Konten dari Pengguna

Kunci Kebahagiaan (Refleksi Filsafat Sains Film Keys To The Heart, 2018) (End)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Korea terkait Persaudaraan (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Film Korea terkait Persaudaraan (Sumber: Unsplash)

Bagian III

Altruisme Sebagai Jalan Keluar

A. Ga Yool: Ketika Luka Menjadi Jembatan

Dalam film ini, Ga Yool, seorang pianis legendaris yang juga menanggung beban traumanya sendiri, adalah tokoh yang paling sering luput dari perhatian. Namun sebenarnya ia memegang peran penting dalam menunjukkan makna altruisme.

Ga Yool datang kepada Jin Tae bukan karena terkenal atau ingin dipuji. Ia datang karena melihat luka yang sama dalam diri Jin Tae. Bahkan ketika ia sendiri masih berjuang dengan masa lalunya, ia tetap memilih untuk memberi. Karena itu kisahnya lebih dari sekadar cerita tambahan, tetapi ia menunjukkan bahwa luka yang dipahami dapat melahirkan empati.

Perjalanan Ga Yool juga layak dipahami lebih dalam. Sebagai pianis yang pernah mencapai puncak lalu terjatuh, ia mengetahui bagaimana rasanya kehilangan jati diri. Ketika ia memilih untuk hadir bagi Jin Tae, ia tidak memberi dari kelebihan, tetapi dari kekurangannya. Justru dari situlah ketulusan muncul.

Sains juga mendukung fenomena ini. Sebuah studi longitudinal di British Journal of Developmental Psychology (Johnson et al., 2025) menemukan bahwa pengalaman emosi yang mendalam pada anak. seperti kecemasan atau kesedihan, dapat memprediki munculnya perilaku altruistik dikemudian hari.

Perilaku altruistik adalah tindakan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bahkan terkadang seseorang rela berkorban. Tujuannya adalah kebaikan bagi orang lain. Contohnya memberi kepada tunawisma, membantu orang tua menyeberang jalan, atau menyumbangkan darah bagi yang membutuhkan. Tindakan ini lahir dari empati dan kepedulian. Altruisme membuat dunia menjadi lebih manusiawi. Anak-anak yang lebih peka terhadap penderitaan sering kali juga lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.

Sebenarnya pada titik ini sains bertemu dengan spiritualitas para sufi. Dalam pandangan tersebut, penderitaan sering dipahami sebagai cara Tuhan memanggil manusia untuk ikut menyebarkan kasih sayang-Nya kepada sesama.

Gagasan ini membantu menjelaskan tokoh Ga Yool. Ia hadir bukan karena hidupnya bebas dari luka, tetapi justru karena pernah merasakan luka itu sendiri. Pengalaman tersebut membuatnya mampu memahami penderitaan Jin Tae.

B. Nuansa Altruisme: Emosi dan Relasi yang Kompleks

Altruisme tidak selalu sesederhana "memberi tanpa pamrih". Sebuah penelitian dalam Current Psychology (Wang & Liu, 2025) menunjukkan bahwa keputusan menolong orang lain sering dipengaruhi oleh berbagai emosi.

Rasa syukur dapat mendorong seseorang untuk membantu orang yang pernh menolongnya dimasa lalu. Sebaliknya, rasa berutang budi juga dapat membantu seseorang terdorong untuk menolong orang lain dimasa depan. Dengan kata lain, altruisme berkembang melalui pengalaman emosional dan hubungan antar manusia.

C. Epikureanisme: Merayakan Kesenangan Sederhana

Epikuros mengajarkan bahwa kesenangan tertinggi adalah ataraxia, suatu ketenangan batin, yaitu keadaan ketika jiwa terbebas dari kegelisahan. Ketenangan ini lahir dari kehidupan yang sederhana dan dari persahabatan yang tulus. Dalam film ini, momen yang paling membahagiakan bukanlah ketika Jo Ha memenangkan pertarungannya, atau ketika Jin Tae mendapat tepuk tangan meriah.

Sebaliknya, kebahagiaan itu muncul saat mereka bertiga duduk bersama di dapur kecil, menikmati mie instan sambil tertawa ringan. Ia juga tampak ketika Jo Ha dan Jin Tae bermain piano bersama tanpa tekanan dan tanpa tujuan tertentu. Mereka hanya hadir untuk satu sama lain. Epikureanisme mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati sering ditrmukan dalam hal-hal sederhana dikehidupan sehari-hari.

Bagian IV

Membangun Kebahagiaan Otentik — Kerangka PERMA

Martin Seligman merumuskan kerangka PERMA sebagai unsur yang membentuk kesejahteraan yang otentik. Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, dan Accomplishment. Film “Keys To The Heart” dapat dipahami sebagai gambaran yang jekas dari kelima unsur tersebut dalam kehidupan.

Positive Emotion muncul dalam momen-momen kecil kebahagiaan yang mereka rasakan bersama.

Engagement terlihat ketika Jin Tae bermain piano, ia tenggelam dalam aliran permainan musiknya, seolah waktu berhenti dan dunia di sekitarnya menghilang.

Relationships menjadi inti dari keseluruhan film. Jo Ha yang hidup sendirian di awal film digambarkan sebagai pribadi yang rapuh. Kehadiran Jin Tae, In Sook, dan Ga Yool perlahan membuat hidupnya kembali utuh.

Meaning muncul ketika Jin Tae menyadari bahwa kehadirannya bukanlah kebetulan. Ia hadir untuk mengajarkan kesabaran kepada kakaknya.

Accomplishment dalam cerita ini bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang keberhasilan Jo Ha membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya mampu dan berharga.

Sebuah studi dalam Early Childhood Research Quarterly (Chen et al., 2026) menguji program satu tahun yang mengintegrasikan model PERMA dengan pendekatan dukungan perilaku positif (SWPBS). Hasilnya menunjukkan peningkatan kesejahteraan para guru serta perkembangan keterampilan regulasi diri pada anak-anak prasekolah.

Kerangka PERMA dengan demikian tidak hanya bersifat teoritis. Kerangka ini dapat diterapkan dalam berbagai program nyata untuk membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara psikologis.

Epilog

Kunci Itu Ada di Tangan Kita

Ada satu metafora sederhana yang merangkum seluruh refleksi dalam tulisan ini. Jin Tae, dengan cara bicaranya yang sederhana, mengucapkan sebuah kalimat yang seakan merangkum semuanya:

“Kunci menuju hati, Kak, bukan untuk membuka hati orang lain. Tetapi untuk membuka hati kita sendiri. Kita sering mengunci hati dengan amarah dan dendam. Lalu kita menunggu dunia yang membuka kunci itu. Padahal kuncinya ada di tangan kita.” — Jin Tae (parafrasa dari adegan film)

Filsafat dan sains, dalam dialog yang jarang terjadi, bertemu pada satu kesimpulan yang sama. Kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang dapat kita kejar secara langsung. Ia sering muncul sebagai hasil dari keberanian menghadapi kehidupan bersama orang lain, serta kesiapan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah.

Søren Kierkegaard berbicara tentang lompatan iman. Martin Heidegger menekankan keotentikan manusia dalam menghadapi kematian. Filsafat Stoa mengajarkan pengendalian diri. Epicurus mengajarkan kesederhanaan hidup. Sementara itu, Martin Seligman menjelaskan unsur-unsur kesejahteraan melalui kerangka PERMA.

Dan sains modern juga menunjukkan bahwa memaafkan dapat meredakan emosi negatif tanpa harus menghapus ingatan. Kualitas kehidupan keluarga sering kali ditentukan oleh interaksi kecil dalam kehidupan sehari-hari. Altruisme juga sering tumbuh dari pengalaman luka yang dipahami dengan lebih dalam. Kerangka PERMA sendiri dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan secara nyata.

Pada akhirnya, semua gagasan tersebut kembali pada satu pertanyaan sederhana:

Maukah kita memutar kunci itu?

Kunci menuju hati kita sebenarnya telah lama berada di tangan kita. Kita dapat membiarkannya berkarat, atau memilih untuk memutarnya kemudian membuka hati yang selama ini tertutup, dan memberi ruang bagi cinta untuk masuk, meskipun itu juga berarti menerima kemungkinan terluka.

Di situlah letak paradoks kehidupan yang indah. Hanya dengan membuka hati kita sendiri, kita dapat benar-benar memahami hati orang lain. Dan hanya dengan berdamai dengan masa lalu, kita dapat melangkah menuju masa depan.

Selamat memutar kunci itu.

(**)

Catatan Tentang Sumber

Kutipan dialog dalam esai ini merupakan parafrase interpretatif penulis berdasarkan adegan film, bukan terjemahan resmi dari subtitle. Pembaca yang ingin merujuk dialog asli disarankan untuk menonton film dengan subtitle resmi bahasa Indonesia atau Inggris.

Referensi

Bohn, A., & Berntsen, D. (2025). The emotional impact of forgiveness on autobiographical memories of past wrongdoings. Journal of Experimental Psychology: General, 154(3), 456–472.

Chen, L., et al. (2026). Fostering teachers’ well-being and children’s self-regulation through an intervention that integrates the PERMA model and SWPBS. Early Childhood Research Quarterly, 58, 245–259.

Johnson, M. K., et al. (2025). Parental reflective functioning and internalizing symptoms predict altruistic prosocial behaviour in children. British Journal of Developmental Psychology, 43(2), 189–205.

Wang, Y., & Liu, X. (2025). The influence of emotional state and help-seeker type on internet altruistic behavior in a sample of Chinese undergraduates. Current Psychology, 44(4), 1123–1138.

Williams, S., et al. (2026). Health-related behaviors and family quality of life in autism spectrum disorders: A systematic review and meta-analysis. Research in Autism, 89, 101–118.

Keys to the Heart. (2018). Directed by Choi Sung-hyun. South Korea.