Konten dari Pengguna

Khorshid dan Anak Jalanan (Perspektif Filsafat Sains) (Bag III)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Khorsid/Sun Children (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Film Khorsid/Sun Children (Sumber: Net)

✦ BAGIAN KEDUA ✦

Jembatan Hermeneutik

Dari Gambar ke Gagasan

Sebelum memasuki rimba pemikiran lintas tradisi, perlu kita bangun sebuah jembatan metodologis, yaitu memahami mengapa film seperti Khorshid bisa menjadi teks yang dibaca oleh filsafat, sains, dan tradisi keagamaan sekaligus?

Jawabannya terletak pada apa yang dilakukan Majidi dengan kameranya. Ia tidak membuat film tentang kemiskinan untuk mendeskripsikan kemiskinan. Ia membuat film tentang kemiskinan sebagai pertanyaan — pertanyaan tentang martabat, tentang potensi tersembunyi, tentang apa yang terjadi ketika sistem gagal memberikan kondisi minimum bagi jiwa manusia untuk mekar.

Pertanyaan ini adalah pertanyaan universal. Ia muncul dalam teks-teks Konfusius, dalam puisi-puisi Rumi, dalam teori-teori Vygotsky, dalam khotbah-khotbah Guru Nanak, dalam novel-novel Dickens , karena pertanyaan tentang siapa yang berhak atas cahaya adalah pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab oleh peradaban manapun.

Yang membuat Khorshid istimewa adalah cara Majidi menjawab pertanyaan itu tanpa jawaban. Ia tidak memberi resolusi. Ia memberi arah. Ali berjalan, dan siapun yang menontonnya, merekalah yang menentukan akhir dari cerita tersebut. Karena, satu cerita yang sama bisa memiliki makna yang berbeda tergantung bagaimana kita memahaminya.

✦ BAGIAN KETIGA ✦

Perspektif Filsafat

Cahaya Akal Budi Melintasi Abad

Filsafat, dalam tradisi terbaiknya, selalu dimulai dari yang konkret, yaitu dari pengalaman manusia yang paling nyata dan paling menyentuh kehidupan sehari-hari, sebelum melangkah ke abstraksi. Empat anak di Teheran adalah titik konkret itu. Para pemikir berikut adalah mereka yang pernah, dari berbagai titik dunia dan waktu, berdiri di hadapan pertanyaan yang sama.

1. Filsafat Pendidikan dan Martabat Anak

a. Janusz Korczak (1878–1942) | Polandia / Yahudi

Dokter, seorang ahli dalam bidang pendidikan, dan penulis yang mendirikan panti asuhan untuk anak-anak miskin di Warsawa, dan menolak meninggalkan mereka bahkan ketika Nazi datang, ia berjalan bersama anak-anak asuhannya menuju kematian di Treblinka.

Korczak menulis bahwa anak-anak bukan 'calon manusia' melainkan mereka sudah menjadi manusia seutuhnya sejak lahir, dengan hak penuh atas martabat dan kegembiraan. Ia percaya bahwa setiap anak membawa sebuah dunia di dalam dirinya, dan tugas orang dewasa adalah tidak menghancurkan dunia itu. Ali dalam Khorshid adalah persis anak yang Korczak perjuangkan, seorang anak yang diperlakukan dunia sebagai alat ekonomi, padahal ia adalah manusia yang lengkap dengan mimpi, rasa sakit, dan kapasitas untuk mencintai. Bahwa Korczak sendiri memilih mati bersama anak-anak yang ia jaga adalah pernyataan filosofis terbesar yang pernah dibuat seseorang tentang nilai seorang anak.

b. Maria Montessori (1870–1952) | Italia

Dokter dan pendidik yang membuka sekolah pertamanya, bernama “Casa dei Bambini” di kawasan kumuh Roma untuk anak-anak jalanan yang dianggap tidak bisa dididik.

Montessori menemukan bahwa ketika anak diberi lingkungan yang menghormati rasa ingin tahu mereka, bukan lingkungan yang memaksa, menghukum, atau mempermalukan mereka, maka mereka belajar dengan cara yang mengejutkan semua orang. Pak Mahmoud dalam Khorshid adalah guru Montessori sejati, ia melihat sebelum menghakimi, ia menunggu sebelum memutuskan, ia mempercayai sebelum ada bukti. Montessori akan mengenali sekolah itu sebagai ruang di mana metodenya bekerja paling murni, bukan karena fasilitasnya, tapi karena ada seorang guru yang percaya bahwa setiap anak membawa kunci perkembangannya sendiri.

c. Rabindranath Tagore (1861–1941) | India / Bengal

Penyair pemenang Nobel yang mendirikan sekolah Shantiniketan sebagai penolakan terhadap sistem pendidikan kolonial yang kaku dan mematikan kreativitas.

Bagi Tagore, pendidikan sejati adalah membebaskan jiwa, bukan mengisi kepala. Ia menulis bahwa seorang anak yang bermain di lumpur pun sedang belajar tentang alam semesta. Abbas yang tuli dan menemukan dunianya di kelas bahasa isyarat adalah gambaran hidup dari filosofi Tagore: bahwa setiap jiwa memiliki frekuensinya sendiri, dan pendidikan yang baik adalah yang menemukan frekuensi itu, bukan memaksa semua jiwa untuk mengikuti satu irama atau pola yang sama. Tagore akan melihat momen Abbas di kelas bahasa isyarat dan berkata “inilah pendidikan yang sesungguhnya, bukan sekedar pemindahan pengetahuan, tetapi pertemuan antara jiwa anak dengan dunia yang benar-benar ia pahami.”

2. Filsafat Kemiskinan dan Kesadaran Kritis

a. Paulo Freire (1921–1997) | Brasil

Pendidik dan filsuf yang mengembangkan pedagogi kritis dari pengalaman langsung mengajar orang-orang miskin di Brasil.

Dalam karyanya yang paling terkenal, Freire menulis bahwa orang miskin sering diajarkan untuk melihat diri mereka sendiri sebagai masalah, bukan sebagai solusi, melainkan sebagai objek sejarah, bukan subjeknya. Pendidikan sejati, baginya, adalah conscientizacao, proses di mana seseorang mulai sadar bahwa kemiskinannya bukan takdir, melainkan kondisi yang diciptakan dan bisa diubah. Momen Ali membaca kalimat pertamanya adalah momen conscientizacao yang murni, disaat ia tidak hanya belajar membaca huruf, ia mulai membaca dunia. Dan ketika seseorang bisa membaca dunia, ia tidak bisa lagi menjadi sepenuhnya pasif di hadapannya.

b. Frantz Fanon (1925–1961) | Martinique / Aljazair

Psikiater dan filsuf yang menganalisis dampak psikologis penindasan kolonial terhadap kesadaran diri kelompok yang tidak diberi kesempatan dillingkungan masyarakat dalam berbagai hal.

Fanon menulis tentang bagaimana sistem menginternalisasi rasa rendah diri pada orang-orang yang dimarjinalkan, yaitu mereka mulai percaya bahwa kemiskinan, ketertinggalan, dan ketidakberdayaan mereka adalah hasil dari kekurangan mereka sendiri, bukan dari struktur yang menindas mereka. Empat anak dalam Khorshid datang ke sekolah dengan keyakinan implisit bahwa tempat itu bukan untuk mereka. Mereka masuk sebagai penipu karena mereka tidak percaya mereka bisa masuk sebagai murid. Perjalanan film adalah perjalanan melepaskan internalisasi itu yang terjadi secara perlahan, tanpa pernyataan yang mencolok, tapi benar-benar nyata dalam prosesnya.

c. Simone Weil (1909–1943) | Prancis

Filsuf dan mistikus yang meninggalkan karier akademiknya untuk bekerja di pabrik dan ladang demi memahami penderitaan kelas pekerja dari dalam.

Weil menulis tentang dua konsep yang saling berkaitan dengan affliction, yaitu penderitaan yang sangat mendlam, yang tidak hanya menyakiti tubuh tetapi juga perlahan menghancurkan jiwa seseorang dan attention, yaitu perhatian yang tulus dan penuh sebagai bentuk cinta tertinggi yang bisa diberikan oeleh satu manusia kepada manusia lain. Pak Mahmoud yang memilih melihat Ali adalah praktik attention dalam pengertian Weil yang paling murni, ia tidak sedang memecahkan masalah, tidak sedang menjalankan tugas, tapi sedang hadir sepenuhnya bagi seorang anak yang selama ini tidak pernah benar-benar dilihat oleh lingkungan sekitarnya.

d. B.R. Ambedkar (1891–1956) | India

Lahir dari kasta terendah (Dalit), ia menjadi salah satu intelektual terbesar India abad ke-20, arsitek konstitusi India, dan pemimpin gerakan hak asasi Dalit.

Ambedkar berkata bahwa pendidikan adalah singa betina: jika kau meminumnya, kau akan mengaum. Ia percaya bahwa buku dan ilmu pengetahuan adalah satu-satunya senjata yang tidak bisa dirampas dari orang miskin, tidak seperti tanah yang bisa disita, atau pekerjaan yang bisa diambil atau diberhentikan secara sepihak. Ali yang menyimpan bukunya dengan hati-hati sebelum tidur adalah gambaran dari keyakinan Ambedkar yang hidup. Buku itu bukan sekadar objek kertas, ia adalah pernyataan bahwa Ali, seperti Ambedkar, menolak menerima batas yang dunia tetapkan untuknya. (Bersambung)