Khorshid dan Anak Jalanan (Perspektif Filsafat Sains) (Bag V)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

✦ BAGIAN KEENAM ✦
Perspektif Sastra
Ketika Fiksi Lebih Nyata dari Kenyataan
Sastra besar selalu mendahului ilmu sosial karena ia mampu melihat dan merasakan realitas sebelum hal itu bisa dibuktikan oleh data atau dirumuskan dalam sebuah teori. Para penulis berikut, dari berbagai benua dan abad, telah menulis tentang anak-anak seperti Ali jauh sebelum kamera Majidi ada.
1. Sastra Eropa
a. Victor Hugo (1802–1885) | Prancis
Novelis terbesar Prancis yang menjadikan perjuangan melawan kemiskinan dan ketidakadilan sebagai tema sentral seluruh karyanya.
Hugo menulis bahwa anak yang ditelantarkan masyarakat akan menjadi musuh masyarakat itu, sedangkan anak yang dididik dan diberi perhatian akan menjadi pelidung dan sebagai kekuatannya. Dalam Les Miserables, Cosette dan Gavroche dua anak jalanan di Paris yang hidup dalam kondisi keras dan ketidakadilan, mereka merupakan saudara jiwa Ali. Hugo percaya bahwa kemiskinan adalah kejahatan yang dilakukan masyarakat kepada anak-anak, bukan sebaliknya.
Ia akan melihat Khorshid sebagai dokumen kejahatan sosial yang sama dan akan mengenali dalam Pak Mahmoud seseorang seperti Uskup Myriel, seorang pria yang memilih melihat cahaya dalam kegelapan.
b. Charles Dickens (1812–1870) | Inggris
Novelis yang pernah menjadi pekerja anak di pabrik semir sepatu ketika ayahnya masuk penjara karena utang, dan mengubah pengalaman itu menjadi sastra yang mengubah kebijakan sosial Inggris.
Dickens dan Majidi berbagi satu keyakinan, bahwa anak yang bekerja untuk bertahan hidup bukan anak yang lemah, melainkan anak yang dipaksa mengadapi beban kehidupan yang seharusnya tidak mereka tanggung. Oliver Twist, David Copperfield, Pip, mereka adalah tokoh-tokoh anak dalam karya Dickens yang tumbuh dalam kesulitan namun tetap memiliki harapan dan daya juang, mereka semua adalah Ali dalam versi yang berbeda. Dickens juga menunjukkan, seperti Majidi, bahwa satu hubungan yang baik dengan satu orang dewasa yang tepat bisa mengubah segalanya.
c. Fyodor Dostoevsky (1821–1881) | Rusia
Novelis dan filsuf yang mengeksplorasi kedalaman jiwa manusia dalam kondisi paling ekstrem.
Dostoevsky percaya bahwa penderitaan bisa memurnikan jiwa, tapi penderitaan yang dijatuhkan kepada anak-anak tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun, karena anak-anak tidak seharusnya menanggung beban penderitaan yang bukan hasil pilihan mereka sendiri. Dalam The Brothers Karamazov, Alyosha, tokoh yang mewakili kasih, empati, dan keyakinan pada kebaikan manusia, menjadi simbol harapan di tengah dunia yang gelap.
Ia juga menulis tentang bagaimana ingatan masa kecil yang baik, bahkan hanya sau momen kecil penuh kasih sayang, bisa menjadi jangkar jiwa seseorang di tengah badai kehidupan. Momen Ali membaca kalimat pertamanya, momen Abbas menemukan kelasnya, momen Reza tertawa di dalam lubang gelap semua itu adalah benih kenangan yang dapat menjadi sumber kekuatan di masa depan.
2. Sastra Persia dan Timur Tengah
a. Sadegh Hedayat (1903–1951) | Iran
DNA sastra Penulis Iran modern yang paling berpengaruh, yang karya-karyanya mengeksplorasi keterasingan dan absurditas eksistensial.
Meski gelap dan eksistensial, Hedayat berbicara tentang manusia yang terperangkap dalam struktur yang tidak mereka ciptakan. Ada dalam Iran sebuah kesadaran mendalam tentang gharibehyaitu perasaan menjadi asing di dunia sendiri, tidak memiliki tempat yang benar-benar menerma keberadaan seseorang. Empat anak dalam Khorshid adalah gharibeh di kota mereka sendiri. Mereka lahir di Teheran, tapi Teheran belum menjadi rumah mereka. Hedayat akan mengenali keterasingan itu, tapi Majidi berbeda dari Hedayat yang berakhir dengan keputusasaan, memilih jalan yang berbeda, bukan berakhir dengan sebuah kesimpulan, tapi arah. Ali tidak mengatasi keterasingannya. Ia mulai berjalan.
b. Khalil Gibran (1883–1931) | Lebanon / Amerika
Penyair dan filsuf Lebanon-Amerika yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa di dunia.
Gibran menulis bahwa anak-anak bukan milik orang tua mereka, melainkan milik kehidupan itu sendiri, yang memiliki arah dan tujuan yang tidak selalu bisa dipahami oleh orang dewasa. Ia juga menulis bahwa jiwa yang lapar akan menemukan makanannya sendiri, bahwa roh yang kuat tidak bisa sepenuhnya dipadamkan oleh kondisi lahiriah. Khorshid adalah manifestasi visual dari keyakinan Gibran bahwa Ali, Mamad, Reza, dan Abbas bukan anak-anak yang rusak. Mereka adalah jiwa-jiwa yang merindukan sesuatu yang belum mereka kenal tapi sudah mereka rindukan.
3. Sastra Amerika dan Afrika
a. Toni Morrison (1931–2019) | Amerika Serikat
Novelis pemenang Nobel yang mengeksplorasi pengalaman manusia di bawah penindasan dengan bahasa yang paling puitis dan paling jujur.
Morrison menulis bahwa fungsi rasisme dan bisa kita tambahkan, fungsi semua sistem penindasan adalah mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang penting. Anak-anak jalanan dalam Khorshid hidup dalam sistem yang mengalihkan potensi mereka menjadi tenaga kerja murah, mengubah masa kecil mereka menjadi sumber keuntungan bagi orang dewasa. Morrison juga menulis tentang kekuatan komunitas kecil sebagai benteng melawan penghancuran sistemik. Persahabatan antara Ali, Mamad, Reza, dan Abbas adalah komunitas kecil itu dan komunitas inilah yang membuat mereka mampu bertahan.
b. Chinua Achebe (1930–2013) | Nigeria
Novelis yang menulis tentang benturan antara tradisi dan modernitas, antara sistem yang merusak dan jiwa yang bertahan.
Achebe menulis bahwa ketika sebuah sistem menghancurkan seseorang, ia tidak hanya menghancurkan individu itu tetapi juga menghancurkan seluruh potensi yang tidak pernah terwujud serta semua kontribusi yang seharusnya bisa diberikan kepada dunia. Setiap anak jalanan yang tidak mendapat akses pendidikan bukan hanya seorang anak yang dirugikan melainkan juga bisa menjadi dokter, seniman, guru, atau pemimpin yang tidak sempat lahir ke dunia. Khorshid membuat kita merasakan berat kerugian itu.
✦ BAGIAN KETUJUH ✦
Perspektif Seni dan Gerakan Sosial
Keindahan sebagai Perlawanan
Seni dan gerakan sosial bertemu dalam satu keyakinan: bahwa mengubah cara orang melihat adalah langkahpertama mengubah apa yang mereka lakukan. Majidi, dengan kameranya, adalah aktivis. Para pemikir dan aktivis berikut mengerjakan proyek yang sama dengan alat yang berbeda.
1. Hak Anak dan Gerakan Kemanusiaan
a. Eglantyne Jebb (1876–1928) | Inggris
Pendiri Save the Children yang menulis deklarasi pertama hak-hak anak di dunia pada tahun 1923.
Jebb berkata bahwa kita memiliki kewajiban tertentu kepada anak-anak bukan karena rasa kasihan semata, tetapi karena itu adalah bentuk keadilan yang harus ditegakkan. Kata keadilan yang menekankan hak, bukan sekadar belas kasihan adalah kata kunci. Khorshid bukan film tentang kasihan kepada anak-anak jalanan. Ia adalah film tentang keadilan yang belum terwujud. Ali bukan objek belas kasihan, melainkan subbjek hak yang seharusnya dipenuhi oleh masyarakat.
Deklarasi Jebb pada 1923 menjadi cikal bakal Konvensi Hak Anak PBB 1989, yang menyatakan bahwa setiap anak berhak atas pendidikan, perlindungan dari eksploitasi ekonomi, dan kesempatan berkembang sesuai potensinya. Film Majidi adalah evaluasi visual atas seberapa jauh dunia masih dari janji konvensi itu.
b. Nelson Mandela (1918–2013) | Afrika Selatan
Pemimpin anti-apartheid yang menghabiskan 27 tahun di penjara sebelum menjadi presiden Afrika Selatan dan simbol rekonsiliasi global.
Mandela berkata bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk mengubah dunia, yaitu alat yang memberi seseorang kemampuan untuk memahami, menantang dan mengubah realitas hidupnya, dan ia menguapkannya sebagai seseorang yang pernah dilarang mengakses pendidikan karena warna kulitnya.
Momen Ali membaca kalimat pertamanya adalah momen yang Mandela akan berdiri dan bertepuk tangan bukan sekadar momen belajar membaca, tetapi momen ketika seseorang mendapatkan akses padda pengetahuan yang sebelumnya tertutup baginya.
c. Wangari Maathai (1940–2011) | Kenya
Perempuan Afrika pertama yang memenangkan Nobel Perdamaian, melalui gerakan menanam pohon sebagai tindakan perdamaian dan pembangunan.
Maathai berkata bahwa harapan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan sesuatu yang harus ditanam dan dirawat secara terus-menerus dalam tindakan sehari-hari. Ia juga berkata bahwa tindakan yang tampak kecil seperti menanam satu pohon adalah tindakan yang mengubah dunia karena ia mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri: dari korban menjadi agen perubahan.
Ali belajar membaca satu kalimat. Ali menyimpan bukunya. Ali memilih tidak menyerahkan hasil penggalian. Masing-masing adalah satu pohon yang ditanam.
2. Seni sebagai Bahasa Universal
Majidi sendiri adalah ahli waris tradisi sinema neorealisme Italia yaitu tradisi film yang dikembangkan oleh Rossellini, De Sica, dan Visconti, yang menampilkan kehidupan nyata secara jujur, terutama kehidupan orang-orang biasa yang percaya bahwa kamera harus turun ke jalanan, merekam wajah-wajah yang biasanya tidak terlihat di layar, dan memaksa penonton untuk berhadapan dengan realitas yang biasanya mereka hindari.
Tapi Majidi menambahkan sesuatu yang tidak selalu ada dalam neorealisme Barat: cahaya. Dalam film-filmnya, kemiskinan tidak hanya gelap. Ada keindahan di dalamnya keindahan yang muncul dalam bentuk hubungan antarmanusia, kasih sayang, dan momen-momen kecil yang bermakna. Ini bukan romantisisasi kemiskinan. Ini adalah penolakan untuk membiarkan sistem menentukan satu-satunya narasi tentang orang-orang yang hidup di dalamnya.
Majidi tidak membuat film tentang kemiskinan untuk membuat penonton merasa kasihan. Ia membuat film tentang kemiskinan untuk membuat penonton melihat cahaya yang tetap ada di dalamnya yaitu harapan, martabat, dan potensi manusia yang tidak hilang eskipun berada dalam kondisi yang paling sulit. Dan kemudian bertanya, “apa yang sudah kita lakukan untuk memastikan cahaya itu tidak paddam?”
Dalam tradisi seni Iran sendiri, ada sejarah panjang menggunakan keindahan sebagai bentuk perlawanan, terukir dari miniatur Persia yang menyimpan makna politik di balik keindahan visualnya, hingga puisi Hafez yang menggunakan metafora khamar (anggur) untuk berbicara tentang cinta ilahi yang melampaui sensor. Majidi adalah pewaris tradisi ini: kamera adalah kaligrafi, setiap frame adalah bait puisi, dan anak-anak jalanan adalah Alif, yang merupakan huruf pertama, awal dari segalanya. (Bersambung)
