Konten dari Pengguna

Charles Townes: Fisikawan yang Percaya Sains dan Agama Akan Bertemu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Charles Townes (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Charles Townes (Sumber: Unsplash)

Charles Hard Townes menemukan maser pada 1951. Delapan belas tahun kemudian prinsip yang sama melahirkan laser, teknologi yang kini ada di mana-mana. Dari pemutar musik sampai operasi mata. Dari kode batang di kasir sampai internet fiber optik.

Atas temuan ini Townes meraih Nobel Fisika 1964, dibagi bersama dua fisikawan Soviet, Nikolay Basov dan Alexander Prokhorov. Ia lalu memimpin komite penasihat sains untuk program pendaratan Apollo di bulan. Ia juga membantu menemukan lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti. Kariernya panjang dan penuh penghargaan. Tapi bagian paling menarik dari hidup Townes bukan daftar prestasinya. Bagian itu adalah caranya memandang hubungan sains dan agama.

Townes seorang Kristen taat, anggota United Church of Christ. Ia berdoa setiap hari. Dan ia yakin sains dan agama bukan dua dunia yang bertentangan. Keduanya, katanya, sejajar. Bahkan pada akhirnya akan bertemu.

Keyakinan ini bukan sekadar sikap pribadi yang ia simpan sendiri. Townes menuliskannya dalam esai-esai ilmiah, dalam buku Making Waves, dan dalam pidato penerimaan Templeton Prize 2005. Penghargaan ini diberikan khusus untuk tokoh yang berkontribusi pada pemahaman dimensi spiritual kehidupan. Bagi seorang peraih Nobel Fisika, menerima penghargaan semacam ini adalah pernyataan sikap yang jelas.

Dua Pertanyaan, Satu Semesta

Argumen Townes sederhana. Sains berusaha memahami bagaimana semesta ini bekerja, termasuk manusia di dalamnya. Agama berusaha memahami untuk apa semesta ini ada, termasuk untuk apa hidup manusia sendiri. Kalau semesta memang punya tujuan, tujuan itu pasti tercermin dalam struktur dan cara kerjanya. Artinya, tercermin juga dalam sains.

Bagi Townes, sains dan agama menjawab dua pertanyaan berbeda tentang objek yang sama. Yang satu bertanya bagaimana. Yang lain bertanya mengapa. Keduanya tidak bisa saling meniadakan karena keduanya tidak sedang bersaing menjawab pertanyaan yang sama.

Townes menunjuk empat titik temu antara cara kerja sains dan cara kerja agama.

Pertama, iman. Ia melihat ilmuwan sebenarnya juga orang beriman. Seorang fisikawan bisa menghabiskan bertahun-tahun mengejar hasil yang belum pasti akan ditemukan. Itu butuh semacam keyakinan, mirip keyakinan religius, bahwa usaha itu tidak sia-sia.

Kedua, wahyu. Townes bercerita, gagasan tentang maser tidak datang lewat proses analisis data yang runtut. Ide itu muncul tiba-tiba, seperti kilatan. Ia menyebutnya lebih dekat dengan pengalaman wahyu ketimbang hasil kalkulasi biasa.

Ketiga, soal pembuktian. Ia mengutip Kurt Gödel, yang menunjukkan tidak ada pembuktian mutlak dalam matematika. Setiap pembuktian bertumpu pada sejumlah asumsi awal. Asumsi itu sendiri tidak bisa dibuktikan dari dalam sistem yang sama. Sains, seperti agama, pada akhirnya berpijak pada sesuatu yang diterima, bukan dibuktikan habis.

Keempat, ketidakpastian. Fisika di awal abad ke-20 bersifat deterministik. Lalu mekanika kuantum datang membawa ketakpastian dan peluang. Fisika klasik tidak dibuang. Ia tetap dipakai dan diajarkan, hanya dipahami dalam batas berlakunya sendiri. Townes percaya pemahaman keagamaan bergerak dengan cara serupa. Ia berkembang, ia diperhalus, tapi tidak harus ditinggalkan begitu saja.

Keindahan yang Tidak Kebetulan

Townes punya satu keyakinan lagi yang lebih personal. Ia melihat keindahan alam semesta sebagai sesuatu yang jelas berasal dari Tuhan. Ia percaya semesta ini diciptakan agar manusia bisa muncul dan berkembang di dalamnya. Dan meskipun hidupnya dihabiskan meneliti hukum-hukum fisika, ia mengaku agama lebih penting baginya daripada sains. Alasannya jujur. Agama menjawab pertanyaan paling mendasar tentang makna dan tujuan hidup manusia. Sains, sehebat apa pun, belum tentu sampai ke sana.

Sikap ini menarik justru karena datang dari orang yang paling tidak bisa dituduh naif soal sains. Townes bukan pemuka agama yang berbicara tentang fisika dari luar. Ia orang yang menciptakan salah satu alat paling presisi dalam sejarah teknologi modern. Rekan-rekannya di Berkeley menyebut rasa ingin tahunya yang besar dan optimismenya yang tak tergoyahkan berakar pada spiritualitas Kristennya yang dalam.

Mengapa Ini Penting untuk Kita

Perdebatan sains lawan agama sering dibingkai sebagai pertarungan dua kubu yang harus saling mengalahkan. Salah satu harus menang. Townes menawarkan jalan lain. Ia menempatkan keduanya sebagai dua bentuk pencarian yang bisa berjalan berdampingan, bahkan saling menguatkan.

Ini bukan cara berpikir yang asing bagi tradisi intelektual kita. Banyak ilmuwan besar dari berbagai tradisi, termasuk tradisi Islam, memandang penyelidikan alam sebagai bagian dari cara memahami penciptanya. Bedanya, Townes sampai ke sana lewat jalur fisika kuantum dan laboratorium microwave di Columbia, bukan lewat teks keagamaan semata. Ia membuktikan bahwa jalur itu, jalur sains yang ketat dan jujur, bisa juga bermuara pada kerendahan hati spiritual.

Townes meninggal pada Januari 2015 di usia 99 tahun, masih aktif ke kampus hingga beberapa bulan sebelum wafat. Ia meninggalkan warisan teknologi yang mengubah dunia. Tapi ia juga meninggalkan satu gagasan yang tetap layak direnungkan hari ini, di tengah dunia yang makin terpolarisasi antara yang mengaku rasional dan yang mengaku religius. Bahwa mencari kebenaran lewat sains dan mencari makna lewat agama, pada akhirnya, bisa jadi dua jalan menuju satu tujuan yang sama. (**)