Konten dari Pengguna

Ketika Sains Menjadi Saksi

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bebaskan Palestina!  (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Bebaskan Palestina! (Sumber: Net)

Laporan saintifik, data yang mengguncang, dan tanggung jawab ilmu pengetahuan di hadapan sejarah. Berdasarkan data resmi PCBS, UNRWA, ICJ, dan organisasi internasional · 2025

Pendahuluan: Angka yang Bukan Sekadar Angka

Ada pertanyaan yang selalu menghantui filsafat sains: apakah ilmu pengetahuan pernah netral? Ketika kita berbicara tentang data, metodologi, dan fakta empiris, kita sering membayangkan dunia tanpa wajah — kolom-kolom angka yang dingin dan tak memihak. Namun di balik setiap statistik yang kita catat, terdapat manusia dengan nama, mimpi, keluarga, dan masa depan yang mungkin tak pernah terwujud.

Laporan ini adalah jawaban atas pertanyaan itu. Ia adalah sebuah sintesis komprehensif dari bukti-bukti saintifik, historis, dan hukum yang mendokumentasikan pengusiran sistematis dan genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina. Dengan menggunakan kerangka analitis yang merujuk pada data resmi dari Badan Pusat Statistik Palestina (PCBS), Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), laporan Komisi PBB, keputusan Mahkamah Internasional (ICJ), serta analisis para sejarawan terkemuka, dokumen ini bertujuan menunjukkan bagaimana sains — melalui pendekatan ilmu sejarah, kajian kesehatan masyarakat, analisis kebijakan, dan dokumentasi kesaksian korban — telah digunakan untuk memperkuat upaya penegakan keadilan.

Magnitude Tragedi: Sebuah Gambaran Awal

Sebelum memasuki analisis mendalam, mari kita renungkan sejenak fakta-fakta berikut yang menggambarkan dahsyatnya skala tragedi yang menimpa bangsa Palestina selama lebih dari tujuh dekade terakhir. Angka-angka ini bukan sekadar statistik — melainkan gambaran nyata tentang jutaan nyawa, mimpi yang hancur, dan generasi yang tumbuh dalam pengasingan.

Dari total 15,49 juta warga Palestina di dunia pada akhir tahun 2025, lebih dari separuhnya — sekitar 7,8 juta jiwa atau 50,3% dari total penduduk — tinggal di luar Palestina bersejarah, terpencar di berbagai penjuru dunia sebagai diaspora. Dari jumlah ini, 6,5 juta jiwa berada di negara-negara Arab tetangga. Data ini mengungkapkan realitas pahit: mayoritas bangsa Palestina tidak lagi tinggal di tanah leluhur mereka.

"Mereka adalah generasi pengungsi, anak cucu dari mereka yang terusir pada tahun 1948, yang mewarisi kenangan akan rumah yang tak pernah mereka lihat dan kunci rumah yang tak pernah bisa mereka gunakan."

Paradoks yang lebih dalam terjadi di dalam negeri sendiri. Di wilayah yang tersisa dari Negara Palestina — Tepi Barat dan Jalur Gaza — proporsi pengungsi justru sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa 42,2% penduduk di wilayah Palestina adalah pengungsi. Angka ini sangat timpang: di Tepi Barat, 26,3% penduduknya adalah pengungsi, sementara di Jalur Gaza situasinya jauh lebih ekstrem — 66,1% penduduknya adalah pengungsi. Artinya, dua dari setiap tiga orang yang tinggal di Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi. Seseorang yang lahir dan besar di Gaza, di tanah yang sama tempat orang tuanya lahir, tetap disebut pengungsi — karena rumah nenek moyangnya ada di tempat lain yang tak bisa ia kunjungi.

Lebih dari Sekadar Angka UNRWA

Penting untuk memahami bahwa angka 5,9 juta pengungsi terdaftar di UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) tidak hanya mencakup korban langsung pengungsian, melainkan akumulasi dari beberapa generasi keturunan pengungsi 1948. Angka ini bahkan belum mencakup ratusan ribu warga Palestina yang terusir pada perang 1967 (Naksa) dan setelahnya; hampir 2 juta warga Gaza yang mengungsi secara internal sejak dimulainya agresi Oktober 2023 — sekitar 90% dari total populasi Gaza dalam waktu kurang dari dua tahun; serta puluhan ribu warga Tepi Barat yang terusir dari kamp-kamp pengungsian mereka pada tahun 2025.

Kesaksian PBB: Kebijakan yang Sengaja

Sejak tahun 1971, sebuah Komite Khusus PBB telah menyimpulkan bahwa Israel secara sengaja melaksanakan kebijakan untuk mencegah pengungsi Palestina kembali ke rumah mereka dan memaksa penduduk di wilayah pendudukan untuk pergi — baik melalui pengusiran langsung (deportasi) maupun tidak langsung melalui kondisi hidup yang dibuat tidak layak untuk ditinggali. Kebijakan ini oleh PBB dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.

Perjalanan penderitaan rakyat Palestina telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade, dimulai dari Nakba (Bencana Besar) tahun 1948, dilanjutkan dengan Naksa (Kemunduran) tahun 1967, hingga genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Untuk memahami betapa sistematis dan berkesinambungannya tragedi ini, kita perlu menelusuri setiap fase secara kronologis — dari akar historisnya hingga krisis hari ini.

Metodologi: Mengapa Sains Harus Bicara

Laporan ini disusun berdasarkan data statistik resmi dari Badan Pusat Statistik Palestina (PCBS), dokumen sejarah tentang Nakba dan pembersihan etnis Palestina, analisis kerangka teoritis genosida, dokumen hukum dari Mahkamah Internasional (ICJ), studi epidemiologi dan laporan organisasi kemanusiaan internasional, serta dokumentasi korban lintas sektor dan kelompok masyarakat.

Dalam tradisi filsafat sains, kita mengenal perbedaan antara sains deskriptif dan sains normatif. Laporan ini bergerak di keduanya: ia mendeskripsikan realitas dengan akurasi empiris, namun juga mengakui bahwa di balik setiap pilihan metodologis terdapat komitmen etis. Ketika data menunjukkan genosida, diam bukan pilihan yang netral — diam adalah pilihan moral. (**)

Artikel berikutnya dalam seri ini akan membahas Nakba 1948: bagaimana data arkeologis, demografis, dan sejarah merekonstruksi bencana yang menimpa lebih dari 750.000 warga Palestina, penghancuran 531 desa, dan lebih dari 70 pembantaian.