Konten dari Pengguna

Children of Heaven (Esai Filsafat Sains Tentang Sepatu, Cinta, dst) (Bag I)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Adegan di film Children of Heaven (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Adegan di film Children of Heaven (Sumber: Unsplash)

Kadang sebuah cerita yang paling menyentuh justru dimulai dari hal yang sangat sederhana. Bukan dari peristiwa besar, bukan dari tokoh yang luar biasa, melainkan dari kehidupan sehari-hari yang tampak biasa. Film Children of Heaven karya Majid Majidi adalah salah satu contoh cerita seperti itu.

Film ini mengisahkan dua saudara, Ali dan Zahra, yang hidup bersama keluarga sederhana di Teheran.

Di balik cerita yang tampak sederhana, film ini menyimpan banyak makna tentang persaudaraan, empati, tanggung jawab, dan kehidupan dalam keterbatasan. Hubungan antara Ali dan Zahra menunjukkan bahwa kasih sayang tidak selalu harus diucapkan dengan kata-kata. Kadang ia hadir dalam tindakan kecil, seperti dalam kesediaan untuk berbagi, dalam usaha saling menjaga, dan dalam keinginan untuk melindungi satu sama lain.

Melalui tulisan ini, kisah dalam film Children of Heaven tidak hanya dilihat sebagai sebuah cerita, tetapi juga sebagai bahan refleksi. Cerita Ali dan Zahra akan dibaca melalui sudut pandang filsafat dan sains untuk memahami bagaimana hubungan sederhana antara dua saudara dapat menjadi sumber kekuatan di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah.

BAGIAN SATU

“Dua Anak, Satu Pasang Sepatu”

Disebuah gang sempit yang berada di bagian selatan Teheran, hiduplah dua anak yang berbagi mimpi dalam satu pasang sepatu. Mereka terlahir dari keluarga yang sederhana.

Pada sore hari di gang itu terasa tenang, matahari turun perlahan diantara rumah-rumah kecil yang berdempetan. Dua anak itu adalah Ali dan Zahra. Ali berusia 9 tahun, dengan wajahnya yang masih seperti anak-anak, tetapi matanya terlihat lebih dewasa dari usianya. Seolah-olah ia sudah memahami banyak hal tentang hidup. Zahra, ia adalah adiknya Ali, gadis kecil yang berusia 7 tahun. Ia anak yang lembut dan ceria, tetapi diam-diam menyimpan kekhawatiran tentang hidup mereka yang serba kekurangan.

Suatu hari Ali pergi ke pasar untuk memperbaiki sepatu Zahra. Sepatu itu sudah lama dipakai dan telah ditambal berkali-kali. Bagi keluarga mereka, sepatu itu sangat berharga. Namun di pasar yang ramai, sepatu itu hilang. Ali pulang dengan perasaan bersalah. Ia melihat Zahra duduk di halaman rumah sambil menunggu. Ketika Ali berkata kepada Zahra bahwa sepatu miliknya hilang. Zahra tidak marah dan tidak menangis. Zahra hanya bertanya dengan pelan kepada Ali. Jika sepatunya hilang, bagaimana cara Zahra untuk pergi ke sekolah?

Dari situ mereka membuat keputusan kecil, tetapi sangat berarti. Mereka sepakat untuk bergantian memakai sepatu milik Ali. Setiap pagi Zahra memakai sepatu Ali untuk pergi ke sekolah. Meskipun sepatu itu terlalu besar untuk kakinya, tetapi ia tetap memakainya. Setelah sekolah selesai, Zahra berlari pulang secepat mungkin melewati jalan-jalan sempit di kota. Di ujung gang, Ali sudah menunggu dengan cemas. Mereka lalu menukar sepatu. Setelah itu Ali berlari ke sekolah untuk mengikuti kelas siang, berharap tidak terlambat. Hal itu mereka lakukan setiap hari. Mereka tidak pernah mengeluh, mereka tidak saling menyalahkan, mereka hanya saling membantu.

Pada suatu hari, Ali melihat pengumuman lomba lari di sekolah. Hadiah untuk juara ketiga adalah sepasang sepatu anak-anak. Ali tidak ingin menjadi juara pertama. Ia justru ingin menjadi juara ketiga, agar bisa membawa pulang sepatu untuk Zahra.

Ketika hari perlombaan tiba, Ali berlari sekuat tenaga, tetapi dengan susah payah ia mencoba mengatur langkah agar sampai di posisi ketiga. Namun, sesuatu yang tidak ia rencanakan terjadi. Ketika melewati garis akhir, Ali justru menjadi juara pertama. Guru-guru bersorak. Teman-temannya bertepuk tangan. Ia diberi medali emas. Tetapi Ali tidak merasa senang. Ia hanya memikirkan satu hal, yaitu sepatu untuk Zahra.

Ketika ia sadar bahwa juara pertama tidak mendapat sepatu, ia menunduk. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh. Ia pulang dengan medali emas, tetapi tanpa sepatu. Zahra melihatnya dari jauh dan langsung mengerti bahwa sang kakak gagal membawa sepatu untuknya. Namun Zahra tidak marah. Ia hanya tersenyum kecil, seolah berkata bahwa semuanya tidak apa-apa.

Ali duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara. Mereka hanya duduk bersama di ujung gang. Sementara itu matahari perlahan tenggelam di langit, dengan warna merah muda seperti sepatu Zahra yang hilang.

BAGIAN DUA

“Empat Pelajaran dari Dua Anak Kecil”

Dari kisah sederhana ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang penting, yaitu:

1. Kehangatan Saudara Kandung Sangat Berarti

Ali dan Zahra jarang mengatakan kata “sayang”. Namun, tindakan mereka menunjukkan kasih sayang yang kuat. Mereka berbagi sepatu, saling menunggu, dan saling membantu. Semua itu menunjukkan bahwa hubungan saudara bisa menjadi sumber kekuatan yang sangat besar.

2. Pengorbanan Lahir dari Empati

Ali mengikuti lomba semata-mata bukan untuk dirinya sendiri. Ia merasa bersalah atas hilangnya sepatu Zahra dan ia ingin membantu Zahra mendapatkan sepatu baru. Hal ini menunjukkan bahwa empati dapat membuat seseorang rela berkorban demi orang lain.

3. Kemiskinan Tidak Menghilangkan Harga Diri

Ali dan Zahra hidup dalam kekurangan. Namun mereka tidak meminta-minta atau mengeluh. Mereka mencari cara sendiri untuk mengatasi masalah mereka. Mereka tetap menjaga harga diri keluarga.

4. Kekuatan Lahir dari Hubungan

Ali dan Zahra tidak kuat sendirian. Mereka kuat karena saling mendukung. Hubungan mereka menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi kesulitan hidup. Sesulit apapun itu, jika dijalani dengan orang yang tepat pasti akan terasa ringan. (Bersambung)