Eben Alexander: Dari Bedah Syaraf Menuju Bukti Saintifik Afterlife (End)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada apa pun dalam teori medan kuantum atau sains di tingkat lain yang memungkinkan munculnya diri. Di dunia kuantum, kesadaran tampaknya membangkitkan "materi" (yaitu, partikel) ke dalam keberadaan dari medan yang mendasarinya, alih-alih sebaliknya.
Mengutip buku teks Foundational Concepts of Neuroscience, "Mengenai kualitas pengalaman kesadaran yang misterius, mungkin kapasitas ini merupakan aspek fundamental dari realitas—sama pentingnya dengan materi, energi, ruang, dan waktu—yang termanifestasi dalam konfigurasi materi dan energi tertentu, seperti yang terjadi pada organisme hidup."
Alexander dan Newell merekomendasikan untuk melanjutkan program penelitian, "sambil mempertahankan pandangan yang lebih luas, termasuk mempertanyakan kerangka metafisika itu sendiri." Demikian yang diungkapkan dalam alphaomega org .
Mencoba meringkas secara sederhana argumen Eben Alexander yang paling saintifik dan tak terbantahkan tentang afterlife, hal ini adalah berakar pada latar belakang neurosainsnya sendiri.
Pertama, ia menekankan bahwa selama NDE-nya, otaknya—khususnya neokorteks—sepenuhnya tidak aktif akibat infeksi parah, seperti yang dibuktikan oleh scan medis. Dalam kondisi itu, ilmu saraf konvensional menyatakan bahwa pengalaman sadar mustahil terjadi; halusinasi memerlukan otak yang berfungsi.
Namun, Eben mengalami perjalanan yang lebih jelas dan koheren daripada mimpi atau halusinasi biasa, lengkap dengan elemen yang tak bisa dijelaskan oleh kimia otak, seperti komunikasi telepati dan rasa cinta universal. Ini menunjukkan bahwa kesadaran bukan produk otak, melainkan entitas independen yang bisa bertahan setelah kematian fisik, selaras dengan teori fisika kuantum yang menyatakan bahwa realitas dasar adalah non-lokal dan terhubung secara holistik.
Kedua, Eben mengumpulkan bukti dari ribuan NDE lain yang mirip, termasuk yang dialami anak-anak kecil yang tak punya konsep afterlife, atau orang buta sejak lahir yang tiba-tiba "melihat" selama NDE—fenomena yang tak bisa direduksi menjadi ilusi otak.
Ketiga, ia berargumen bahwa sains modern, termasuk studi tentang meditasi dan psikedelik, mulai mengakui bahwa kesadaran adalah fundamental alam semesta, bukan sekadar epifenomena materi. Argumen ini tak terbantahkan karena didasarkan pada data empiris pribadi dan kolektif, yang menantang materialisme reduksionis tanpa menolak sains itu sendiri.
Kisah Eben Alexander mengingatkan kita bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat menuju sesuatu yang lebih besar. Dan sudah saatnya sains dan para saintis bersikap terbuka, jujur dan rendah hati menerima bahwa, kini sains tidak lagi hanya membicarakan hal yang material , terukur dan fisik. Hal-hal yang spiritual, non material, seperti halnya kesadaran, jiwa dan kehidupan setelah mati kini telah menjadi semakin tak terbantahkan.
Oleh karena itu, mari kita jadi insan yang paling baik saat ini juga—penuh kasih, empati, dan kebaikan—karena barangkali esok pagi, kita sudah menyeberang ke afterlife, di mana setiap tindakan kita akan terungkap dalam cahaya abadi. Jangan tunggu; mulailah sekarang, dan biarkan jiwa kita siap menyambut keajaiban itu. (**)
