Lima Orang yang Kau Temui di Surga (Dialog Filsafat Sains) (Bag I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Semua akhir adalah awal dari sesuatu yang lain. Kau hanya belum tahu ketika itu terjadi.” — Mitch Albom
PROLOG
Dua Suara, Satu Kebenaran
Ada momen-momen tertentu dalam sejarah pemikiran manusia ketika seorang novelis dan seorang ilmuwan ternyata berbicara tentang kebenaran yang sama. Meskipun menggunakan bahasa yang berbeda, keduanya tetap menunjuk pada makna yang sama.
Mitch Albom menulis dengan hati. Bruce Greyson meneliti dengan data. Keduanya tidak pernah berencana untuk berdialog. Namun esai ini hadir untuk mempertemukan mereka, sehingga pada akhirnya kita dapat melihat bahwa apa yang Albom tulis sebagai kisah fiksi memiliki kemiripan dengan temuan empiris yang diteliti Greyson selama puluhan tahun.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah dua cara manusia mencari kebenaran yang sama, yaitu satu dengan intuisi dan seni, satu dengan teleskop dan data.
BAGIAN PERTAMA
Mitch Albom dan Novel yang Lahir dari Kehilangan
A. Pengarang dan Dunia di Balik Novel
Mitchell David Albom lahir pada 23 Mei 1958 di Passaic, New Jersey. Ia bukan filsuf akademis, bukan teolog, bukan penulis yang tumbuh di menara gading. Ia adalah seorang jurnalis olahraga, namun memiliki kepekaan yang kuat terhadap sisi kehidupan yang sering tidak terlihat.
Sebelum menulis The Five People You Meet in Heaven (2003), Albom telah mengguncang dunia dengan Tuesdays with Morrie (1997), memoir tentang percakapannya dengan mantan profesor yang sekarat, Morrie Schwartz. Buku itu mengajarkan jutaan orang bahwa kematian bisa menjadi guru yang paling jujur. Albom tidak menulis tentang kematian sebagai pelarian dari kehidupan, melainkan dengan sebuah cerita yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Sehingga mampu memyentuh perasaan banyak pembaca.
The Five People You Meet in Heaven lahir dari dua sumber kesedihan yang sangat personal, yaitu :
1. Kematian Edward Beitchman, paman Albom sendiri. Edward Beitchman merupakan seorang pria sederhana yang bekerja sebagai teknisi di sebuah taman hiburan dan sepanjang hidupnya sering mempertanyakan apakah hidupnya memiliki makna. Albom menyaksikan kepergian pamannya dengan hati yang terluka, disertai atu pertanyaan yang terus terngiang. “Apa yang menanti di sana?”
2. Novel ini lahir dari bayang-bayang tragedi 11 September 2001 yang masih membekas di Amerika. Saat itu masyarakat bergulat dengan pertanyaan besar. Apa makna kematian yang datang begitu tiba-tiba? Apakah jiwa yang pergi tanpa berpamitan itu menjadi sia-sia? Albom tidak menjawabnya melalui khotbah ataupun penjelasan teologis. melainkan melalui sebuah cerita sederhana yang mampu menyentuh hati banyak pembacanya.
“Saya tidak menulis tentang kematian. Saya menulis tentang kehidupan dan bagaimana kita sering baru bisa memahami arti kehidupan setelah hidup itu berakhir .” — Mitch Albom
Novel ini diterbitkan September 2003 oleh Hyperion Books dan langsung menjadi fenomena: 11 minggu di posisi nomor satu New York Times Best Seller, lebih dari 10 juta eksemplar terjual dalam dekade pertamanya, diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Albom telah menyentuh jutaan jiwa dengan satu pertanyaan sederhana yang selalu mengapung di benak manusia: Apakah hidupku berarti?
B. Eddie: Wajah Kita Semua
Eddie adalah seorang pria berusia 83 tahun yang bekerja sebagai kepala petugas perawatan wahana di Ruby Pier, sebuah taman hiburan di tepi pantai. Sepanjang hidupnya, ia merasa terjebak. Terjebak di tempat kerja yang sama selama puluhan tahun dengan luka dikakinya akibat perang, disertai rasa kesepian setelah kematian istrinya. Ia merasa bahwa hidupnya tidak berarti apa-apa.
Albom menggambarkan Eddie dengan kelembutan seorang pencerita yang mencintai karakternya. Eddie bukan pahlawan. Eddie adalah gambaran manusia biasa, orang yang menjalani rutinitas sederhana sambil menyimpan rindu, amarah, dan berbagai pertanyaan dalam hidupnya.
Pada hari ulang tahunnya yang ke-83, Eddie meninggal dunia. Sebuah gondola jatuh. Ia berlari. Ia mengulurkan tangan ke arah seorang gadis kecil. Dan kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Namun, kematian bukan akhir cerita. Ia adalah pembukanya. Di surga, Eddie tidak disambut oleh gerbang permata atau malaikat berterompet. Ia disambut oleh lima jiwa, mereka yaitu lima orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupnya. Masing-masing dari mereka datang membawa sebuah pelajaran, sebuah rahasia, sebuah pengampunan yang telah lama menunggu.
BAGIAN KEDUA
Dr. Bruce Greyson dan Sains yang Rendah Hati
Bruce Greyson adalah profesor senior yang meneliti kesehatan mental dan cara kerja otak manusia di University of Virginia’s Division of Perceptual Studies, sebuah unit penelitian yang didirikan khusus untuk menyelidiki berbagai fenomena yang melampaui batas-batas ilmu pengetahuan konvensional.
Selama lebih dari 50 tahun, Greyson mewawancarai ribuan orang yang mengalami Near-Death Experience (NDE), yaitu pengalaman di ambang kematian. Ia juga mengembangkan Greyson NDE Scale, sebuah alat yang digunakan untuk mengukur pengalaman orang yang pernah berada di ambang kematian. Hingga saat ini, alat yang dikembangkan oleh Greyson digunakan di seluruh dunia untuk mengukur kedalaman pengalaman NDE. Penelitiannya dipublikasikan di jurnal bergengsi dan kemudian dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul After: A Doctor Explores What Near-Death Experiences Reveal about Life and Beyond (2021).
Greyson bukan orang yang mudah percaya. Ia adalah seorang ilmuwan terlatih yang terbiasa menilai suatu pengalaman secara kritis dan berdasarkan bukti yang nyata. Ia menghabiskan bertahun-tahun mencari penjelasan neurologis dan psikologis untuk NDE. Namun setelah lima dekade dan ribuan kasus, mendapatkan kesimpulan yang ia nyatakan dengan hati-hati namun tegas, yaitu ada sesuatu yang terjadi dalam NDE yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh otak yang sekarat.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian. Tapi setelah 50 tahun penelitian, saya tidak bisa lagi mengklaim bahwa saya tahu bahwa tidak ada apa-apa.” — Bruce Greyson, After (2021)
Inilah ilmuwan yang akan berdialog dengan Albom dalam esai ini. Bukan karena mereka sepakat tentang semua hal, melainkan karena data yang Greyson kumpulkan secara mengejutkan mencerminkan apa yang Albom tulis dari perasaan batinnya sebagai seniman.
✶ ✷ ✶
BAGIAN KETIGA
Lima Pertemuan, Dua Cahaya
A. The Blue Man
“Pelajaran tentang Keterkaitan Semua Jiwa”
1. Kisah Albom
Ia berdiri di tepi air yang tenang dengan kulit kebiruan.Ia adalah Blue Man, yaitu seorang pria yang dulu pernah menjadi sorotan di Ruby Pier. Ia dikenal karena warna kulitnya yang biru, yang terjadi akibat obat yang ia minum saat muda. Eddie merasa bahwa ia tidak pernah mengenalnya semasa hidup. Ketika Eddie masih kecil, ia pernah berlari mengejar bola sampai ke jalan. Seorang pengemudi yang melihatnya tiba-tiba muncul di jalan menjadi kaget dan kehilangan kendali mobilnya. Ketakutan itu membuatnya mengalami serangan jantung.
Pengemudi itu ternyata adalah Blue Man.
Eddie tidak pernah mengetahui bahwa peristiwa kecil yang ia lakukan saat kecil ternyata memengaruhi kehidupan orang lain. Namun di surga, Blue Man menjelaskan bahwa tidak ada kejadian yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kehidupan saling terhubung. Tindakan seseorang, sekecil apa pun, dapat memengaruhi kehidupan orang lain.
Blue Man mengajarkan kepada Eddie bahwa tidak ada kehidupan yang sia-sia. Semua orang memiliki peran dalam kehidupan orang lain, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
“Tak ada tindakan yang sia-sia. Kau tak pernah benar-benar sendirian.”
— The Blue Man kepada Eddie
2. Temuan Greyson
Greyson menyebut fenomena ini sebagai panoramic life review, yaitu saat dimana seseorang seperti melihat kembali seluruh hidupnya. Dalam penelitiannya tentang pengalaman mendekati kematian dari 698 orang, Greyson menemukan bahwa 25% yang mengalami tinjauan hidup yang luar biasa. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa mereka melihat kembali kehidupan mereka dan menyadari bagaimana tindakan mereka memengaruhi orang lain. Mereka merasakan secara langsung dampak dari perbuatan mereka terhadap orang-orang di sekitar mereka.
84% subjek menyebut life review lebih vivid dan nyata daripada kenangan biasa. 72% menyatakan bahwa tinjauan ini secara fundamental mengubah pandangan mereka tentang apa yang penting dalam hidup.
Yang paling menggetarkan adalah kualitas sudut pandang yang bergeser itu. Seorang responden Greyson menggambarkannya bahwa ia bisa merasakan apa yang orang lain rasakan ketika ia menyakiti mereka. Bukan sebagai memori, tapi sebagai pengalaman langsung. Ia merasakan sakit yang timbulkannya, kebahagiaan yang ia berikan. Semuanya terasa seperti satu. Pengalaman ini membuat banyak orang menyadari bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Setiap tindakan memiliki konsekuensi bagi orang lain.
Hal ini menunjukkan kesamaan dengan gagasan yang disampaikan oleh Mitch Albom dalam ceritanya. Baik melalui cerita maupun penelitian ilmiah, keduanya menggambarkan bahwa kehidupan manusia saling terhubung dan tidak ada tindakan yang benar-benar tanpa arti. (Bersambung)
