Khorshid dan Anak Jalanan (Perspektif Filsafat Sains) (Bag I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah Artikel Rasio-Romantik Terinspirasi dari Film Majid Majidi (2020)
“Bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, membawa di dalam dirinya sebuah cahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh kemiskinan, ketidakadilan, atau kegelapan apapun — dan tugas peradaban adalah memastikan cahaya itu diberi ruang untuk bersinar.”
— Benang merah lintas tradisi pemikiran manusia
Pengantar
Ketika Sebuah Film Berbicara Kepada Seluruh Peradaban
Ada film yang selesai ketika layar menjadi gelap. Dan ada film yang justru baru benar-benar mulai ketika layar menjadi gelap. Khorshid — Sun Children karya Majid Majidi (2020) termasuk golongan kedua.
Film ini tidak memberi kita jawaban yang mudah. Tidak ada pahlawan yang datang dan turun untuk menyelamatkan. Tidak ada sistem yang tiba-tiba berubah adil. Yang ada hanyalah empat anak, sebuah sekolah, dan sesuatu yang tumbuh perlahan di dalam diri mereka tanpa bisa diberi nama yang tepat kecuali dengan satu kata, yaitu sebuah kesadaran.
Artikel ini adalah upaya untuk memahami pesan yang disampaikan dalam film itu, bukan hanya sebagai film, tetapi sebagai titik pertemuan antara filsafat, sains, agama, sastra, dan seni, dalam satu bahasa yang sama. Yaitu, penderitaan yang tak pernah menyerah.
Kita akan melihat perjalanan Ali dan teman-temannya yang tersusun dalam 14 babak, kemudian menghubungkan dengan pemikiran para tokoh dari berbagai zaman dan budaya.
Yang akan terlihat adalah hal sederhana namun mendalam, “matahari” dalam film ini bukan hanya sebuah menda di langit, tetapi sesuatu yang ada dalam diri setiap anak.
✦ BAGIAN PERTAMA ✦
Khorshid
Kisah dalam Empat Belas Babak
Berikut adalah kisah Khorshid sebagaimana hidup dalam ingatan, bukan sekadar ringkasan cerita, tetapi sebagai empat belas momen yang masing-masing menyimpan kebenaran yang dalam tentang kehidupan.
1. Babak 1
Jalanan Adalah Rumah Mereka
Teheran. Pagi yang dingin dan berisik. Ali berlari, dan ia hampir selalu berlari. Ia berusia dua belas tahun, bertubuh kecil, tetapi matanya terlihat jauh lebih tua dari usianya, menandakan seolah telah melihat terlalu banyak hal dalam hidup. Di belakangnya, ada tiga sahabatnya, yaitu Mamad, Reza, dan Abbas, merekapun ikut berlari. Mereka tidak sedang bermain, melainkan sedang bekerja untuk bertahan hidup.
Bagi Ali, jalanan bukanlah tempat yang berbahaya. Jalanan adalah tempat ia bekerja, tempat ia mencari makan, sekaligus tempat ia menjalani hidup sehari-hari. Ia mengetahui dengan sangat baik di mana bisa menjual barang bekas, di mana harus menghindari polisi, dan di mana ia bisa mendapatkan makanan saat lapar di malam hari. Pengetahuan ini bukan diperoleh dari sekolah, melainkan dari pengalaman panjang bertahan hidup di kondisi sulit.
Ibunya sedang sakit. Ia tidak memiliki ayah. Tidak ada yang menunggunya di rumah selain tagihan dan kekhawatiran yang terus menumpuk.
Di saat yang sama, di kota yang sama, jutaan orang lain berangkat kerja, dan anak-anak lain pergi ke sekolah dengan tas dan bekal mereka. Ali dan ketiga sahabatnya bergerak di antara semua itu. Keberadaan dan pergerakan mereka terlihat secara fisik, tetapi secara sosial mereka seolah tidak benar-benar dilihat atau dianggap.
2. Babak 2
Perintah dari Dunia Bawah
Ada seorang bos, seorang pria dewasa yang memiliki kekuasaan atas anak-anak seperti Ali. Ia terbiasa memerintah anak-anak kecil, karena anak-anak kecil tidak memiliki posisi untuk menolak atau melawan.
Ia memberikan sebuah tugas kepada Ali, tugas yang tidak biasa dan berisiko. Di bawah sebuah sekolah, dikabarkan terdapat sesuatu yang berharga. Untuk mendapatkannya, harus dibuat sebuah terowongan dari dalam gedung sekolah. Namun, agar bisa masuk ke dalam gedung tersebut, seseorang harus terlebih dahulu menjadi murid di sana.
Ali mendengarkan tanpa banyak bertanya. Dalam dunianya, bertanya adalah sebuah kemewahan yang tidak selalu bisa dilakukan, dan mempercayai orang dewasa adalah sesuatu yang sudah lama hilang karena pengalaman hidupnya.
Ia hanya mengatakan kepada tiga sahabatnya bahwa mereka harus masuk ke sekolah itu.
Empat anak jalanan yang belum pernah benar-benar merasakan duduk sebagai murid kini harus berpura-pura menjadi siswa. Ini adalah bentuk penyamaran yang tampak mustahil, tetapi bagi mereka yang terbiasa bertahan hidup dengan kecerdikan dan improvisasi (kemampuan menyesuaikan diri dengan cepat), ini hanyalah tantangan baru yang harus dihadapi.
3. Babak 3
Gerbang yang Belum Pernah Mereka Lewati
Pagi pertama di sekolah.
Ali berdiri di depan gerbang dan untuk pertama kalinya melihat dari dekat dunia yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan: anak-anak berseragam rapi, membawa tas di punggung, dan bekal makanan di tangan mereka. Hal-hal yang tampak biasa bagi banyak anak terasa asing dan jauh bagi dirinya.
Gurunya, Pak Mahmoud, adalah seseorang yang peka dan tidak mudah tertipu oleh penampilan luar. Ia melihat Ali dan langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda. Namun, ia juga melihat sesuatu yang lain, yaitu kecerdasan dan rasa lapar yang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga lapar intelektual (keinginan untuk belajar dan memahami) dan lapar emosional (kebutuhan akan perhatian, pengakuan, dan makna).
Ia membiarkan Ali masuk.
Di dalam kelas, Ali duduk kaku. Pensil terasa aneh di tangannya — tangan yang lebih terbiasa mendorong gerobak dan mengangkat kardus. Anak-anak lain menulis. Ali menatap papan tulis seolah itu adalah benda dari planet lain.
Mamad berbisik dari bangku belakang: "Kita kapan mulai menggali?"
Ali mendesis: "Diam. Perhatikan dulu."
4. Babak 4
Abbas yang Berbeda
Di antara keempat sahabat tersebut, Abbas adalah yang paling berbeda.
Ia memiliki keterbatasan pada pendengarannya, artinya ia tidak dapat mendengar suara. Namun, dunianya yang sunyi justru membuat penglihatannya menjadi lebih peka. Ia mampu membaca gerak bibir, memahami ekspresi wajah, dan menangkap situasi di sekitarnya dengan sangat tajam. Kemampuan ini menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap lingkungan (kemampuan memahami kondisi sekitar secara mendalam tanpa bergantung pada suara).
Di sekolah ini, terdapat kelas khusus untuk anak-anak dengan kebutuhan pendengaran. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Abbas berada di ruang di mana semua orang berkomunikasi dengan cara yang sama seperti dirinya, ysitu menggunakan bahasa isyarat, ekspresi wajah, dan keheningan yang bermakna.
Pada momen ini, wajah Abbas menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat sebelumnya, ia merasakan sebuah rasa yang sebelumnya tidak ia rasakan yaitu perasaan diterima. Ia merasakan bahwa ia berada di tempat yang sesuai dengan dirinya.
Ini bukan bagian dari rencana awal mereka. Ini bukan tujuan dari tugas yang diberikan oleh bos. Namun, sesuatu mulai terjadi di luar rencana tersebut, sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.
5. Babak 5
Tanah di Bawah Kaki Mereka
Pada malam hari, keempat anak tersebut menyelinap masuk.
Dengan alat yang sederhana, mereka mulai menggali tanah. Tanahnya keras, udara di dalam sempit dan pengap, serta cahaya hanya berasal dari senter yang kadang mati. Mereka bekerja secara bergantian, menggunakan tangan yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat.
Saat menggali, mereka berbicara dengan pelan tentang apa yang akan mereka lakukan jika mendapatkan uang dari tugas tersebut. Mereka membicarakan ibu Ali yang perlu diobati, serta impian-impian kecil yang selama ini mereka pendam karena takut untuk mengungkapkannya secara terbuka.
Reza mengatakan bahwa ia ingin memiliki sepatu baru yang tidak rusak. Mamad mengatakan bahwa ia ingin makan nasi dengan ayam setiap hari, bukan hanya sesekali.
Mereka tertawa pelan di dalam ruang gelap itu.
Adegan ini menjadi sangat menyentuh karena menunjukkan bahwa impian terbesar mereka sangat sederhana, tetapi tetap terasa sangat jauh dari jangkauan mereka.
6. Babak 6
Ketika Huruf Mulai Berbicara
Sesuatu yang tidak direncanakan mulai terjadi pada Ali.
Di kelas, ia mulai memperhatikan pelajaran bukan hanya karena tugasnya, tetapi karena ia mulai merasa tertarik. Pak Mahmoud mengajar dengan cara yang tidak menghakimi. Ia tidak mempermalukan murid yang tidak tahu, tidak menghukum kesalahan, tetapi memberikan ruang untuk mencoba dan belajar.
Suatu hari, Ali berhasil membaca satu kalimat secara utuh untuk pertama kalinya.
Bagi sebagian anak, ini mungkin hal kecil. Namun, bagi Ali, ini adalah pengalaman yang sangat besar. Ini seperti membuka pintu yang selama ini tertutup. Huruf-huruf yang sebelumnya hanya terlihat seperti coretan tanpa makna kini menjadi sesuatu yang memiliki suara, arti, dan kekuatan.
Ia tidak menunjukkan perasaannya kepada orang lain. Ia hanya duduk diam setelah kelas selesai, menatap buku di tangannya, seolah menyadari bahwa benda sederhana itu menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia temukan di jalanan.
7. Babak 7
Ibu
Di rumah yang sempit dan dengan cahaya yang sebatas remang-remang, didalamnya ada ibu Ali terbaring sakit.
Film tidak banyak menampilkan adegan ini, tetapi setiap kali ditampilkan, dampaknya sangat kuat secara emosional. Ali duduk di samping ibunya dan menggenggam tangannya yang kurus. Ia tidak menangis di depan ibunya, karena ia merasa harus kuat. Dalam pikirannya, ia adalah satu-satunya “lelaki” di rumah, yaitu peran sosial sebagai penanggung jawab keluarga meskipun masih anak-anak.
Di luar rumah, dunia tidak memberikan perhatian. Tetangga memiliki masalah mereka sendiri. Pemerintah tidak hadir dalam kehidupan mereka. Yang ada hanyalah Ali, ibunya, dan sebuah janji yang tidak pernah diucapkan secara langsung, tetapi selalu ia pegang, janji bahwa ia akan berusaha menyembuhkan ibunya.
Semua yang dilakukan Ali dengan menggali, menyamar menjadi murid, bertahan di sekolah, bahkan menahan amarah kepada bos, keberanian itu berasal dari satu sumber utama, yaitu cinta kepada ibunya.
Inilah inti penggerak (motivasi utama yang mendorong tindakan) dari seluruh cerita. Bukan soal petualangan atau harta, tetapi tentang hubungan antara anak dan ibunya.
8. Babak 8
Pak Mahmoud Mulai Curiga
Pak Mahmoud bukan orang yang mudah tertipu.
Ia memperhatikan keempat anak tersebut dengan saksama. Cara mereka duduk terlihat terlalu waspada. Cara mereka melihat sekeliling menunjukkan kebiasaan untuk selalu berhati-hati. Cara mereka berkomunikasi satu sama lain menggunakan kode-kode kecil yang tampak seperti kebiasaan bertahan hidup.
Namun, ada hal lain yang lebih ia perhatikan, yaitu cara Ali belajar. Ali menyerap pelajaran dengan sangat cepat, seolah ia takut tidak akan memiliki kesempatan lagi di masa depan. Ini menunjukkan adanya motivasi intrinsik, yaitu adanya dorongan dari dalam diri sendiri untuk belajar, bukan karena paksaan.
Pak Mahmoud tidak langsung menegur atau menghakimi. Ia memilih untuk mendekati Ali secara perlahan. Ia bertanya tentang keluarga dan kehidupan sehari-hari. Ali menjawab dengan hati-hati, memilih kata-kata dengan penuh pertimbangan.
Namun, ada satu momen ketika Ali tanpa sadar menjawab dengan jujur. Dari jawaban kecil tersebut, Pak Mahmoud mulai memahami situasi yang sebenarnya.
Di sini terlihat bentuk pendidikan yang jarang, dimana saat seorang guru yang tidak langsung menilai, tetapi memilih untuk memahami terlebih dahulu. (Bersambung)
