Konten dari Pengguna

Lima Orang yang Kau Temui di Surga (Dialog Filsafat Sains) (End)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel menjadi film (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Novel menjadi film (Sumber: Unsplash)

CATATAN AKHIR

Surat untuk Eddie, dan untuk Kita Semua

Eddie meninggal pada hari ulang tahunnya, di taman hiburan tempat ia lahir dan menghabiskan hidupnya. Ia meninggal di antara tawa anak-anak yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang setiap hari menjaga keamanan wahana-wahana itu agar mereka bisa tetap bermain dengan aman.

Eddie meninggal tanpa menyadari bahwa hidupnya sebenarnya berarti. Ia pergi dengan keyakinan bahwa dirinya bukan siapa-siapa.

Namun justru disitulah makna kisah ini. Eddie bukan orang yang terkenal. Ia tidak pernah menjadi pemimpin, tidak pernah menerima penghargaan, dan tidak pernah muncul di halaman depan koran. Ia hanya seorang pria tua yang setiap hari memastikan baut dan peralatan wahana terpasang aman.

Dan hal itulah yang membuat hidupnya berarti.

“Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Setiap hidup menyentuh hidup lain. Dan setiap sentuhan itu, sekecil apapun, adalah cahaya yang tidak pernah benar-benar padam.”

Albom menuliskan gagasan ini melalui cerita dan ituisi sebagai seorang penulis yang mencintai pamannya. Sementara itu, Greyson membuktikannya melalui penelitian terhadap banyak orang yang pernah mengalami pengalaman dendekati kematian. Keduanya sebenarnya menuju pada kesimpulan yang sama, meskipun melalui cara yang berbeda. Seperti dua sungai dari pegunungan yang berbeda, tetapi pada akhirnya bertemu di laut yang sama.

Dari pertemuan dua pandangan ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan cerita kemanusiaan dapat berbicara tentang hal yang sama. Bahwa ketika ilmuwan yang paling ketat dan seniman yang paling lembut berbicara tentang hal yang sama, yaitu keterhubungan antar manusia, pengorbanan yang berubah menjadi cinta, pengampunan yang membebaskan, serta makna hidup yang sering tersembunyi dibalik kehidupan yang tampak seperti biasa saja. Ternyata ada kebenaran yang bersembunyi dibaliknya.

Kebenaran bahwa kita tidak sendirian. Kebenaran bahwa sebuah tindakan kecil yang kita lakukan itu berarti. Kebenaran bahwa orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar pergi karena ia meninggal. Kebenaran bahwa hidup yang kita jalani penuh dengan suka dan duka.

─── ◆ ───

Suatu hari nanti, entah kapan, kita semua akan berjalan meninggalkan dunia ini. Dan mungkin, kita akan mengalami panoramic life review. Tidak menutup kemungkinan bahwa di sana ada seseorang yang menunggu kita. Seseorang yang datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menjelaskan. Seseorang yang datang bukan untuk meminta pertanggungjawaban, melainkan untuk menunjukkan berbagai hal tersembunyi yang pernah menghubungkan hidup kita dengan hidup orang lain, dan betapa hidup kita dengan segala kekurangannya ternyata sudah menjadi cahaya bagi orang-orang yang bahkan kita sendiri tidak tahu bahwa ia pernah kita terangi.

Dan pada hari itu, mungkin kita akan tersenyum dan berkata: “Ah, jadi begini. Ternyata tidak ada yang sia-sia.”

“Sains dan cerita sudah saling menguatkan sejak lama. Keduanya hanya memantulkan cahaya yang sudah ada sebelum kita dilahirkan.”

✶ ✷ ✶

Esai ini dipersembahkan kepada semua jiwa yang pernah bertanya:

“Apakah hidupku berarti?” (**)

Referensi Utama:

 Mitchel David Albom. The Five People You Meet in Heaven. Hyperion Books, 2003.

 Bruce Greyson. After: A Doctor Explores What Near-Death Experiences Reveal about Life and Beyond. St. Martin’s Essentials, 2021.

 Greyson, Bruce. “Measuring the Near-Death Experience.” Psychiatry, 1983.

 Greyson, Bruce. “Spirituality and the Near-Death Experience.” Journal of Near-Death Studies, 2006.