Konten dari Pengguna

Malam Tak Pernah Usai: Perspektif Filsafat Sains di Night Always Comes (Bag I)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Adegan dan pemeran dalam film Night Always Comes (Sumber: Netflix)
zoom-in-whitePerbesar
Adegan dan pemeran dalam film Night Always Comes (Sumber: Netflix)

Esai Kritik Sosial-Sinematik

I. Dua Belas Jam di Ujung Dunia

Ada semacam kejujuran yang menyakitkan dalam cara sutradara bernama Benjamin Caron membuka Night Always Comes (2025). Tidak ada musik dramatis. Tidak ada kilas balik yang meromantisasi masa lalu. Hanya wajah Lynette. Ia diperankan dengan transparansi emosional yang luar biasa oleh Vanessa Kirby. Lynette menatap sebuah formulir pinjaman bank yang menolaknya, sekali lagi. Alasannya ia sendiri sudah hafal di luar kepala. Tidak ada riwayat kredit yang cukup. Tidak ada penjamin yang memenuhi syarat. Tidak ada jaminan yang bisa ia tawarkan selain keringatnya sendiri.

Film ini, yang diadaptasi dari novel Willy Vlautin, berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 12 jam. Dalam rentang waktu itulah Lynette harus mengumpulkan uang muka untuk membeli sebuah rumah tua di Portland. Suatu bangunan sederhana yang cukup kokoh yang ia harapkan bisa menjadi tempat tinggal bagi keluarganya yang tersisa. Dirinya, seorang adik lelaki dengan disabilitas intelektual, dan seorang ibu yang sudah lama tidak lagi menjadi orang yang memberi dukungan atau kestabilan bagi keluarganya.

Untuk mempertahankan kesempatan itu, Lynette menjalani tiga pekerjaan secara bersamaan, yaitu shift pagi di pabrik, shift malam di bar, dan pekerjaan malam yang sangat berisiko. Tiga pekerjaan, tetapi tatap tanpa jaminan hidup.

Ibunya seharusnya menjadi penjamin kredit. Namun ibunya tiba-tiba menarik diri dan menggunakan uang itu untuk membeli mobil baru. Lynette hancur dan marah sekaligus. Seperti bom yang sudah terlalu lama menunggu.

Dua belas jam kemudian, Lynette pulang dengan tubuh yang terluka dan penuh dengan serpihan kaca. Ia membawa uang yang didapat dari berbagai tindakan yang semakin melanggar hukumcukup dari serangkaian tindakan yang semakin jauh dari zona hukum: menagih utang dengan ancaman, mencuri mobil, merampok brankas, melukai orang.

Namun klimaks film ini bukan adegan kekerasan itu. Klimaksnya adalah sebuah kalimat yang diucapkan ibunya setelah melihat semua itu.

"Saya tidak mau rumah itu. Saya ingin membakarnya."

Di sinilah Caron dan Vlautin melakukan sesuatu yang mendramatisasi kemiskinan. Mereka mengeksposnya sebagai kondisi yang menggerogoti bukan hanya kemampuan material seseorang, tetapi juga kapasitasnya untuk membayangkan bahwa hal-hal bisa berbeda. Lynette tidak kalah karena sistem menghalanginya.

Ia kalah karena orang-orang yang seharusnya berdiri bersamanya sudah terlalu lama hidup tanpa harapan bahwa keadaan bisa berubah.

II. Krisis Perumahan dan Beban yang Tak Terbagi

Salah satu pencapaian terpenting dari film ini adalah bagaimana ia berhasil mengubah angka-angka statistik terasa nyata. Perjuangan Lynette mempertahankan rumah bukan hanya cerita pribadi yang mengharukan. Akan tetapi, cerita itu mewakili krisis sosial yang jauh lebih besar.

Laporan dari The State of the Nation's Housing 2025 yang diterbitkan oleh Joint Center for Housing Studies Universitas Harvard mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, 50 persen dari seluruh rumah tangga penyewa di Amerika Serikat, yakni sekitar 22,6 juta keluarga mengalami kondisi cost-burdened. Artinya mereka harus menghabiskan lebih dari 30 persen penghasilan mereka hanya untuk membayar tempat tinggal. Lebih jauh lagi, 12,1 juta di antaranya berada dalam kategori severely cost-burdened, yaitu kondisi di mana lebih dari separuh seluruh pendapatan mereka habis bahkan sebelum kebutuhan dasar seperti makanan, listrik, atau layanan kesehatan dapat dipenuhi.

Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa 65 persen penyewa usia produktif tidak memiliki cukup sisa uang setelah membayar biaya perumahan untuk memenuhi kebutuhan dasar lainnya. Lynette bukan pengecualian. Ia justru gambaran umum dari banyak orang yang bekerja sangat keras hanya untuk bertahan hidup.

Dan ketika upaya itu gagal, karena kegagalan tersebut merupakan konsekuensi yang hampir tidak terhindarkan dari sistem yang sejak awal tidak dirancang agar mereka berhasil dan hasilnya sudah dapat diprediksi. Laporan JCHS mencatat bahwa jumlah tunawisma di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi sebesar 771.480 orang pada awal tahun 2024. Angka ini bukan akibat kemalasan individu, melainkan hasil dari kegagalan kebijakan perumahan yang berlangsung secara sistematis dan berulang.

Sinematografi Damián García dalam film ini seperti memahami kontradiksi tersebut secara instingtif. Portland yang ia gambarkan bukan kota yang miskin. Kota itu bercahaya, berkilau, penuh bangunan baru dan kafe modern. Kemiskinan Lynette bukan karena kotanya tidak kaya. Kemiskinan itu terjadi justru di tengah kekayaan kota tersebut.

III. Pekerjaan Ganda dan Erosi Diri

Ada keadaan yang terasa bertentangan dalam kehidupan Lynette. Semakin keras ia bekerja, semakin sedikit waktu yang ia miliki untuk menjalani hidup sebagai manusia. Karena dengan tiga pekerjaan berarti ia kurang tidur, tidak ada waktu untuk hubungan sosial, dan tidak ada ruang untuk berhenti sejenak dan memikirkan arah hidupnya.

Kondisi ini bukan hanya terasa melelahkan, tetapi juga terbukti secara ilmiah memiliki dampak psikologis yang merusak. Sebuah studi longitudinal yang dipublikasikan dalam British Journal of Sociology pada tahun 2025 secara khusus meneliti dampak psikologis dari platform dependence, yaitu kondisi ketergantungan pada pekerjaan gig yang tidak memberikan kepastian kontrak, jam kerja, maupun perlindungan sosial.

Menggunakan data longitudinal nasional Inggris dan metode analisis perubahan individu, studi ini menemukan bahwa pekerja dengan ketergantungan tinggi pada pekerjaan gig mengalami tekanan mental yang setara dengan kondisi pengangguran penuh.

Setiap pekerjaan yang ia lakoni bukan merupakan komunitas, tetapi ia hanya datang untuk bekerja, menyelesaikan tugasnya, lalu pergi tanpa keterikatan sosial yang berarti dengan orang-orang di tempat tersebut. Tidak ada rekan kerja yang mengenalnya sebagai manusia utuh. Tidak ada serikat pekerja yang melindunginya. Tidak ada atasan yang cukup peduli untuk bertanya apakah ia baik-baik saja.

Dalam terminologi sosiolog Robert Castel, Lynette bukan sekadar keterbatasan ekonomi, melainkan berada dalam kondisi terputus dari jaringan sosial dan institusional yang biasanya memberikan perlindungan dan stabilitas dalam kehidupan.

Yang paling menghantam dalam film ini bukan adegan-adegan kekerasan fisiknya. Melainkan, adalah kesunyian Lynette di antara adegan-adegan itu. Ia duduk sendirian di mobilnya. Ia makan sendirian di kursi dapur. Ia menangis sebentar, lalu menghapus air matanya bukan karena sudah lega, melainkan karena tidak ada waktu untuk menangis lebih lama.

Prekaritas bukan hanya kondisi ekonomi. Ia adalah kondisi eksistensial. (Bersambung)