Kepemimpinan Empatik dan Neurosains: Belajar dari Michael Platt (Seri II)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seri 2: Perhatian, Kepercayaan, dan Arsitektur Hubungan
Pada seri pertama, kita melihat bahwa kepemimpinan adalah peristiwa neural. Otak pemimpin dan otak yang dipimpin terhubung, sinkron, saling mewarnai. Kini kita masuk ke tiga elemen yang menjadi penyangga koneksi itu. Perhatian, kepercayaan, dan ritual hubungan.
Michael Platt menyebut perhatian sebagai mata uang termahal di otak. Otak manusia hanya dapat fokus penuh pada satu hal pada satu waktu. Multitasking yang sering dibanggakan adalah ilusi. Yang sebenarnya terjadi adalah switching cepat, dengan ongkos kognitif yang nyata.
Implikasinya untuk pemimpin tajam. Pemimpin bukan hanya manajer tugas. Pemimpin adalah arsitek perhatian. Penjaga apa yang patut dilihat tim, dan apa yang perlu dilewati. Setiap rapat tambahan, setiap pesan urgent palsu, setiap quick check, adalah pajak yang dikenakan pada perhatian kolektif. Pemimpin yang baik bukan yang paling banyak bicara. Ia yang paling cermat memilih apa yang patut dibahas.
Riset Platt dengan eye-tracking menambahkan dimensi yang menarik. Ia menemukan bahwa pemimpin yang dipercaya punya pola gaze yang khas. Mereka menatap mata lawan bicara, bukan dahi, bukan bibir. Tatapan stabil, hangat, tidak mengintimidasi. Otak primata, termasuk otak manusia, sangat sensitif pada arah pandangan. Kita membaca niat orang lain dari mata sebelum dari kata-katanya.
Ini bukan teknik manipulatif. Ini konsekuensi dari fakta bahwa kepercayaan, di otak, adalah keputusan cepat. Amigdala memutuskan dalam dua ratus milidetik apakah seseorang aman atau ancaman. Tatapan, postur, nada, semua diolah sebelum konten verbal sampai ke kortek.
Lalu ada oksitosin. Hormon yang dulu dikenal hanya dalam konteks ibu menyusui, kini diakui sebagai infrastruktur sosial yang luas. Sentuhan yang aman, kontak mata yang tulus, kerentanan yang dibagikan, ritual bersama, semua memicu oksitosin. Dan oksitosin, dalam dosis yang tepat, membangun trust yang biologis, bukan sekadar kontraktual.
Tim yang hanya dihubungkan oleh KPI dan bonus adalah tim yang akan bubar pada krisis pertama. Tim yang dihubungkan oleh oksitosin, oleh ritual makan bersama, oleh perayaan kecil, oleh kerentanan yang saling diperlihatkan, adalah tim yang bertahan.
Dalam pengalaman memimpin perusahaan selama bertahun-tahun, saya melihat ini berkali-kali. Klien tidak ingat presentasi yang paling pintar. Mereka ingat malam ketika kita makan bersama setelah deadline yang berat. Tim tidak diikat oleh struktur organisasi. Tim diikat oleh kenangan bersama.
Filsafat dan psikologi punya banyak kata untuk ini.
Abraham Maslow, dalam hierarki kebutuhannya, menempatkan belonging tepat di atas kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Sebelum manusia dapat berkembang, ia harus merasa dimiliki dan memiliki. Yang Platt tunjukkan secara neural, bahwa otak kita haus pada koneksi, adalah versi laboratorium dari intuisi Maslow.
Tetapi Maslow di akhir hidupnya mengoreksi sendiri hierarkinya. Ia mengusulkan tingkat di atas self-actualization. Yaitu self-transcendence. Manusia paling utuh bukan yang paling memenuhi dirinya sendiri, tapi yang melampaui dirinya untuk sesuatu yang lebih besar. Pemimpin self-transcendent menarik tim ke orbit makna. Dan orbit itu, kita tahu sekarang, ditandai oleh oksitosin dan brain coupling.
Mihaly Csikszentmihalyi memberi kontribusi lain dengan konsep flow. Tim yang berada dalam flow, fokus jernih, tantangan dan keterampilan seimbang, waktu seakan menghilang, adalah tim yang berperforma puncak. Salah satu prasyarat flow adalah perhatian yang tidak terganggu. Pemimpin yang melindungi attention timnya sedang menciptakan kondisi neural untuk flow kolektif.
Martin Seligman, bapak psikologi positif, dengan model PERMA mengidentifikasi lima pilar well-being. Positive emotion, Engagement, Relationships, Meaning, Accomplishment. Tiga dari lima, yaitu engagement, relationships, dan meaning, secara langsung berkorelasi dengan dinamika neural yang Platt ukur. Pemimpin yang serius pada well-being timnya bukan hanya melakukan kebajikan. Ia melakukan strategi.
Lalu ada wawasan dari tradisi yang lebih dalam. Mulla Sadra, filsuf Persia abad ketujuh belas, memperkenalkan gagasan harakah jauhariyyah. Gerak substansial. Setiap entitas, termasuk manusia, terus-menerus menjadi. Tidak ada keadaan beku. Pemimpin yang sadar pada gerak ini memperlakukan timnya bukan sebagai inventaris kompetensi, tapi sebagai jiwa-jiwa yang sedang menjadi. Perhatiannya, kepercayaannya, kehadirannya, adalah bagian dari proses penjadian itu.
Apa yang dapat kita ambil sebagai praktik?
Pertama, jaga kuota perhatian organisasi seperti menjaga kuota anggaran. Setiap rapat yang ditambahkan harus membayar harganya. Setiap notifikasi yang diaktifkan harus terbukti perlu.
Kedua, latih tatapan. Bukan sebagai trik, tapi sebagai disiplin hadir. Dalam percakapan, tutup laptop. Letakkan ponsel. Tatap mata. Otak lawan bicara akan tahu, dalam milidetik, bahwa Anda sungguh-sungguh di sana.
Ketiga, bangun ritual yang melepaskan oksitosin. Sapaan harian yang tulus, makan siang bersama yang tidak dijadikan rapat, perayaan kecil untuk pencapaian kecil. Kesemuanya tampak sepele, tapi adalah investasi dalam infrastruktur kepercayaan.
Keempat, izinkan kerentanan. Pemimpin yang mengakui ketidaktahuannya, yang berbagi keraguan, yang meminta maaf ketika perlu, sedang membangun trust yang lebih kokoh daripada semua tampilan kompetensi. Brené Brown menyebut ini the courage to be vulnerable. Otak yang berhadapan dengan kerentanan jujur mencatat: ini orang yang aman.
Kelima, lindungi martabat dalam transisi. Cara seseorang dipromosikan, dimutasi, atau diberhentikan adalah ujian terakhir kepemimpinan. Otak organisasi mencatat semua transisi dan mengambil pelajaran. Sekali martabat dihina dalam transisi, kepercayaan butuh waktu lama untuk pulih.
Pemimpin empatik, kita semakin mengerti, bukan pemimpin yang lemah lembut sebagai gaya. Ia pemimpin yang membaca otak manusia dengan benar. Dan mengelola arsitektur hubungan dengan ketelitian seorang insinyur. (Bersambung)
