Khorshid dan Anak Jalanan (Perspektif Filsafat Sains) (Bag IV)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

3. Filsafat tentang Sistem dan Struktur
a. Ibnu Khaldun (1332–1406) | Tunisia/Afrika Utara
Sejarawan dan sosiolog yang sering disebut sebagai pendiri ilmu sosial modern, melalui karyanya Muqaddimah.
Ibnu Khaldun menulis tentang bagaimana kondisi sosial dan ekonomi membentuk atau bahkan menghancurkan potensi manusia. Ia akan melihat Ali dan berkata: ini bukan anak yang gagal, ini adalah anak yang belum pernah diberi kondisi yang memungkinkan ia berhasil. Kemiskinan bagi Ibnu Khaldun adalah masalah sistem, bukan karakter. Lingkungan membentuk manusia, dan manusia yang lahir di lingkungan yang salah bukan cacat secara moral — mereka hanya belum menemukan lingkungan yang tepat. Sekolah dalam Khorshid adalah lingkungan yang tepat itu, yang datang terlambat tapi tidak terlambat sepenuhnya.
b. Konfusius (551–479 SM) | Tiongkok
Filsuf dan pendidik yang pemikirannya menjadi fondasi peradaban Asia Timur selama lebih dari dua ribu tahun.
Dalam pendidikan, tidak ada perbedaan kelas, kalimat ini ia ucapkan 2.500 tahun yang lalu, dan ia mendirikan sekolah yang terbuka untuk semua orang, tidak hanya bangsawan. Konfusius percaya bahwa karakter (ren, kemanusiaan) bisa ditumbuhkan pada siapapun melalui pendidikan dan praktik kebajikan. Ali dan ketiga sahabatnya adalah ujian hidup dari keyakinan Konfusius, apakah karakter manusia ditentukan oleh kelahiran, atau oleh pilihan dan pendidikan? Khorshid menjawab, hal itu ditentukan oleh pilihan, dan pilihan membutuhkan kondisi, dan kondisi itu harus disediakan oleh diri sendiri dan lingkungan masyarakat.
✦ BAGIAN KEEMPAT ✦
Perspektif Sains
Ketika Data Berbicara tentang Jiwa
Sains modern telah menghasilkan badan pengetahuan yang sangat kuat tentang apa yang terjadi pada otak, jiwa, dan perilaku anak ketika mereka diberi atau tidak diberi, kondisi yang memadai untuk berkembang. Para ilmuwan berikut berbicara bukan tentang teori abstrak, tapi tentang mekanisme nyata yang bisa kita lihat bekerja di setiap babak Khorshid.
1. Psikologi Perkembangan
a. Lev Vygotsky (1896–1934) | Rusia / Soviet
Psikolog yang merumuskan teori perkembangan kognitif sosial dan konsep Zone of Proximal Development.
Vygotsky menemukan bahwa setiap anak memiliki dua level kemampuan, yaitu apa yang bisa ia lakukan sendiri, dan apa yang bisa ia lakukan dengan bimbingan orang yang lebih mampu. Di antara keduanya ada Zone of Proximal Development yaitu wilayah perkembangan dimana seorang anak dapat belajar dan berkembang secara optimal dengan bantuan yang tepat. Pak Mahmoud adalah guru yang secara intuitif bekerja di zona ini, ia tidak mengajar hal-hal yang sudah Ali bisa, tapi ia juga tidak melempar Ali ke hal-hal yang terlalu jauh. Ia menemani, mendorong pelan-pelan, dan percaya. Tanpa ZPD, Ali tidak akan pernah membaca kalimat pertamanya di kelas itu, dan tanpa Pak Mahmoud, ZPD Ali tidak akan pernah diaktifkan.
b. Urie Bronfenbrenner (1917–2005) | Amerika Serikat
Psikolog yang mengembangkan Ecological Systems Theory tentang bagaimana berbagai lapisan lingkungan membentuk perkembangan anak.
Bronfenbrenner menunjukkan bahwa seorang anak tidak bisa dipahami lepas dari lingkungan-lingkungan yang melingkupinya, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, komunitas, masyarakat, budaya. Khorshid adalah visualisasi sempurna dari teorinya, Ali bukan produk karakternya sendiri semata, ia adalah produk dari seluruh sistem yang mengelilinginya. Ketika satu elemen sistem, misalnya sekolah, berubah dan menjadi tempat yang aman dan memberi sebuah dorongan, seluruh anak mulai berubah. Ini bukan keajaiban. Ini adalah ekologi jiwa yang bekerja persis seperti yang Bronfenbrenner prediksi.
c. Abraham Maslow (1908–1970) | Amerika Serikat
Psikolog humanistik yang merumuskan hierarki kebutuhan manusia.
Maslow sering disalahpahami, orang mengira ia berkata bahwa kebutuhan dasar harus terpenuhi dulu sebelum kebutuhan yang lebih tinggi bisa muncul. Tapi Maslow sendiri terpesona menemukan bahwa manusia dalam kondisi paling sulit sekalipun tetap mencari sesuatu yang melampaui kebutuhan fisik, seperti cinta, makna hidup, keindahan, dan proses menjadi diri yang utuh atau biasa disebut sebagai aktualisasi diri. Ali yang diam-diam menyimpan rasa ingin tahunya di kelas adalah Maslow yang hidup, perutnya lapar, ibunya sakit, masa depannya tidak jelas arahnya kemana, tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang menolak berhenti bertumbuh.
2. Neurologi dan Pembelajaran
Ilmu saraf modern telah membuktikan sesuatu yang para pemikir di atas hanya bisa rasakan secara intuitif, bahwa otak manusia, terutama otak anak memiliki neuroplastisitas yang luar biasa. Bahkan otak yang tumbuh dalam kondisi stres kronis dan kemiskinan tetap memiliki kapasitas untuk merespons lingkungan yang kaya rangsangan dengan cara yang menakjubkan.
Penelitian tentang Adverse Childhood Experiences (ACE) menunjukkan bahwa trauma dan kemiskinan memang meninggalkan jejak biologis pada otak anak namun penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa kehadiran setidaknya satu orang dewasa yang peduli dan konsisten dapat menjadi faktor pelindung yang kuat, yang mampu mengubah arah perkembangan anak secara signifikan.
Pak Mahmoud, dalam bahasa neurologi, adalah faktor protektif itu. Ia bukan penyelamat dengan jubah pahlawan. Ia hanya seorang guru yang memilih hadir dan melalui kehadiran itu, ia membantu mengubah cara kerja otak empat anak muda yang sedang dalam kondisi yang rentan.
3. Sosiologi dan Ekonomi Kemiskinan
a. Amartya Sen (1933–sekarang) | India / Inggris / Amerika
Ekonom pemenang Nobel yang mengembangkan pendekatan kapabilitas terhadap pembangunan manusia.
Sen berargumen bahwa kemiskinan bukan sekadar kekurangan pendapatan melainkam kekurangan kemampuan nyata untuk melakukan dan menjadi hal-hal yang bernilai dalam hidup. Pendidikan adalah salah satu kapabilitas terpenting, karena ia memperluas semua kapabilitas lain. Ali yang belajar membaca bukan hanya mendapat satu keterampilan baru, ia mendapatkan akses ke berbagai kemungkinan hidup yang sebelumnya tertutup baginya. Sen akan melihat Khorshid sebagai film tentang capability deprivation dan, pada akhirnya, tentang capability restoration.
✦ BAGIAN KELIMA ✦
Perspektif Tradisi Keagamaan
Cahaya yang Tak Pernah Padam
Semua tradisi keagamaan besar dunia, dalam inti terdalamnya, menyimpan keyakinan yang sama, yaitu bahwa setiap manusia membawa di dalam dirinya sebuah percikan ilahi yang tidak bisa dipadamkan oleh kondisi lahiriah apapun. Keyakinan ini memberi landasan teologis bagi apa yang Majidi tampilkan secara sinematik.
1. Tradisi Sufi dan Islam
a. Jalaluddin Rumi (1207–1273) | Persia / Afghanistan
Penyair sufi terbesar dari tradisi yang sama dengan tanah tempat Khorshid lahir, penulis Masnavi dan Divan-e Shams.
Rumi berbicara tentang faqr, bahwa kemiskinan lahiriah yang justru bisa membuka kemiskinan batin yang lebih dalam. Sebuah kekosongan yang siap diisi cahaya. Ia menulis tentang manusia sebagai seruling buluh (nay) yang hanya bisa berbunyi indah setelah dipisahkan dari asalnya dan dilubangi, karena justru dari lubang-lubang itulah musik dapat keluar. Empat anak dalam Khorshid adalah seruling-seruling yang telah cukup lama “berlubang” oleh kemiskinan, pengabaian, dan kekerasan dunia. Dan akhirnya, di dalam sekolah itu, mereka mulai berbunyi.
Rumi juga berbicara tentang 'dil', yaitu hati sebagai pusat pengetahuan sejati yang melampaui sekadar pemikiran rasional semata. Ali tidak hanya belajar membaca dengan akalnya. Ia belajar dengan hatinya.
b. Ibnu Khaldun (1332–1406) | Tunisia / Maroko / Mesir
Meski telah disebut dalam bagian filsafat, dimensi keagamaannya tak kalah penting, namun ia adalah seorang Muslim yang mendalam yang melihat sejarah sebagai medan kerja Tuhan.
Dalam perspektif keagamaannya, Ibnu Khaldun melihat kemiskinan sebagai cobaan sosial yang memanggil respons kolektif bukan sebagai hukuman ilahi yang ditujukan kepada individual secara pribadi. Ini adalah teologi yang membebaskan, kemiskinan yang dialami oleh Ali bukan karena ia berdosa, ia adalah hasil dari kegagalan 'asabiyah' atau solidaritas sosial yang seharusnya melindunginya.
2. Tradisi Yahudi
a. Musa bin Maimun / Maimonides (1138–1204) | Maroko / Mesir / Spanyol
Seorang Filsuf, dokter, dan otoritas hukum Yahudi terbesar Abad Pertengahan.
Maimonides merumuskan tangga kedermawanan (tzedakah) yang terdiri dari delapan tingkat. Tingkat tertingginya bukan memberi uang, bukan memberi makanan, melainkan membantu seseorang agar tidak lagi bergantung pada pemberian orang lain, misalnya melalui pendidikan, pekerjaan, dan kemandirian. Sekolah dalam Khorshid adalah tzedakah di tingkat tertinggi Maimonides. Dan Pak Mahmoud, yang memberi tanpa meminta terima kasih, tanpa mengumumkan kemurahan hatinya, adalah pelaku tzedakah yang sejati. Konsep tzedakah sendiri berasal dari kata tzedek, yaitu keadilan, bukan sekadar belas kasihan. Pendidikan bukan sebuah amal. Ia adalah keadilan.
3. Tradisi Hindu dan Sikh
a. Guru Nanak (1469–1539) | Punjab / India
Seorang pendiri Sikhisme yang berkeliling Asia menyampaikan pesan kesetaraan universal dan kesatuan Tuhan.
Guru Nanak menyatakan Ik Onkar bahwa Tuhan itu satu, dan karena itu semua manusia memiliki nilai yang setara dihadapan-Nya. Ia menolak pembagian kasta, kelas, jenis kelamin, atau asal-usul. Ia mendirikan langar, dapur komunal di mana semua orang tanpa memandang status sosial, termasuk orang kaya dan msikin, mereka duduk bersama dan makan bersama sebelum memasuki tempat ibadah. Sekolah dalam Khorshid adalah langar sinematik, di mana semua anak, apapun latar belakangnya, duduk di meja yang sama. Nilai yang paling revolusioner dari Guru Nanak, bahwa tidak ada jiwa yang lebih rendah dari jiwa lainnya di hadapan Tuhan. Hal itu adalah nilai yang dipraktikkan oleh Pak Mahmoud setisap kali ia memperlakukan Ali dan kawan-kawannya sebagai murid yang setara.
b. Tagore sebagai pemikir spiritual (1861–1941) | India
Selain filsuf pendidikan, Tagore adalah pemikir spiritual yang dalam, yang melihat manusia sebagai manifestasi jiwa kosmis (Brahman).
Dalam dimensi spiritualnya, Tagore percaya bahwa setiap anak lahir membawa ananda, sebuah kebahagiaan kosmis yang merupakan sifat dasar eksistensi. Kemiskinan dan penindasan tidak menciptakan anak-anak yang kosong, melainkan membuat kebahagiaan alami dalam diri mereka menjadi tersembunyi dan tertutup oleh berbagai lapisan penderitaan. Tugas pendidikan adalah mengangkat lapisan-lapisan itu, bukan mengisi kekosongan yang tidak ada.
4. Tradisi Kristiani
a. Janusz Korczak (dimensi spiritual) (1878–1942) | Polandia
Meski berlatar Yahudi, spiritualitas Korczak melampaui batas denominasi, ia adalah seorang manusia yang percaya pada kesucian setiap anak.
Korczak menulis bahwa anak-anak bukan objek kasih sayang orang dewasa, melainkan subjek yang memiliki hak dan martabatnya sendiri. Dalam tradisi Kristiani, ini beresonansi dengan ajaran Yesus tentang anak-anak sebagai pewaris Kerajaan Surga, 'Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka.' Majidi, ia adalah seorang Muslim yang membuat film tentang anak-anak pekerja yang mayoritasnya beragama muslim. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan anak adalah nilai yang melampaui batas agama.
b. Simone Weil (dimensi spiritual) (1909–1943)| Prancis
Meski lahir dari keluarga Yahudi agnostis, Weil mengalami konversi mistik dan menjadi salah satu teolog Kristiani paling orisinal abad ke-20.
Weil menulis tentang aflisi (affliction) sebagai kondisi di mana jiwa manusia dihancurkan bukan hanya secara fisik tapi secara spiritual, yaitu keadaan ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya tidak lagi layak untuk ada. Anak-anak jalanan dalam Khorshid hidup di ambang kondisi ini. Dan Weil menulis bahwa satu-satunya obat penawar untuk mengatasi kondisi itu adalah attention, yaitu perhatian yang murni, tanpa agenda, yang menegaskan: kamu ada, dan keberadaanmu penting. Inilah yang Pak Mahmoud berikan. (Bersambung)
