Kebenaran yang Kita Cari di Sisi Ranjang Rumah Sakit

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dini hari, di sebuah ruang ICU, seorang ibu duduk menunggu. Anaknya baru saja menjalani operasi besar. Dokter keluar. Wajahnya datar, sulit dibaca. Ibu itu bertanya satu kalimat pendek, "Dok, benar anak saya akan sembuh?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang sangat mendasar dalam sejarah pemikiran manusia. Apa sebenarnya yang kita maksud ketika kita berkata "benar"?
Kita mengucapkan kata itu setiap hari. Berita ini benar. Obat ini benar-benar manjur. Rumus ini benar. Tapi jarang kita berhenti sejenak dan bertanya, benar itu apa sebenarnya? Filsafat sains punya jawaban yang lebih kaya dari yang kita kira. Dan jawaban itu, jika direnungkan pelan-pelan, bisa mengubah cara kita menjalani hidup.
Benar Berarti Ada
Titik paling dasar dari semua teori kebenaran adalah ini. Sesuatu disebut benar kalau ia benar-benar eksis, benar-benar nyata. Keyakinan kita tentang sesuatu baru layak disebut benar kalau sesuatu itu memang ada.
Lingkaran yang sekaligus segitiga tidak pernah bisa ada di alam nyata. Karena itu pernyataan semacam itu tidak benar, bukan karena kita tidak suka mendengarnya, tapi karena ia mustahil punya tempat dalam kenyataan. Sebaliknya, matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat itu benar, karena kita menyaksikannya setiap hari, konsisten, dan nyata adanya.
Namun pertanyaan sang ibu di ruang ICU tidak sesederhana itu. Ia tidak sedang bertanya tentang lingkaran atau matahari. Ia sedang bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih personal, dan di situlah empat cara manusia menguji kebenaran mulai bekerja.
Empat Jalan Menuju Kebenaran
*Logika.* Cara pertama menguji kebenaran adalah lewat konsistensi. Sesuatu tidak mungkin benar kalau ia melanggar prinsip non-kontradiksi, kalau ia menjadi dua hal yang saling meniadakan pada saat bersamaan. Sebuah sistem kendali tidak mungkin sekaligus stabil dan tidak stabil. Bumi tidak mungkin sekaligus bulat dan datar. Ketika sebuah klaim mengandung kontradiksi internal, ia gugur sebelum sempat diuji ke dunia nyata.
*Korespondensi.* Cara kedua lebih akrab bagi kita. Sesuatu benar kalau ia sesuai dengan fakta. Gelombang elektromagnetik itu nyata karena bisa diukur. Massa bisa dikonversi menjadi energi karena persamaannya terbukti berulang kali di laboratorium. Rancangan data center yang baik benar-benar bisa menurunkan konsumsi energinya, karena angkanya bisa dihitung dan dicek. Inilah kebenaran yang paling banyak dipakai sains modern, kebenaran yang tunduk pada pengukuran.
*Pragmatis.* Cara ketiga lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sesuatu dianggap benar kalau ia benar-benar bermanfaat, benar-benar membawa hasil. Obat dikatakan benar manjur kalau pasien memang pulih. Sebuah model machine learning dikatakan benar bekerja kalau ia benar-benar menurunkan angka penipuan di mesin ATM sebuah bank hingga puluhan kali lipat. Sebaliknya, sebuah solusi teknis yang secara matematis elegan bisa saja tidak benar secara pragmatis, kalau ternyata terlalu rumit dipakai manusia biasa. Kebenaran, dalam pengertian ini, diuji oleh dunia yang harus dijalani, bukan hanya dunia yang harus dihitung.
*Konsensus.* Cara keempat adalah kebenaran yang disepakati bersama oleh komunitas yang dipercaya. Sebuah bank dianggap aman karena telah tersertifikasi ISO 27001. Sebuah data center dianggap andal karena telah lolos standar Tier 3 dari lembaga yang berwenang. Para ahli epidemiologi mempercayai model penyebaran penyakit tertentu bukan karena mereka menyaksikan sendiri setiap penularan, tapi karena komunitas ilmiah telah menguji dan menyepakatinya bersama. Kebenaran jenis ini adalah kebenaran yang dibangun secara sosial, lewat kepercayaan yang teruji.
Kembali ke Ruang ICU
Dokter di ruang ICU tadi sebenarnya sedang bergulat dengan keempat jalan kebenaran itu sekaligus. Ia tidak bisa menjawab dengan kontradiksi, itu soal logika. Ia melihat hasil pemindaian, denyut jantung, kadar oksigen, itu soal korespondensi dengan fakta. Ia mempertimbangkan riwayat pasien-pasien serupa yang pernah ia rawat dan hasilnya, itu soal pragmatis. Dan ia bersandar pada pedoman klinis yang disepakati komunitas kedokteran dunia, itu soal konsensus.
Dokter itu akhirnya menjawab dengan tenang, "Insya Allah, tanda-tandanya baik." Bukan kepastian mutlak. Tapi kebenaran yang dipijakkan pada empat fondasi sekaligus, seteguh yang bisa dicapai manusia.
Ibu itu menangis. Bukan karena mendengar kepastian, tapi karena mendengar kejujuran yang berpijak pada kenyataan. Dan di situlah letak keindahan sains yang sesungguhnya. Sains bukan alat untuk memberi kita jawaban instan. Sains adalah cara paling jujur yang manusia punya untuk berhadapan dengan kenyataan, dengan segala kerendahan hati yang menyertainya.
Kebenaran sebagai Rasio yang Romantik
Ada yang sering terlewat ketika kita berbicara soal kebenaran ilmiah. Kita mengira ketelitian dan kelembutan hati adalah dua hal yang bertentangan. Padahal keduanya justru saling menyempurnakan. Logika yang ketat dan data yang terukur bukan lawan dari empati. Rasio dan rasa bisa berjalan beriringan, seperti dokter yang membaca angka-angka pemindaian sambil tetap menatap mata seorang ibu yang menunggu.
Boleh jadi di sinilah pelajaran terdalam dari teori kebenaran. Ia bukan hanya perkakas laboratorium. Ia adalah cara kita berani jujur pada kenyataan, sekaligus tetap merawat harapan. Kebenaran ilmiah yang matang justru mengajarkan kerendahan hati, karena ia tahu batas dirinya. Ia tidak pernah mengklaim tahu segalanya, tapi ia terus mencari, mengukur ulang, menguji ulang.
Tiga bulan kemudian, anak itu pulang ke rumah dengan berjalan kaki sendiri. Sang ibu berdiri di depan pintu, memandangi anaknya melangkah, dan berbisik pelan, "Ternyata benar." Kata sederhana yang dulu ia ucapkan sebagai pertanyaan penuh cemas, kini menjadi ucapan syukur yang paling nyata.
Begitulah kebenaran bekerja dalam hidup kita. Ia jarang datang sebagai kepastian instan. Ia datang lewat proses panjang antara logika, fakta, manfaat, dan kepercayaan bersama. Dan pada akhirnya, kebenaran yang paling berarti bukan sekadar yang bisa dibuktikan di atas kertas, melainkan yang benar-benar kita alami, kita rasakan, dan kita syukuri bersama. (**)
Referensi
- Aristoteles, Metaphysics, Book IV, tentang prinsip non-kontradiksi sebagai dasar logika klasik.
- Alfred Tarski, "The Semantic Conception of Truth" (1944), rujukan standar teori korespondensi modern.
- William James, Pragmatism: A New Name for Some Old Ways of Thinking (1907).
- Charles Sanders Peirce, tulisan-tulisan awal tentang kebenaran sebagai hasil akhir penyelidikan komunitas ilmiah.
- Jürgen Habermas, teori konsensus kebenaran dalam Wahrheitstheorien (1973).
- Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1962), tentang peran komunitas ilmiah dalam menetapkan kebenaran ilmiah.
