Konten dari Pengguna

Kepemimpinan Empatik dan Neurosains: Belajar dari Michael Platt (End)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku Michael Platt (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Buku Michael Platt (Sumber: Unsplash)

Seri 3: Keputusan, Inovasi, dan Otak yang Dapat Dilatih

Pada dua seri sebelumnya, kita telah membahas otak sosial dan arsitektur hubungan. Pada seri penutup ini, kita masuk ke tiga area yang sering dipikirkan terpisah dari empati. Pengambilan keputusan, kelahiran inovasi, dan latihan otak pemimpin sendiri.

Michael Platt, dengan latar belakang riset pada primata sebelum berpindah ke neurosains kepemimpinan, banyak mengulik bagaimana otak membuat pilihan. Salah satu temuan paling tidak intuitif berasal dari riset Wolfram Schultz tentang dopamin yang sering dikutip Platt. Dopamin tidak dilepaskan oleh reward itu sendiri. Melainkan oleh reward yang melebihi ekspektasi. Bonus tahunan yang sudah diprediksi nyaris tidak menggerakkan dopamin. Pengakuan kecil yang tak terduga, sebaliknya, dapat memicu lonjakan motivasi yang nyata.

Ini menjelaskan paradoks yang sering terjadi di organisasi. Bonus besar yang rutin tidak menambah motivasi. Yang menggerakkan otak adalah elemen kejutan. Surat tulisan tangan, panggilan telepon di hari libur, ucapan terima kasih spesifik di hadapan tim. Pengakuan yang murah, kalau tepat waktu, lebih powerful daripada uang yang banyak tapi rutin.

Lalu ada masalah yang sering disepelekan. Decision fatigue. Setiap keputusan, sekecil apa pun, menguras glukosa di prefrontal cortex. Eksekutif yang membuat dua ratus keputusan trivial sehari, apa makan siangnya, kemeja apa yang dipakai, email mana yang dibalas duluan, tidak punya kapasitas neural tersisa untuk keputusan yang sungguh strategis.

Ini menjelaskan mengapa Steve Jobs hanya memakai turtleneck hitam. Bukan eksentrisitas. Bukan branding. Itu neuro-strategi. Mengotomatiskan keputusan kecil membebaskan kapasitas untuk keputusan besar. Pemimpin yang bijak mendelegasikan keputusan trivial, menjadwalkan keputusan strategis di pagi hari, dan tidak pernah membuat keputusan penting saat lapar atau lelah.

Daniel Kahneman, dalam Thinking, Fast and Slow, telah memetakan dua sistem berpikir. Sistem 1 yang cepat, intuitif, emosional. Sistem 2 yang lambat, deliberatif, rasional. Pemimpin yang lelah otomatis terjun ke Sistem 1. Bias-bias otomatis menguasai. Anchoring, availability heuristic, confirmation bias, semua menebal saat kortek prefrontal kehabisan glukosa.

Kita sekarang beralih ke inovasi. Platt banyak menulis tentang default mode network. Jaringan otak yang aktif justru ketika kita tidak sedang mengerjakan tugas spesifik. Saat kita berjalan kaki, mandi, melamun di mobil. Inilah pabrik wawasan. Ide-ide besar tidak lahir di depan layar. Mereka lahir saat otak diizinkan menganggur.

Implikasi praktisnya berani. Walking meeting bukan kemewahan. Jeda terjadwal bukan kemalasan. Tidur cukup bukan dosa profesional. Semua adalah strategi inovasi. Pemimpin yang membanggakan diri tidur empat jam sedang menonaktifkan satu-satunya sumber wawasan yang dimiliki organisasinya.

Mihaly Csikszentmihalyi pernah meneliti seratus tokoh kreatif kelas dunia. Penulis, ilmuwan, seniman. Ia menemukan satu pola. Hampir semua dari mereka menjaga ritme jeda yang ketat. Mereka tahu kreativitas tidak dapat dipaksa. Ia harus diundang dengan ruang.

Yang paling menggembirakan dari semua temuan Platt adalah neuroplastisitas. Otak orang dewasa tetap dapat dibentuk. Mindfulness delapan minggu sudah cukup untuk mengubah ketebalan korteks. Latihan meditasi rutin memperbesar hippocampus. Kebiasaan rasa syukur, jika dipraktikkan harian, mengubah struktur amygdala.

Implikasinya menyentuh akar pemikiran tentang kepemimpinan. Bakat memimpin adalah mitos. Atau setidaknya, mitos yang terlalu sering dipakai. Otak pemimpin tidak ditakdirkan. Ia dipahat. Oleh kebiasaan, latihan, dan niat. Pemimpin yang baik bukan yang lahir dengan otak istimewa. Pemimpin yang baik adalah yang melatih otaknya secara istimewa.

Martin Seligman menyebut ini learned optimism. Bahwa cara kita menafsirkan dunia adalah keterampilan yang dapat dipelajari. Carol Dweck menyebutnya growth mindset. Keyakinan bahwa kemampuan adalah hasil latihan, bukan bawaan. Kedua psikolog ini, bertahun-tahun sebelum neurosains memberi konfirmasi, telah mengintuisi bahwa otak manusia adalah taman, bukan patung.

Filsafat juga bersuara di sini. Aristoteles berkata, kebajikan adalah kebiasaan. Kita menjadi adil dengan melakukan tindakan adil. Kita menjadi berani dengan melakukan tindakan berani. Sekarang kita tahu mengapa. Setiap tindakan menciptakan jejak neural. Tindakan yang diulang menebalkan jejak itu. Karakter, secara biologis, adalah peta jalur saraf yang sering ditempuh.

Tradisi tasawuf menambahkan dimensi yang menggetarkan. Al-Ghazali menulis bahwa hati manusia adalah cermin. Yang membersihkan cermin itu adalah dzikir, refleksi, dan tindakan saleh yang berulang. Mulla Sadra dengan harakah jauhariyyah menambahkan. Cermin itu tidak diam. Ia terus berubah, ke arah cahaya atau ke arah kegelapan. Pilihan ada pada kita, setiap hari, setiap tindakan.

Apa yang dapat kita ambil sebagai praktik akhir?

Pertama, hemat keputusan kecil. Buat sistem yang membebaskan kapasitas neural untuk hal-hal yang sungguh penting.

Kedua, jadwalkan jeda. Tidak sebagai hadiah setelah pekerjaan, tapi sebagai bagian dari pekerjaan. Otak yang istirahat bekerja lebih baik daripada otak yang dipaksa.

Ketiga, kelola energi sebelum waktu. Sebagaimana Tony Schwartz tulis, manusia bukan mesin yang dibatasi waktu. Manusia adalah organisme yang dibatasi energi. Pengelolaan tidur, olahraga, makanan, dan recovery bagi pemimpin bukan kemewahan. Itu adalah fiduciary duty.

Keempat, hadiahi kejutan. Pengakuan terbaik adalah yang tidak diharapkan, tepat waktu, dan spesifik. Surat pendek di meja kolega bisa lebih berkesan dari bonus besar.

Kelima, latih otak Anda. Mindfulness, refleksi harian, jurnal syukur, dzikir, dan kontemplasi. Pilih yang sesuai dengan tradisi Anda. Tapi pilih sesuatu. Otak yang tidak dilatih akan dilatih oleh stres, gosip, dan reaksi otomatis. Tidak ada netral.

Kita kembali pada Michael Platt dan tesis intinya. Kepemimpinan bukan posisi. Kepemimpinan adalah konfigurasi neural yang dapat dilatih, dihormati, dan disebarkan. Pemimpin empatik bukan pemimpin yang lembut sebagai gaya. Ia pemimpin yang memahami otak manusia, termasuk otaknya sendiri, sebagai amanah yang harus dipelihara.

Tiga seri ini, kalau dirangkum dalam satu kalimat, mungkin begini. Bahwa empati, perhatian, dan latihan otak bukan urusan pelengkap kepemimpinan. Itulah kepemimpinan, yang mungkin tergambar dalam relung-relung otak dan pikiran kita. (**)