Kepemimpinan Empatik dan Neurosains: Belajar dari Michael Platt (I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seri 1: Otak Sosial dan Kepemimpinan yang Memanusiakan
Michael Platt adalah neuroscientist di Wharton School, University of Pennsylvania. Ia memimpin Wharton Neuroscience Initiative. Dengan fMRI, eye-tracking, dan analisis hormon, ia mempelajari satu pertanyaan sederhana. Apa yang terjadi di otak ketika manusia memimpin dan dipimpin?
Bukunya, The Leader's Brain, terbit tahun 2020. Tesis intinya tegas. Kepemimpinan yang efektif bukan terutama soal strategi. Ia terutama soal koneksi otak. Selama ini kita meneliti pemimpin dari luar, dari laporan keuangan dan grafik kinerja. Platt meneliti dari dalam tengkorak.
Salah satu temuan paling menarik adalah brain-to-brain coupling. Ketika seorang pemimpin berbicara dengan jujur, hangat, dan koheren, gelombang otak audiensnya mulai sinkron dengan otaknya. Bukan kiasan. Sungguh terjadi di-scanner. Pemimpin sejati, secara harfiah, menyalakan otak orang yang dipimpinnya.
Ini menjelaskan mengapa pidato penuh slide data sering hambar. Dan mengapa cerita pendek seorang ibu di pasar bisa menggetarkan ruangan. Otak manusia tidak terhubung lewat angka. Otak manusia terhubung lewat manusia lain.
Temuan kedua adalah mirror neurons. Sel-sel otak yang menyala ketika kita melakukan sesuatu, dan juga menyala ketika kita melihat orang lain melakukannya. Inilah dasar empati biologis. Inilah juga dasar emotional contagion. Pemimpin yang cemas menciptakan tim yang cemas. Pemimpin yang tenang dan hadir menciptakan tim yang berani.
Temuan ketiga adalah social pain. Riset Naomi Eisenberger yang banyak dirujuk Platt menunjukkan bahwa penolakan sosial mengaktifkan anterior cingulate cortex. Area yang sama dengan rasa nyeri fisik. Ditegur di depan publik, dipermalukan dalam rapat, dikucilkan dari grup, semua itu bukan sekadar tidak sopan. Itu adalah luka neural yang dapat berminggu-minggu menurunkan kinerja.
Tiga temuan ini mengubah cara kita memahami kepemimpinan. Pemimpin bukan komandan yang memberi perintah dari atas. Pemimpin adalah simpul saraf. Tempat banyak otak terhubung dan saling memengaruhi.
Ada gaung kuat antara temuan Platt dengan filsafat humanistik abad kedua puluh.
Martin Buber, filsuf Yahudi-Austria, membedakan dua mode hubungan. I-It dan I-Thou. Dalam I-It, manusia memperlakukan manusia lain sebagai objek. Alat, fungsi, sumber daya. Dalam I-Thou, manusia bertemu manusia lain sebagai sesama subjek. Utuh, sakral, hadir. Buber menulis: semua kehidupan nyata adalah perjumpaan. Apa yang Platt tunjukkan dengan fMRI adalah versi neural dari intuisi Buber. Ketika dua otak benar-benar bertemu, bukan sekadar bertukar informasi, ada sinkronisasi yang nyata, terukur, dan transformatif.
Carl Rogers, bapak psikologi humanistik, menetapkan tiga syarat untuk hubungan yang menyembuhkan. Empati akurat. Congruence, yaitu keselarasan antara apa yang dirasakan dan ditampilkan. Unconditional positive regard. Tiga syarat ini sekarang punya korelasi neural. Empati akurat adalah pekerjaan mirror neurons. Congruence menentukan apakah brain-to-brain coupling terjadi atau tidak. Unconditional positive regard adalah penawar bagi social pain. Pemimpin Rogersian, ternyata, juga adalah pemimpin yang otaknya bekerja dengan benar.
Lalu ada Viktor Frankl. Dari Auschwitz, ia merumuskan logoterapi. Bahwa manusia hidup dari makna. Kita dapat membaca Platt sebagai pelengkap. Manusia menemukan makna dalam koneksi. Otak yang terhubung dengan otak lain, yang dilihat dan diakui, lebih mudah menemukan apa yang Frankl sebut alasan untuk hidup. Pemimpin yang melihat anggota timnya secara sungguh-sungguh, bukan sebagai resource tapi sebagai manusia, sedang menyalurkan sesuatu yang lebih dalam dari motivasi. Ia menyalurkan makna.
Psikologi positif menambahkan dimensi lain. Barbara Fredrickson, dengan teori broaden-and-build, menunjukkan bahwa emosi positif memperluas repertoar kognitif dan sosial seseorang. Tim yang dipimpin dengan kehangatan tidak hanya lebih bahagia. Ia juga lebih kreatif, lebih lentur, lebih siap menghadapi tekanan. Fredrickson menyebut ini positivity resonance. Sebuah istilah yang nyaris identik dengan brain-to-brain coupling Platt.
Apa implikasi praktis dari semua ini?
Pertama, jangan remehkan kehadiran. Pemimpin yang muncul di lapangan, yang menatap mata, yang mendengar dengan tubuhnya, mengirim sinyal neural yang tidak dapat digantikan oleh email atau memo.
Kedua, kelola emosi sebelum kelola tim. Mood pemimpin menular dalam hitungan menit. Pagi yang Anda mulai dengan tergesa-gesa akan menjadi pagi yang seluruh kantor mulai dengan tergesa-gesa. Regulasi diri pemimpin adalah, secara harfiah, infrastruktur organisasi.
Ketiga, jaga martabat. Teguran yang perlu, sampaikan empat mata. Pengakuan yang baik, sampaikan di depan publik. Aturan sederhana ini mengakui satu fakta neural. Otak manusia memperlakukan martabat sebagai kebutuhan vital, bukan kemewahan.
Keempat, ceritakan. Data tanpa narasi tidak dapat menyalakan otak siapa pun. Pemimpin yang tahu bercerita, tentang asal-usul, tentang kegagalan, tentang harapan, sedang melakukan pekerjaan neural yang penting.
Kepemimpinan, sekarang kita tahu, dimulai dari kehadiran. Dari mata yang menatap. Dari otak yang sungguh-sungguh terhubung.
Pemimpin empatik, sebelum menjadi konsep manajemen, adalah konfigurasi neural. Dan konfigurasi itu, kabar baiknya, dapat dilatih. (Bersambung)
