Konten dari Pengguna

Einstein: Jalan Ketiga Sains dan Spiritualitas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku Kieran Fox
zoom-in-whitePerbesar
Buku Kieran Fox

Ada dua citra hubungan antara sains dan spiritualitas yang beredar di kepala kita.

Pertama, sains murni adalah lambang rasionalitas dingin, sosok yang sering dipakai untuk membuktikan bahwa agama sudah selesai.

Yang kedua, sains dan spiritualitas independen satu sama lain. Kebenaran saintifik bersifat sementara dan lebih terkait hal-hal material. Sedangkan kebenaran hal-hal spiritual bersifat lebih tidak bergantung waktu dan lebih terkait hal-hal non material.

Dalam bukunya I Am a Part of Infinity: The Spiritual Journey of Albert Einstein (Basic Books, 2025), Kieran Fox menawarkan posisi yang ketiga. Dalam buku tersebut Fox berargumen bahwa sisi spiritual Einstein adalah fondasi seluruh temuan saintifiknya.

Bagi Fox, bagi Einstein sains dan spiritualitas adalah pasangan yang tak terpisahkan.

Fox bukan teolog. Ia dokter dan doktor neurosains kognitif dari University of British Columbia, yang menulis buku ini saat menempuh pendidikan kedokteran. Latar itu penting. Bukunya berdiri di atas riset arsip, surat-surat yang baru terbit, percakapan yang jarang dikutip, bahkan penelusuran isi perpustakaan pribadi Einstein.

Tiga Tangga Religiusitas

Titik masuk Fox adalah esai Einstein di The New York Times Magazine tahun 1930, berjudul "Religion and Science". Di sana Einstein memetakan tiga fase keberagamaan manusia.

Fase pertama adalah agama yang lahir dari rasa takut. Manusia purba menyembah karena ngeri pada petir, kelaparan, dan kematian. Fase kedua adalah agama moral, yang berpusat pada Tuhan personal sebagai pemberi hukum dan penghukum. Fase ketiga, yang Einstein anggap tertinggi, adalah apa yang ia sebut sendiri: "I will call it the cosmic religious sense." Rasa keberagamaan kosmik.

Yang menarik, Einstein tidak menyusun ini sebagai kronologi sejarah yang rapi. Ketiganya hidup berdampingan sampai hari ini, di masjid, di gereja, di laboratorium, bahkan di dalam satu kepala yang sama.

Rasa keberagamaan kosmik ini tidak punya dogma, tidak punya gereja, dan tidak punya Tuhan berwajah manusia. Yang ada hanya kekaguman pada keteraturan yang menakjubkan di alam, dan kerinduan untuk mengalami keseluruhan eksistensi sebagai satu kesatuan yang penuh makna. Einstein pernah menegaskan ia bukan ateis. Ia mengakui adanya semacam "pemberi hukum" di balik keteraturan alam semesta.

Di titik inilah lahir kalimatnya yang paling terkenal, dari sebuah simposium tahun 1941: science without religion is lame, religion without science is blind. Sains tanpa agama pincang, agama tanpa sains buta. Kalimat itu biasanya dikutip sebagai imbauan damai antara dua kubu.

Fox membacanya lebih keras. Bagi Einstein itu bukan gencatan senjata, melainkan deskripsi tentang bagaimana pikiran ilmiah sesungguhnya bekerja.

Silsilah Gagasan yang Panjang

Kekuatan buku Fox terletak pada penelusuran sumbernya. Einstein tidak menemukan pandangan ini sendirian di ruang hampa.

Dari Pythagoras dan Democritus ia menyerap keyakinan bahwa alam semesta pada dasarnya matematis, dan bahwa kesederhanaan adalah tanda kebenaran. Dari Spinoza ia mengambil gagasan Tuhan yang identik dengan tatanan alam itu sendiri. Dalam telegram terkenal kepada Rabi Herbert Goldstein tahun 1929, Einstein menjawab singkat: I believe in Spinoza's God. Tuhan yang menyingkapkan diri dalam harmoni segala yang ada, bukan Tuhan yang mengurusi nasib dan perbuatan manusia.

Lalu ada jalur Timur. Melalui Schopenhauer, Einstein berkenalan dengan Buddhisme dan Upanishad. Fox menunjukkan bahwa perkenalan itu jauh lebih dalam daripada yang selama ini diduga orang. Jainisme ikut membentuk pandangannya tentang alam dan moralitas. Gandhi ia kagumi sepenuh hati sampai akhir hayat.

Hasilnya, menurut Fox, adalah satu sistem berpikir yang utuh. Mistisisme bertemu matematika. Realitas diperlakukan sebagai sesuatu yang layak dihormati. Dan akal manusia dipandang sebagai cermin dari yang tak terbatas.

Yang terakhir ini paling memikat. Einstein tidak hanya takjub pada alam semesta di luar sana. Ia lebih takjub lagi pada kenyataan bahwa otak kecil kita ini bisa memahaminya. "The most incomprehensible thing about the universe is that it is comprehensible." Hal paling tak terpahami tentang alam semesta adalah bahwa ia bisa dipahami. Fox menjadikan paradoks ini sebagai puncak dari rasa keberagamaan kosmik.

Dari Metafisika ke Etika

Bagian terkuat buku ini adalah ketika Fox menunjukkan bahwa semua ini berujung pada tindakan, bukan berhenti sebagai renungan.

Pada tahun 1950, seorang ayah bernama Robert Marcus menulis surat kepada Einstein. Anaknya baru meninggal karena polio. Einstein membalas dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu tulisannya yang paling banyak dikutip, dan paling sering dipalsukan. Versi aslinya dimulai begini: "A human being is a part of the whole called by us universe." Manusia adalah bagian dari keseluruhan yang kita sebut alam semesta. Bagian yang terbatas dalam ruang dan waktu.

Einstein lalu mengatakan bahwa perasaan kita seolah terpisah dari yang lain itu adalah semacam ilusi optik kesadaran. Dan usaha membebaskan diri dari ilusi tersebut, menurutnya, adalah satu-satunya persoalan agama yang sejati.

Dari sinilah pasifisme Einstein bersumber. Juga simpatinya pada penderitaan hewan, penolakannya pada nasionalisme sempit, dan keberpihakannya pada korban rasisme di Amerika. Jika keterpisahan itu ilusi, maka kekejaman terhadap siapa pun adalah kekejaman terhadap diri sendiri. Etika bukan tambahan yang ditempelkan pada fisika. Etika adalah konsekuensi logis dari fisika.

Perlu Sikap Kritis

Buku ini tidak bebas dari keberatan, dan kita perlu jujur soal itu.

Sejumlah pengulas menilai Fox terlalu bersemangat merapikan Einstein. Pandangan Einstein sebenarnya berubah-ubah sepanjang hidup, kadang saling bertentangan, dan tidak pernah tersusun sebagai sistem yang selesai. Fox sendiri sebetulnya mengakui ini sejak awal bukunya. Ia menulis, dengan jujur: "What Einstein did believe still remains to be discovered."

Ada juga risiko yang dalam kajian akademik disebut retrojeksi filosofis. Yaitu membaca gagasan Timur ke dalam teks Einstein lebih jauh daripada yang bisa ditanggung buktinya. Kritik dari kalangan sejarawan sains menunjuk persis ke arah ini. Sintesis puitis tidak selalu sama dengan analisis historis yang bertanggung jawab.

Dan Einstein memang bukan orang suci di mata sezamannya. Carl Jung menyebutnya "sentimental idealist with shallow enlightenment." Oppenheimer bahkan lebih kasar lagi.

Mengapa Ini Penting bagi Kita

Kita sedang hidup di zaman ketika sains dan spiritualitas dipaksa berdiri di dua sudut ring yang berlawanan. Di satu sisi ada saintisme yang mengejek segala yang tidak terukur. Di sisi lain ada keberagamaan yang kadang masih curiga pada setiap temuan laboratorium. Keduanya sama-sama membuat kita prihatin.

Einstein versi Fox menawarkan jalan ketiga. Ilmuwan yang tetap bisa terpesona dan takjub oleh Keindahan Zat Yang Maha Meliputi lagi Maha Indah. Orang beriman yang tetap bisa menghitung dengan matematika canggih. Kekaguman yang tidak menuntut kita berhenti bertanya dengan kritis, dan pertanyaan yang tidak menuntut kita berhenti kagum dan tenggelam dalam tafakur.

Bagi dunia pendidikan tinggi kita, hal ini memberi suatu rekomendasi praktis. Riset yang baik tidak lahir hanya dari metode dan dana. Ia lahir dari rasa takjub yang dijaga tetap hidup. Dan dari rasa takjub ini muncul gairah untuk mengeksplorasi maupun kemampuan untuk bermimpi dan berkreasi. Berbagai teori sains dan rekayasa serta solusi terbaik . Sehingga alam nampak semakin indah dan luhur dalam Tatanan AgungNya. Dan manusia mampu merespon yang terbaik, paling benar dan paling indah di Tatanan AgungNya.

Einstein sendiri berpendapat bahwa fungsi terpenting seni dan sains justru membangunkan dan merawat perasaan dan kerinduan abadi itu.

Kalau kampus kita berhasil mencetak sarjana yang cakap secara teknis tapi kehilangan kemampuan terpesona yang menjadikan spiritualitas Ilahiah sebagai fondasi sains, kita sedang memproduksi tukang, bukan ilmuwan. Itu, saya kira, pesan terdalam dari buku Kieran Fox. Setidaknya menurut penafsiran saya.

Mari kita bangun Jalan Ketiga . Jadikan spiritualitas fondasi sains. Dan melaluinya, Indonesia semakin maju dan penuh berkah Ilahi. (**)