Konten dari Pengguna

Einstein = Mercurius-Michelson-Morley × (Cialdini)² (E=mc(kuadrat)) : (End)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Albert Eisntein
zoom-in-whitePerbesar
Albert Eisntein

Awal: Penolakan Luar Biasa (1905–1915)

Fisikawan Eropa menerima relativitas khusus dengan dingin. “Teori yang absurd,” kata Henri Poincaré. “Matematika tanpa fisika,” tuduh Max Abraham. Penolakan ini bukan karena kurangnya bukti—Michelson-Morley (1887) sudah membuktikan tidak ada eter—tapi karena status quo bias. Newton adalah Homo economicus fisika: prediksi akurat, intuitif, dan telah membangun imperium Inggris. Einstein? Seorang Yahudi Swiss tanpa gelar doktor tetap.

Namun, anomali orbit Merkurius—yang tidak bisa dijelaskan Newton—menjadi availability bias pertama. Astronom seperti Simon Newcomb tahu ada 43 detik busur yang “hilang”, tapi mengabaikannya karena confirmation bias: “Pasti ada planet Vulcan di dalam orbit Merkurius.”

Status quo bias adalah kecenderungan otak untuk lebih memilih mempertahankan keadaan saat ini daripada melakukan perubahan, meskipun perubahan tersebut sebenarnya lebih menguntungkan. Misalnya, seseorang tetap menggunakan bank yang sama sejak kuliah walaupun ada bank digital yang menawarkan bunga lima kali lebih tinggi, hanya karena sudah terbiasa. Begitu pula, banyak orang masih memilih kendaraan berbahan bakar bensin meskipun kendaraan listrik lebih murah dan ramah lingkungan, semata-mata karena mobil bensin sudah ada sejak dulu. Otak melakukan ini karena takut mengalami kerugian—berubah berarti menghadapi risiko, sedangkan tetap seperti adanya terasa lebih aman, walaupun sebenarnya tidak optimal. Kahneman menjelaskan bahwa kita lebih takut kehilangan satu juta daripada senang mendapatkan dua juta, sehingga lebih baik tetap salah daripada mencoba menjadi benar.

Bila kita amati lebih lanjut, proses pergeseran paradigma sains dari Newton ke paradigma Einstein nampaknya mengikuti proses persuasi Cialdini. 6 prinsip persuasi Cialdini dalam konteks ini diberikan sebagai berikut.

Resiprositas

Einstein tidak pernah menyerang mekanika Newton secara frontal. Sebaliknya, ia memberikan “hadiah” yang cerdas: ia menunjukkan bahwa relativitas khusus sepenuhnya mencakup hukum Newton sebagai kasus khusus ketika kecepatan benda jauh lebih kecil daripada kecepatan cahaya (v << c). Dengan demikian, fisikawan klasik merasa kerangka pemikiran lama mereka tidak dibuang, melainkan tetap dipertahankan dan dihormati dalam kondisi tertentu. Pemberian “hadiah” ini membuat mereka lebih terbuka dan bersedia mempertimbangkan ide baru Einstein.

Komitmen dan Konsistensi

Pada tahun 1906, Max Planck—salah satu fisikawan paling berpengaruh saat itu—membuat komitmen kecil dengan berkata, “Teori ini menarik.” Sekali mengucapkan pernyataan itu, Planck secara alami merasa harus konsisten dengan kata-katanya. Akibatnya, ia terus mendukung Einstein secara terbuka, termasuk saat mengusulkan nama Einstein untuk masuk ke Prussian Academy. Ini adalah contoh klasik teknik foot-in-the-door: mulai dari penerimaan kecil, lalu berkembang menjadi dukungan penuh.

Bukti Sosial

Pada tahun 1911, hanya tiga fisikawan yang secara terbuka mendukung Einstein. Namun pada tahun 1919, setelah Arthur Eddington mempresentasikan hasil ekspedisi pengamatan gerhana matahari di Afrika dan Brasil, seluruh anggota Royal Society London bertepuk tangan meriah. Yang menarik, Inggris saat itu sedang berperang melawan Jerman—negara asal Einstein. Justru karena itu, dukungan dari “musuh” ini menjadi bukti sosial yang sangat kuat, membuat komunitas sains dunia merasa: “Jika bahkan Inggris mengakui, maka ini pasti benar.”

Kewibawaan

Arthur Eddington adalah direktur Observatorium Cambridge—salah satu institusi sains paling prestisius di dunia. Ketika ia mengumumkan bahwa cahaya bintang membengkok tepat 1,75 detik busur sesuai prediksi Einstein, kata-katanya langsung dianggap kebenaran. Gelar profesor, posisi direktur, aksen Oxford, dan reputasi sebagai ahli astrofisika membuatnya menjadi simbol otoritas mutlak. Fisikawan lain tidak lagi mempertanyakan data—mereka mempercayai siapa yang mengatakannya.

Kesukaan

Einstein bukan hanya jenius, tapi juga sangat disukai. Rambutnya yang acak-acakan, senyumnya yang hangat, humornya yang ringan, dan cerita rendah hati bahwa ia “hanya pegawai kantor paten” membuatnya terlihat manusiawi dan relatable. Media masa itu mencintainya, surat kabar memuat foto dan kutipannya. Bahkan fisikawan yang awalnya membencinya karena latar belakang Yahudi atau asal Jermannya, perlahan berubah menjadi pengagum karena faktor kesukaan ini.

Kelangkaan

Einstein pernah berkata dengan nada bercanda: “Hanya satu orang di dunia yang benar-benar mengerti relativitas—saya sendiri.” Pernyataan ini, meski berlebihan, menciptakan rasa kelangkaan yang kuat. Para fisikawan mulai berpikir: “Jika teori ini begitu langka dan hanya dipahami segelintir orang, maka kita harus mempelajarinya sekarang juga, atau kita akan ketinggalan revolusi sains terbesar abad ini.” Inilah FOMO (fear of missing out) dalam bentuk paling murni.Pada 1922, Einstein dapat Nobel—bukan untuk relativitas, tapi untuk efek fotolistrik. Authority Nobel menjadi cap persetujuan akhir.

Penerimaan: Dari Penolakan ke Dogma (1919–1950)

Pada 1930, relativitas umum diajarkan di universitas. Buku teks Newton direvisi. Einstein jadi selebriti. Tapi apakah penerimaan ini rasional?

Analisis Kritis: Apa yang Tidak Dipertimbangkan

1. Mekanika Kuantum Pada 1925–1927, Heisenberg, Schrödinger, dan Bohr membangun kuantum—yang tidak kompatibel dengan relativitas umum. Einstein menolak (“Tuhan tidak main dadu”). Tapi komunitas sains mengabaikan inkonsistensi ini demi “keindahan” relativitas.

2. Ireplikasi Ekspedisi Eddington 1919 direplikasi dengan data buruk. Pengamatan di Sobral hujan, di Principe kabut. Statistik Eddington penuh p-hacking. Tapi bukti sosial dari Royal Society membuat replikasi berikutnya diabaikan.

3. Goncangan Ontologi Relativitas menghapus ruang dan waktu absolut—tapi fisikawan tetap berpikir dalam common sense. “Waktu melambat” diterima, tapi implikasi filosofis (tidak ada “sekarang” universal) diabaikan.

4. Epistemologi Relativitas membutuhkan pengamatan, bukan eksperimen. Tapi sains klasik menghargai prediksi dan kontrol. Penerimaan relativitas melemahkan standar empiris.

5. Aksiologi Relativitas digunakan untuk bom atom (1945). Tapi konsekuensi moral tidak didiskusikan. Einstein menyesal, tapi komunitas sains merayakan.

Kuhn, Cialdini, Kahneman, Ariely: Irasionalitas Komunitas Sains

Thomas Kuhn (The Structure of Scientific Revolutions, 1962) benar: paradigma diganti bukan oleh bukti, tapi oleh krisis dan konversi. Penerimaan Einstein adalah konversi massal, bukan akumulasi rasional.

Cialdini menjelaskan mekanisme persuasi. Kahneman menambah bias kognitif:

Anchoring pada Newton

Availability pada anomali Merkurius

Overconfidence pada prediksi Eddington

Dan Ariely (Predictably Irrational) menunjukkan irasionalitas sistematis: fisikawan klasik lebih takut kehilangan status daripada salah.

Kesimpulan: Pergeseran Paradigma Sains adalah Persuasi dan Tidak Sepenuhnya Rasional

Einstein menang bukan karena benar, tapi karena Mercurius-Michelson-Morley × (Cialdini)². Prosesnya persuasif, emosional, dan penuh bias. Ini memperkuat Kuhn: sains adalah aktivitas sosial, bukan pencarian kebenaran murni.

Hari ini, ketika fisikawan membela string theory atau multiverse tanpa bukti, ingat Einstein: paradigma baru selalu dimulai dengan penolakan, diakhiri dengan dogma—dan di tengahnya, ada enam prinsip persuasi yang membuat kita semua percaya.

“Sains tidak maju karena logika. Sains maju karena manusia ingin percaya.” — Robert Cialdini, jika membaca sejarah Einstein. (**)