Ketika Pikiran Menyentuh Angka: Perjalanan 5 Filsuf Cari Hakikat Matematika (II)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibn Sina: Bilangan Ada di Dua Tempat
Seribu tahun setelah Plato, di Bukhara, seorang anak muda bernama Ibn Sina (980–1037) membaca Metafisika Aristoteles sebanyak empat puluh kali. Ia tetap tidak paham. Lalu ia menemukan penjelasan dari al-Farabi. Tiba-tiba semuanya jelas.
Ibn Sina tumbuh menjadi salah satu filsuf terbesar dalam sejarah. Orang Barat menyebutnya Avicenna. Kitab-kitabnya diajarkan di universitas-universitas Eropa selama enam ratus tahun.
Pada suatu bagian dalam kitab asy-Syifa, Ibn Sina mengajukan pertanyaan Plato. Di mana bilangan berada?
Ia tidak setuju dengan Plato sepenuhnya. Tetapi ia juga tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan bilangan hanya ada di benak kita dan tidak ada di dunia nyata.
Jawaban Ibn Sina lebih halus. Bilangan, katanya, ada di dua tempat sekaligus.
Pertama, bilangan ada di dunia nyata. Ketika saya melihat tiga ekor kambing, keberadaan “tiga”-nya itu nyata. Saya tidak mengarang. Ada tiga. Bukan empat. Bukan dua. Tetapi tiga ini selalu menempel pada sesuatu. Tiga kambing. Tiga kelereng. Tiga anak.
Kedua, bilangan ada di dalam pikiran. Saya dapat memikirkan angka “tiga” tanpa harus memikirkan kambingnya. Ketika saya melakukan ini, tiga itu hidup di dalam benak saya. Ibn Sina menyebutnya wujud dzihni. Wujud mental. Wujud pikiran.
Jadi bilangan tidak melayang sendirian di dunia Idea seperti kata Plato. Tetapi juga tidak hanya sekadar nama yang kita karang. Bilangan memiliki dua rumah. Rumah di dunia nyata, selalu menempel pada sesuatu. Dan rumah di dalam pikiran, di mana ia dapat kita olah sendiri.
Bayangkan seekor ikan. Ikan itu hidup di laut. Itu rumah aslinya. Tetapi ketika kita memindahkannya ke akuarium di ruang tamu, ia masih hidup. Ia kini hidup di rumah keduanya. Bilangan, bagi Ibn Sina, seperti ikan ini. Rumah aslinya di dunia, menempel pada benda-benda. Tetapi ia juga dapat hidup di akuarium pikiran kita, terlepas dari benda.
Gagasan sederhana ini, ternyata, memecahkan banyak kerumitan. Kita tidak perlu dunia Idea yang melayang. Kita juga tidak perlu mengingkari bahwa matematika itu nyata.
Hairi Yazdi: Ketika Pengetahuan Tidak Butuh Perantara
Seribu tahun setelah Ibn Sina, seorang filsuf Iran bernama Mehdi Hairi Yazdi (1923–1999) mengambil benang merah dari Ibn Sina. Lalu ia menariknya sampai ke ruang kuliah filsafat analitik di Toronto, Kanada.
Hairi Yazdi memiliki hidup yang langka. Ia dididik di seminari klasik di Qom. Kemudian ia belajar filsafat Barat di Michigan dan Toronto. Ia membaca Russell, Wittgenstein, dan Ryle. Dan ia membaca Mulla Sadra serta Thabathaba'i. Ia memiliki dua bahasa filsafat sekaligus.
Bukunya yang paling terkenal berjudul Knowledge by Presence. Di sana ia membahas sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat dalam.
Ada dua cara kita mengetahui sesuatu.
Cara pertama adalah dengan perantara. Saya tahu tentang kota Paris karena saya membaca buku tentang Paris. Saya tidak pernah ke sana. Tetapi saya punya gambaran di kepala saya. Gambaran itu adalah perantara antara saya dan kota Paris. Dalam filsafat, ini disebut pengetahuan representasional. Pengetahuan melalui perwakilan.
Cara kedua adalah tanpa perantara. Ketika saya merasa sakit gigi, saya tidak butuh gambaran sakit gigi di kepala saya. Sakitnya hadir pada saya secara langsung. Saya adalah sakit gigi itu, untuk sesaat. Tidak ada jarak antara saya yang tahu dan sakit yang diketahui. Hairi Yazdi menyebutnya ilm huduri. Pengetahuan dengan kehadiran.
Nah, pertanyaan yang diajukan Hairi Yazdi adalah ini. Ketika saya tahu bahwa 2+2=4, apakah itu pengetahuan jenis pertama atau kedua?
Jika jenis pertama, maka harus ada gambaran bilangan di kepala saya yang mewakili bilangan asli. Tetapi bilangan asli ada di mana? Di dunia Idea yang tidak dapat disentuh? Bagaimana gambaran di kepala saya dapat “cocok” dengan dunia yang tidak pernah saya kunjungi?
Hairi Yazdi menjawab, pengetahuan matematika adalah jenis kedua. Kita mengetahui bilangan karena bilangan hadir pada kita secara langsung. Seperti sakit gigi yang hadir tanpa perantara.
Bilangan tidak perlu dijemput dari dunia Idea. Bilangan sudah hadir di kesadaran kita, karena akal kita dan struktur logis bilangan memang berasal dari sumber yang sama.
Ini adalah ide yang membuat filsafat Islam memberikan sumbangan unik. Dalam tradisi Barat, pengetahuan selalu diandaikan sebagai “subjek yang tahu” di satu sisi dan “objek yang diketahui” di sisi lain. Selalu ada jarak. Selalu perlu jembatan. Dalam tradisi Islam, khususnya yang diwariskan Ibn Sina sampai Mulla Sadra dan Thabathaba'i hingga Hairi Yazdi, ada jenis pengetahuan yang tidak butuh jembatan. Karena tidak ada jarak.
Ibn Sina dan Hairi Yazdi, walau terpisah seribu tahun, sebenarnya sedang berbicara hal yang sama. Ibn Sina mengatakan bilangan punya rumah di pikiran. Hairi Yazdi menjelaskan bagaimana bilangan itu bisa tinggal di rumah pikiran tanpa harus dijemput dari tempat lain. (Bersambung)
