Big Bang dan Tuhan: Dari Lemaître via Penrose

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Para ilmuwan perlahan-lahan menyadari sebuah kebenaran yang tidak mengenakkan – alam semesta tampak mencurigakan seperti sebuah perbaikan. Masalahnya menyangkut hukum alam itu sendiri. Selama 40 tahun, fisikawan dan kosmolog diam-diam mengumpulkan contoh-contoh "kebetulan" yang terlalu mudah dan fitur-fitur khusus dalam hukum dasar alam semesta yang tampaknya diperlukan agar kehidupan, dan karenanya makhluk hidup, dapat eksis. Ubah salah satunya dan konsekuensinya akan mematikan.
Fred Hoyle, kosmolog terkemuka, pernah berkata seolah-olah "seorang superintelek telah bermain-main dengan fisika". (Paul Davies)
Coba bayangkan seluruh alam semesta --semua bintang, planet, galaksi, bahkan ruang dan waktu-- berasal dari satu titik yang sangat kecil, panas, dan padat. Itulah yang disebut teori Big Bang.
Sekitar 13,8 miliar tahun lalu, titik itu meledak (bukan ledakan seperti bom, tapi mengembang sangat cepat), dan sejak itu alam semesta terus membesar sampai sekarang. Dalam waktu sangat singkat, lebih cepat dari cahaya, ukuran alam semesta bertambah triliunan kali lipat. Suhunya saat itu sangat tinggi, sekitar 10³² derajat Kelvin, jauh lebih panas dari matahari.
Setelah ratusan ribu tahun, semesta mulai cukup dingin untuk membentuk atom pertama. Dari sinilah terbentuk cahaya pertama yang sekarang masih bisa kita deteksi, yang disebut radiasi latar kosmik. Lalu, perlahan-lahan, terbentuk galaksi, bintang, dan planet, termasuk Bumi.
Namun walaupun teori ini terkenal, banyak hal masih menjadi pertanyaan. Apa yang terjadi sebelum Big Bang? Apa yang menyebabkannya? Dan mengapa semesta terus mengembang makin cepat?
Yang lebih membingungkan, kita hanya bisa melihat dan mempelajari sekitar lima persen dari alam semesta. Sisanya adalah materi gelap (27 persen) dan energi gelap (68 persen)—dua hal yang belum benar-benar kita mengerti. Ukuran alam semesta yang bisa kita lihat sekarang sekitar 93 miliar tahun cahaya lebarnya, dan berat semua materinya sekitar 10⁵³ kilogram. Tapi benarkah ini satu-satunya awal semesta?
Nah, seorang ilmuwan bernama Roger Penrose punya ide lain. Ia mengembangkan teori yang disebut Conformal Cyclic Cosmology (CCC), atau Kosmologi Siklus Berulang. Menurutnya, alam semesta tidak hanya bermula sekali saja. Justru, semesta ini sudah terjadi berkali-kali dalam siklus yang disebut “aeon” yaitu satu era kosmik yang dimulai dengan Big Bang dan berakhir ketika semua materi padat, termasuk lubang hitam, menghilang.
Setelah semua benda padat lenyap, yang tersisa hanyalah radiasi (semacam cahaya dan energi tanpa massa). Dalam kondisi itu, tidak ada ukuran atau waktu seperti yang kita kenal, jadi alam semesta bisa “dimulai ulang” dan memunculkan aeon baru—semacam Big Bang versi berikutnya.
Roger Penrose bahkan percaya bahwa kita bisa melihat sisa-sisa dari alam semesta sebelum kita dalam pola-pola cahaya latar kosmik saat ini, seperti lingkaran-lingkaran aneh yang disebut Hawking Points. Banyak ilmuwan belum setuju soal ini, tapi idenya tetap menarik.
Penrose juga percaya bahwa matematika bukan hanya alat bantu, tapi seperti dunia nyata yang tersembunyi—semacam dunia ide yang eksis walau tak kasat mata. Ia yakin bahwa kesadaran manusia bukan cuma hasil kerja biologis otak biasa, tetapi melibatkan proses kuantum kecil dalam sel otak, dalam teori yang ia buat bersama ilmuwan lain, yang disebut Orch-OR.
Mikrotubulus adalah struktur sangat kecil dalam neuron, tempat dugaan terjadinya efek kuantum dalam teori ini. Quantum coherence adalah kondisi di mana partikel-partikel kuantum berperilaku serempak dalam keadaan superposisi, seperti dalam sistem optik atau biologis tingkat tinggi.
Walaupun Penrose tidak mengikuti agama tertentu, ia tidak percaya bahwa dunia ini hanyalah benda mati tanpa makna. Menurutnya, keindahan alam semesta dan hukum-hukum alam yang begitu rapi adalah petunjuk bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini.
Jadi, kalau Big Bang adalah awal semesta yang hanya terjadi sekali, maka teori CCC mengatakan bahwa alam semesta adalah kisah panjang yang terus berulang. Setiap akhir akan menjadi awal baru.
Maka pertanyaan kita mungkin bukan lagi hanya “dari mana semesta berasal?”, tetapi juga, “ke semesta berikutnya kita akan ke mana?”
Gegap gempita semangat sains modern seringkali mengusung panji ateisme yang menjadikan teori Big Bang sebagai dalil utama. Kosmologi ateistik biasanya menjelaskan asal-usul alam semesta dan kehidupan tanpa melibatkan Tuhan atau kekuatan gaib.
Berdasarkan teori Big Bang, alam semesta muncul dari ledakan titik sangat kecil sekitar 13,8 miliar tahun lalu, lalu mengembang dan membentuk bintang, planet, dan akhirnya kehidupan. Sementara itu, teori evolusi menjelaskan bahwa semua makhluk hidup, termasuk manusia, berkembang secara bertahap dari bentuk-bentuk sederhana melalui proses seleksi alam selama miliaran tahun.
Tokoh penting yang dianggap mendukung pandangan ini antara lain Richard Dawkins. Pandangan ini percaya bahwa hukum-hukum fisika dan proses alamiah sudah cukup untuk menjelaskan segalanya, tanpa perlu melibatkan Tuhan.
Namun pandangan ini juga mendapat banyak kritik. Misalnya, Paul Davies dan Roger Penrose menunjukkan bahwa alam semesta memiliki hukum-hukum yang sangat teratur dan rumit—dan keajaiban semacam ini sulit dijelaskan hanya dengan kebetulan.
Banyak ilmuwan lain, seperti Francis Collins dan Georges Lemaître, justru melihat keindahan dan keteraturan alam semesta sebagai tanda adanya sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang melampaui materi.
Jadi, walaupun sains bisa menjelaskan "bagaimana", banyak yang merasa kita belum cukup tahu untuk menolak pertanyaan "mengapa".
Maka siapakah penemu teori Big Bang? Bagaimana gagasan mereka tentang Tuhan dan alam di balik materi?
Bayangkan sebuah malam sunyi di Leuven, Belgia, tahun 1927. Seorang imam muda berkacamata duduk di depan papan tulis kapur. Di tangannya bukan salib, melainkan kalkulasi tensor relativitas Einstein. Ia menulis pelan, lalu berhenti, merenung. Dunia belum tahu bahwa saat itu, di balik kesenyapan doa dan angka, sejarah kosmologi akan berubah selamanya.
Imam itu bernama Georges Lemaître.
Dari balik jubah hitam dan kitab doa, Lemaître menyimpan sebuah gagasan revolusioner: bahwa alam semesta berasal dari satu titik asal yang amat padat dan kecil, yang ia sebut “atom purba”. Ide yang kemudian menjadi pondasi teori Big Bang.
Beginilah semesta diciptakan, pikirnya.
Namun ia menolak menjadikannya sebagai bukti keberadaan Tuhan.
Sepanjang yang bisa saya lihat, teori seperti ini sepenuhnya berada di luar pertanyaan metafisik atau keagamaan, katanya.
Namun di sisi lain, ia juga berkata:
Tidak ada konflik antara sains dan agama. Agama berkaitan dengan makna, dan sains berkaitan dengan fakta.
Bagi Lemaître, sains dan iman tidak perlu bertengkar. Mereka hanya berbicara dalam bahasa yang berbeda.
Ketika Paus Pius XII mencoba mengklaim Big Bang sebagai pembuktian Kitab Kejadian, Lemaître menentang:
Sains tidak membuktikan Tuhan. Ia justru menunjukkan betapa luas dan misteriusnya ciptaan itu, katanya dengan tenang. Lalu, seperti babak berikut dalam simfoni semesta, datanglah seorang anak Inggris yang gemar menggambar bentuk-bentuk mustahil sejak kecil: Roger Penrose.
Jika Lemaître adalah penyair singularitas, maka Penrose adalah arsiteknya. Bersama Stephen Hawking, ia membuktikan bahwa alam semesta bukan hanya punya awal, tetapi awal itu adalah singularitas—titik di mana semua hukum fisika runtuh dan keajaiban dimulai.
Tetapi Penrose tidak puas dengan hanya satu awal. Ia mengusulkan sesuatu yang lebih berani: semesta ini telah dan akan lahir berkali-kali. Dalam Kosmologi Siklus Berulang, Penrose menyatakan bahwa setiap aeon akan berakhir, dan dari abunya, lahir semesta baru.
Bagi Penrose, Big Bang bukanlah awal segalanya, melainkan hanya sebuah transisi. Sesuatu datang sebelumnya, dan sesuatu akan datang setelahnya, katanya. Dan yang paling mengejutkan: Penrose tidak percaya bahwa realitas terbatas pada apa yang bisa diukur.
Dalam bukunya yang berjudul Fashion, Faith, and Fantasy, ia menulis: Matematika bukan sesuatu yang kita ciptakan. Ia adalah sesuatu yang kita temukan.
Dunia matematika, baginya, adalah dunia ide Platonik, benar-benar ada, meski tak terlihat. Ada kebenaran yang lebih dalam dalam keanggunan struktur matematika. Rasanya seolah-olah kita sedang menyentuh sesuatu yang kekal, ucapnya.
Penrose bahkan mencetuskan teori kesadaran kuantum bersama Stuart Hameroff. Ia menyatakan bahwa kesadaran manusia bukan sekadar proses biologis, melainkan melibatkan keterikatan kuantum di dalam mikrotubulus neuron.
Saya percaya kesadaran tidak bisa direduksi menjadi komputasi. Ada sesuatu yang melampaui algoritma dalam pikiran manusia, tegasnya. Penrose memang tidak percaya pada Tuhan dalam bentuk agama institusional. Tapi ia juga menolak ateisme materialistik.
Ada misteri yang dalam tentang mengapa alam semesta ini begitu tepat diatur oleh matematika yang indah. Misteri itu, bagi saya, adalah sesuatu yang sakral.
Dua tokoh ini, seorang imam Katolik dan seorang matematikawan Platonik, berjalan di jalur berbeda namun bertemu di satu titik: bahwa realitas terlalu dalam untuk didefinisikan hanya dengan materi. Bahwa ada sesuatu yang tak terukur, tapi tak bisa diabaikan.
Lemaître melihatnya dalam keindahan hukum alam. Penrose menemukannya dalam kesadaran dan struktur matematis yang melampaui dunia fisik.
Dan kini, ironi itu berdiri tegak di tengah kita: teori yang dirumuskan oleh seorang imam dan diperluas oleh seorang filsuf-matematikawan malah sering dikutip sebagai dalil utama bagi dunia ilmiah yang ingin menyingkirkan Tuhan.
Maka, izinkan saya menutup dengan sebuah puisi (sastrawisasi filsafat), ditulis untuk para pencari makna yang masih bersedia mendengar gema dari hari tanpa kemarin:
Puisi Satir Kosmis
Dari satu titik singular,
menjadi demikian luas.
Dan ada lembah, gunung, dan ngarai,
dan ada mata kutilang.
Pula anggrek dan tulip.
Demikian indah semesta—di sana.
Tidakkah kau lihat,
Tuhan Yang Mahakasih;
bak Layla;
menunggu...
untuk kau kenali?
Jika teori Big Bang ditulis dari dalam doa dan ditafsir dalam keheningan mikrotubulus,
siapa yang sebenarnya sedang bicara lewat langit yang mengembang itu?
Dan mengapa sebagian dari kita,
malah menutup telinga?
Wa maa taufiiqii illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
Bandung, 14 Juli 2025
