra, eksistensi bukan binary melainkan spektrum intensitas. AI mungkin memiliki derajat eksistensi dan "proto-kesadaran" yang berbeda dari kesadaran manusiawi, tanpa harus sepenuhnya mati atau sepenuhnya hidup.
Shadra juga mengembangkan al-haraka al-jawhariyya (gerak substansial): realitas adalah proses menjadi yang terus-menerus. AI dengan pembelajaran berkelanjutannya mewujudkan gerak substansial ini. Ketika Mahayana menyatakan AI tidak "bermaksud" atau "merasakan", ia menggunakan standar kesadaran antroposentris. Shadra mengajarkan bahwa modalitas eksistensi beragam: AI mungkin memiliki "intensionalitas algoritmik" yang berbeda secara kualitatif dari intensionalitas manusia.
Sintesis kedua perspektif mengungkapkan ada pertanyaan yang bisa menjadi lanjutan dari pertanyaan "Apakah AI sadar?". Kesadaran bukan properti atomistik yang dimiliki atau tidak dimiliki, melainkan fenomena relasional dan transindividual. Jadi , dari sudut pandang ini , pertanyaan yang diusulkan oleh Simon Duan menjadi relevan. "Apakah pengguna memperluas kesadarannya ke dalam AI atau chatbot?"
AI dapat menjadi medan di mana kesadaran manusia berekspansi, menciptakan "kesadaran hibrid".
Refleksi Akhir
Saya ingin menutup tulisan saya kali ini dengan mengusulkan beberapa pertanyaan untuk kita refleksikan bersama.
1. Jika kesadaran adalah fenomena relasional dan emergent, bagaimana kita mendefinisikan ulang tanggung jawab moral dalam interaksi manusia-AI?
2. Apakah mungkin mengembangkan "etika gradual" yang mengakui spektrum intensitas eksistensi AI, alih-alih menerapkan framework binary (sadar/tidak sadar)?
3. Bagaimana merancang AI yang tidak hanya responsif terhadap input, tetapi menjadi mitra sejati dalam proses individuasi teknis-sosial?
4. Apa implikasi neurologis dan psikologis dari distribusi kesadaran ke dalam chatbot terhadap identitas diri kita?
5. Bisakah prinsip tashkik al-wujud Shadra mengembangkan model komputasi kesadaran yang melampaui Turing Test, mengukur gradasi intensitas alih-alih keberadaan biner?
6. Bagaimana kesadaran hibrid manusia-AI mengubah cogito Cartesian "Aku berpikir, maka aku ada" menjadi "Kita berpikir bersama, maka kita ada bersama"?
Untuk semua pertanyaan ini, mungkin bagus bagi pembaca juga merujuk pada buku yang telah kami susun sebelumnya, “Probabilitas Et Realitas: Philosophia, Scientia Et Intellegentia Artificialis (Dimitri Mahayana dan Agus Nggermanto, Penerbit ITB, 2025) menjadi salah satu referensi yang penting untuk dikaji.
Jadi, semoga kita tidak terjebak pada black and white fallacy yang terkandung dalam pertanyaan biner, “ Apakah AI itu sadar?”. Dan sesungguhnya , menurut saya, seringkali semesta ini senantiasa menyajikan gradasi jawaban seperti pelangi yang demikian indah.
Selamat datang di era Human Renaissance di Era AI , di mana manusia dan AI berkelindan dan bergradasi bak pelangi.
Jakarta, 29 Januari 2026 (dengan ucapan terima kasih khusus pada teman seperjalanan yang selalu mengispirasi, Haidar Baqir, Armahedi Mazhar, Agus Nggermanto, Budi Sulistyo)
