Konten dari Pengguna

Khorshid dan Anak Jalanan (Perspektif Filsafat Sains) (End)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Khorsid/Sun Children (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Film Khorsid/Sun Children (Sumber: Net)

✦ BAGIAN KEDELAPAN ✦

Sintesis

Satu Cahaya, Banyak Nama

Kita telah melewati perjalanan panjang dari kisah konkret kehidupan anak-anak di Taheran menuju berbagai gagasan besar dari pemikiran di berbagai tempat dan zaman hingga sampai pada titik ini. Kini saatnya menarik benang merah yang menghubungkan semuanya.

1. Benang Merah: Apa yang Semua Tradisi Setujui

Dari Konfusius di Tiongkok abad ke-5 SM hingga Amartya Sen di Cambridge abad ke-21. Dari Rumi di Konya hingga Toni Morrison di New York. Dari Guru Nanak di Punjab hingga Paulo Freire di Recife. Dari Maimonides di Kordoba hingga Wangari Maathai di Nairobi. Semua berbicara dengan aksen yang berbeda tentang kebenaran yang sama:

Bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, lahir dengan kapasitas untuk berkembang, untuk belajar, untuk mencintai, dan untuk berkontribusi. Bahwa kapasitas ini tidak ditentukan oleh tempat lahir, status sosial, agama, atau warna kulit. Bahwa tugas peradaban, yakni tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dan institusi sosial, adalah untuk memastikan kapasitas ini diberi kondisi untuk mekar, bukan dipadamkan sebelum sempat bersinar.

Khorshid tidak menciptakan kebenaran ini. Ia hanya menemukannya kembali, dengan bahasa gambar dan wajah empat anak kecil di Teheran yang menghadirkan kembali kebenaran itu secara nyata dan emosional melalui pengalaman hidup mereka, dan mengingatkan kita bahwa kebenaran yang paling dalam sering terasa seperti baru kita dengar untuk pertama kalinya.

2. Rasio dan Romantik: Bukan Pertentangan

Judul artikel ini menyebut rasio-romantik, dan ini perlu dijelaskan. Dalam tradisi pemikiran Barat abad ke-19, rasio dan romantik sering dipertentangkan: rasio adalah dunia sains dan filsafat analitis, romantik adalah dunia seni dan perasaan. Khorshid menolak dikotomi ini.

Film ini sangat rasional, ia dibangun di atas data nyata tentang 152 juta pekerja anak di dunia. Ia mengikuti logika sebab-akibat yang ketat. Ia tidak melodramatis, tidak ada adegan yang sengaja dibuat berlebihan untuk memancing emosi secara tidak wajar. Majidi adalah sineas yang sangat disiplin.

Tapi film ini juga sangat romantik dalam arti yang lebih dalam, ia percaya pada keajaiban yang tumbuh dari dalam, pada transformasi yang terjadi tanpa pengumuman, pada cahaya yang tetap ada di tempat paling gelap sekalipun.

Para pemikir yang kita kunjungi dalam artikel ini menunjukkan bahwa rasio dan romantik bukanlah musuh. Vygotsky membutuhkan romantisme keyakinan pada potensi anak untuk merumuskan teorinya yang paling penting. Freire membutuhkan cinta yang mendalam pada manusia untuk bisa menulis tentang pedagogi pembebasan. Rumi membutuhkan presisi logika sufi untuk membangun puisinya yang paling kompleks. Ambedkar membutuhkan api cinta pada keadilan untuk bisa mendisiplinkan dirinya menjadi sarjana hukum terbaik di masanya.

Rasio tanpa romantik adalah kalkulasi dingin yang tidak tahu untuk apa ia menghitung. Romantik tanpa rasio adalah sentimentalitas yang tidak tahu bagaimana mengubah perasaan menjadi tindakan. Khorshid bersama dengan seluruh pemikiran yang telah dibahas sebelumnya adalah contoh dari keduanya berjalan bersama.

3. Khorshid sebagai Teks Peradaban

Pada akhirnya, mengapa sebuah film tentang empat anak jalanan di Teheran bisa beresonansi dengan begitu banyak tradisi pemikiran dari begitu banyak budaya dan zaman?

Karena Majidi tidak membuat film tentang Iran. Ia membuat film tentang manusia.

Kemiskinan anak bukan masalah Iran. Ia ada di Brasil dan Bangladesh, di Chicago dan Cape Town, di Bandung dan Bangkok. Anak yang belajar untuk pertama kalinya bukan pengalaman Iran melainkan pengalaman manusia yang bersifat universal, melampaui batas negara dan budaya.

Dan seorang guru yang memilih melihat potensi di balik permukaan tidak hanya melihat apa yang tampak dari luar, tetapi juga kemungkinan yang tersembunyi dalam diri anak juga bukan sebuah fenomena yang terbatas pada satu negara. Pak Mahmoud ada di setiap budaya, setiap zaman, setiap tradisi. Ia adalah Alyosha Karamazov, ia adalah Bishop Myriel, ia adalah guru-guru dalam tradisi Konfusius, ia adalah figur yang selalu ada dalam cerita-cerita terbaik manusia tentang dirinya sendiri.

Yang membuat Khorshid menjadi teks peradaban adalah keberaniannya untuk percaya meskipun tidak ada bukti yang mudah dan tanpa jaminan akhir yang bahagia, bahwa satu sekolah, satu guru, satu momen membaca kalimat bisa menjadi titik balik. Bahwa perubahan tidak selalu datang dalam bentuk revolusi, melainkan bisa hadir secara perlahan, seperti seorang anak yang mulai berjalan, bukan berlari.

✦ PENUTUP ✦

Epilog

Ali Masih Berjalan

Film itu sudah selesai. Layar sudah menjadi gelap. Tapi Ali masih berjalan.

Ia berjalan di dalam ingatan setiap penonton yang pernah melihatnya. Ia berjalan di dalam kesadaran setiap guru yang terinspirasi untuk sedikit lebih sabar. Ia berjalan di dalam keberanian setiap anak jalanan di seluruh dunia yang, hari ini, memutuskan untuk mencoba sekali lagi.

Dan ia berjalan di dalam tradisi panjang pemikiran manusia yang tidak pernah berhenti percaya meskipun kenyataan sering kali tidak sesuai harapan, bahwa setiap jiwa membawa di dalamnya sebuah cahaya yang tidak bisa dipadamkan.

Khorshid berarti matahari. Matahari tidak memilih pada siapa ia bersinar. Ia hanya bersinar, dan tugas kita adalah memastikan tidak ada yang sengaja menghalangi cahayanya.

“Dalam pendidikan, tidak ada perbedaan kelas.”

— Konfusius, 551-479 SM

“Pendidikan adalah singa betina. Jika kau meminumnya, kau akan mengaum.”

— B.R. Ambedkar, 1891-1956

Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia.

— Nelson Mandela, 1918-2013

Film ini didedikasikan untuk 152 juta anak di dunia yang dipaksa bekerja.

— Majid Majidi, Khorshid, 2020

Khorshid — Sun Children (2020)

Sutradara: Majid Majidi (**)

Referensi

Majid Majidi, Khorshid (Sun Children), Rouhollah Zamani Production, 2020.

Erich Fromm, Escape from Freedom, Farrar & Rinehart, 1941.

Erich Fromm, The Art of Loving, Harper & Row, 1956.

Lev Vygotsky, Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes, Harvard University Press, 1978.

Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, Continuum, 1970.

Amartya Sen, Development as Freedom, Oxford University Press, 1999.

Rumi, The Essential Rumi, HarperOne, 1995.

Maimonides, The Guide for the Perplexed, University of Chicago Press, 1963.

Guru Nanak, Guru Granth Sahib, Shiromani Gurdwara Parbandhak Committee, 1604.

Toni Morrison, Playing in the Dark: Whiteness and the Literary Imagination, Harvard University Press, 1992.

Chinua Achebe, Things Fall Apart, Heinemann, 1958.

Eglantyne Jebb, Declaration of the Rights of the Child, Save the Children, 1923.

Nelson Mandela, Long Walk to Freedom, Little, Brown and Company, 1994.

Wangari Maathai, Unbowed: A Memoir, Knopf, 2006.

B. R. Ambedkar, Annihilation of Caste, Self-published, 1936.

Confucius, Analects, Penguin Classics, 1979.

Silvia Alves, dkk., We-perspective on vision impairment: Pathways between common dyadic coping and relationship satisfaction, Frontiers in Psychology, 2025.

Tulisan ini pada akhirnya tidak hanya berusaha menjelaskan sebuah film, tetapi juga membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang manusia.

Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan.Bahwa di tengah ketidakadilan, selalu ada kesadaran yang bisa tumbuh.

Dan bahwa di dalam setiap manusia, selalu ada “cahaya” yang menunggu untuk ditemukan.