Konten dari Pengguna

Mengapa Matahari Besok Belum Tentu Terbit Perspektif Karl Popper (Bag III)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Net
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Net

Masalah Demarkasi: Sains Versus Non-Sains

Ini adalah pertanyaan yang telah menyita perhatian Popper sejak muda. Bagaimana kita membedakan antara sains dan bukan sains? Antara sains dan pseudosains? Antara ilmu pengetahuan dan kepercayaan?

Ini bukanlah pertanyaan akademis yang murni. Ini adalah pertanyaan praktis yang penting. Jika kita tidak bisa membedakan sains dari non-sains, bagaimana kita tahu siapa yang boleh mengajarkan biologi di sekolah? Bagaimana kita tahu teori mana yang harus didanai oleh uang pajak publik? Bagaimana kita tahu terapi mana yang boleh diberikan kepada pasien?

Masalah ini disebut “problem of demarcation” dalam filsafat sains.

Positivis logis yang datang sebelum Popper berpikir mereka sudah memecahkan masalah ini. Mereka mengatakan: Sesuatu adalah ilmiah jika dan hanya jika dapat diverifikasi melalui pengalaman. Jika Anda bisa mengamati sesuatu secara empiris dan memastikan kebenarannya, itu sains. Jika Anda tidak bisa, itu bukan sains, itu metafisika atau omong kosong.

Kedengarannya sederhana. Tetapi Popper menemukan masalah besar. Apa yang terjadi dengan hukum-hukum universal dalam sains? Hukum gravitasi misalnya. Anda tidak bisa langsung mengamati hukum gravitasi. Anda hanya bisa mengamati benda jatuh. Anda bisa mengamati gravitasi bekerja di seribu situasi. Tetapi Anda tidak pernah bisa mengamati “gravitasi secara universal berlaku di mana-mana dan selalu.”

Menurut kriteria positivis, hukum gravitasi bukanlah pernyataan ilmiah karena tidak bisa diverifikasi secara langsung melalui pengamatan.

Ini jelas salah. Hukum gravitasi adalah salah satu teori paling ilmiah yang pernah ada.

Jadi Popper mengajukan kriteria alternatif untuk demarkasi. Kriteria falsifikabilitas.

Falsifikabilitas Sebagai Pembatas Ilmu

Kriteria Popper sangat berbeda dari positivis.

Sesuatu adalah sains jika dan hanya jika teori itu dapat dipalsukan. Artinya, ada setidaknya satu cara observasi yang bisa menunjukkan teori itu salah.

Bandingkan ini dengan psikologi Jonas.

Jonas mengatakan: “Ketakutan Anda berasal dari kompleks inferior yang tidak disadari.”

Bisakah pernyataan ini dipalsukan? Bagaimana? Jika Martin merasa takut, itu adalah bukti teorinya benar - ketakutan adalah gejala kompleks. Tetapi bagaimana jika Martin tidak merasa takut? Jonas bisa mengatakan: “Itu justru bukti mekanisme pertahanan bawah sadar yang kuat yang menekan kompleks itu.” Dengan cara ini, tidak ada pengamatan yang bisa membuktikan teorinya salah.

Ini bukan ilmu menurut Popper. Ini adalah pseudosains.

Teori yang tidak bisa dipalsukan akan selalu bisa disesuaikan dengan data apa pun. Tidak peduli apa yang Anda amati, pendukung teori dapat membuat penjelasan tambahan untuk menjelaskan pengamatan. Teori menjadi seperti karet yang bisa ditarik ke mana-mana. Itu tidak menceritakan apa pun tentang dunia nyata.

Sebaliknya, teori Anna tentang cahaya sebagai gelombang sangat jelas dapat dipalsukan. Jika dia menjalankan eksperimen celah ganda dan tidak menemukan pola interferensi, teorinya salah. Prediksi spesifik. Hasilnya bisa jelas mendukung atau menolak teori.

Itulah sains.

Contoh Konkret dari Dunia Nyata

Mari kita lihat beberapa contoh untuk membuat ini lebih nyata.

Contoh Satu: Teori Bumi Datar

Seorang pengikut teori bumi datar mengatakan: “Bumi itu datar, bukan bulat.”

Bagaimana ini bisa dipalsukan? Nah, ada banyak cara. Anda bisa melihat kapal berlayar di horison dan catatan bagaimana mereka menghilang dengan perlahan-lahan ke bawah horison, bukan menjauh secara merata. Anda bisa terbang di sekitar dunia. Anda bisa melihat foto satelit dari luar angkasa. Anda bisa menggunakan fisika sederhana untuk menunjukkan bahwa planet bulat adalah satu-satunya bentuk stabil dalam gravitasi.

Tetapi pengikut bumi datar mengatakan: “Semua itu salah. Itu adalah konspirasi NASA. Foto-foto itu dipalsukan. Pilot menentang Anda karena mereka dibayar untuk berbohong.”

Setiap pengamatan yang bertentangan dengan teorinya dapat dijelaskan dengan konspirasi yang lebih besar. Tidak ada pengamatan yang bisa membuktikan teori salah. Itu bukan sains. Itu adalah kepercayaan yang tidak bisa dipalsukan.

Contoh Dua: Keamanan Sistem Komputer

Seorang insinyur perbankan mengatakan: “Sistem keamanan kami sangat handal. Kami telah mengembangkan protokol enkripsi yang tidak dapat ditembus.”

Bagaimana ini bisa dipalsukan? Dengan menjalankan penetration testing yang ketat. Dengan meminta hacker etis untuk mencoba menembus sistem. Jika mereka menemukan celah, teorinya salah. Sistem tidak sehandal yang diklaim.

Tetapi jika insinyur mengatakan: “Kami tidak akan mengizinkan siapa pun untuk menguji sistem kami dari luar karena itu terlalu sensitif,” maka pernyataannya menjadi tidak dapat dipalsukan. Tidak ada cara untuk membuktikan dia salah. Pernyataan itu turun dari sains menjadi klaim publisitas atau kepercayaan.

Contoh Tiga: Algoritma Machine Learning

Seorang data scientist mengatakan: “Model machine learning saya dapat memprediksi churn pelanggan dengan akurasi 88%.”

Bagaimana ini bisa dipalsukan? Dengan menjalankan model pada dataset uji yang belum pernah dilihat model sebelumnya. Jika akurasi benar-benar 88%, teorinya dikonfirmasi. Jika kurang, teorinya difalsifikasi. Spesifik. Terukur. Dapat diuji.

Sebaliknya, jika data scientist mengatakan: “Model saya akurat, tetapi tingkat akurasi itu berbeda-beda tergantung konteks bisnis yang tidak terdefinisikan dengan jelas,” maka klaim itu menjadi tidak dapat dipalsukan. Bagaimana Anda bisa membuktikan dia salah jika “akurasi” tidak didefinisikan dengan ketat?

Demarkasi Bukan Tentang Kebenaran, Tetapi Tentang Testabilitas

Poin penting untuk dipahami adalah bahwa falsifikabilitas sebagai kriteria demarkasi tidak mengatakan apa-apa tentang apakah teori itu benar atau salah. Ini hanya mengatakan apakah teori itu dapat diuji secara ilmiah.

Sebuah teori dapat dipalsukan dan tetap benar. Hukum gravitasi Newton dapat dipalsukan (dan sebenarnya, kemudian difalsifikasi oleh Einstein dalam kondisi ekstrem), tetapi tetap menjadi perkiraan yang sangat baik untuk gravitasi lemah.

Sebaliknya, teori yang tidak dapat dipalsukan mungkin benar atau salah, tetapi itu bukan pertanyaan ilmiah. Itu adalah pertanyaan metafisik, kepercayaan, atau filosofi.

Demarkasi adalah tentang metode, bukan tentang konten. Ini tentang bagaimana Anda memperlakukan teori Anda, bukan tentang teori itu sendiri.

________________________________________

Einfühlung: Ketika Intuisi Masuk Ilmu

Tetapi sekarang Popper menghadapi masalah. Jika sains hanya tentang deduksi logis dan pengujian falsifikabilitas, dari mana ide-ide baru datang?

Jika seorang ilmuwan hanya duduk menunggu data untuk beberapa teori, dia tidak akan pernah menemukan apa pun yang benar-benar baru. Dia akan hanya memeriksa teori yang sudah ada.

Bagaimana teori baru diciptakan?

Popper mengambil jawaban dari fisikawan besar Einstein. Einstein mengatakan bahwa tidak ada jalur logis menuju hukum-hukum fisika yang fundamental. Mereka dapat dicapai “dengan intuisi, berdasarkan sesuatu seperti cinta intelektual kepada objek pengalaman.”

Einstein menggunakan kata Jerman “Einfühlung.” Ini berarti sesuatu seperti “berempati dengan” atau “merasakan dari dalam.” Ini adalah kemampuan untuk merasakan struktur tersembunyi dari dunia, untuk memiliki intuisi tentang bagaimana hal-hal bekerja sebelum Anda membuktikannya.

Popper menyukai konsep ini. Dia mengatakan bahwa penemuan ilmiah tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh logika. Ada elemen irasional, kreatif, bahkan estetika.

Seorang ilmuwan membuat lompatan kreatif. Dia membayangkan teori yang mungkin menjelaskan gejala yang belum dipahami. Teori ini datang dari imajinasi, dari keberuntungan, dari intuisi, bahkan dari mimpi. Tidak ada cara logis untuk menjelaskan bagaimana ide itu muncul.

Tetapi setelah ide itu tiba di kepalanya, ilmuwan melakukan sesuatu yang sangat logis dan metodis. Dia menguji idea itu. Dia mencoba membuktikan diri sendiri salah. Dia menjalankan eksperimen yang dirancang untuk menyangkal idea itu.

Jadi ada dua tahap dalam penemuan ilmiah:

Tahap Satu: Einfühlung. Intuisi. Kreativitas. Imajinasi liar. Ini bukan logis. Tidak ada prosedur untuk mengajari ilmuwan muda bagaimana menemukan ide-ide besar. Itu datang dari kedalaman.

Tahap Dua: Falsifikasi. Pengujian. Deduktion logis. Kritik. Anda mencoba keras untuk membuat idea itu salah. Anda menyerang idea itu dari setiap sudut. Anda mencari musuh dalam data.

Kedua tahap ini diperlukan. Seorang ilmuwan yang hanya menggunakan tahap satu akan menghasilkan mimpi indah tetapi tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. Seorang ilmuwan yang hanya menggunakan tahap dua akan menghabiskan hidup menguji hipotesis yang sudah jelas benar atau salah, tidak pernah menemukan sesuatu yang benar-benar baru.

Einfühlung Bukan Irasionalisme

Penting untuk memahami bahwa Popper tidak mengatakan sains adalah irasional. Dia mengatakan bahwa awal sains (penemuan ide-ide baru) memiliki elemen irasional. Tetapi sains itu sendiri (pengujian dan penilaian ide-ide) tetap sangat rasional.

Einfühlung adalah alat untuk menghasilkan hipotesis. Tetapi hipotesis itu kemudian diuji secara logis, ketat, dan rasional.

Contoh dari tokoh ilmuwan besar:

Kekule bermimpi tentang ular yang menggigit ekornya sendiri. Mimpi ini memberinya intuisi tentang struktur benzene. Einfühlung. Tetapi kemudian dia membuktikan hipotesisnya dengan sintesis kimia yang ketat dan pengukuran yang tepat.

Darwin memiliki einfühlung tentang seleksi alam. Intuisi datang dari membaca Malthus, dari mengamati finch di Galapagos, dari kerendahan hatinya. Tetapi kemudian dia menghabiskan dua puluh tahun mengumpulkan bukti untuk mendukung teorinya dan menjawab keberatan.

Newton memiliki “eureka moment” ketika dia melihat apel jatuh. Einfühlung tentang gravitasi. Tetapi kemudian dia mengembangkan matematika untuk merumuskan hukum gravitasi dengan presisi.

Dalam setiap kasus, einfühlung adalah permulaan. Tetapi pengujian rasional adalah tubuh sebenarnya dari karya ilmiah.

________________________________________

Jonas dan Anna Bertemu Di Koridor

Kembali ke psikolog Jonas dan fisikawan Anna.

Suatu hari mereka bertemu di koridor universitas. Jonas mengatakan kepada Anna tentang pekerjaan revolusionernya tentang kompleks Oedipal. Dia berbicara dengan percaya diri. Dia berbicara dengan kepastian. Dia mengatakan teorinya “terbukti” berdasarkan pengalaman klinisnya selama dua puluh tahun.

Anna mendengarkan dengan sopan. Lalu dia bertanya: “Bagaimana Anda bisa memalsukan teori Anda? Apa pengamatan yang akan menunjukkan Anda salah?”

Jonas terkejut. “Saya tidak perlu memalsukan apa pun! Puluhan pasien telah disembuhkan dengan terapi saya! Itu adalah bukti!”

Anna menggelengkan kepala dengan lembut. “Tetapi banyak pasien mungkin telah sembuh dengan obat, atau perubahan kehidupan mereka, atau bahkan kebetulan. Bagaimana Anda tahu itu adalah teori Anda yang bekerja?”

Jonas tidak memiliki jawaban yang baik.

Anna mengatakan: “Dalam sains, kami tidak mencari bukti yang mendukung teori kami. Kami mencari bukti yang menolaknya. Ketika kami tidak bisa menemukan bukti penolakan setelah pengujian yang sangat ketat, baru kami mengatakan teori kami adalah baik. Tetapi kami selalu tahu kami bisa salah. Selalu ada kemungkinan pengujian berikutnya akan menunjukkan kami salah.”

Jonas menjadi defensif. “Tetapi apa yang Anda maksudkan? Pengalaman klinis saya adalah data ilmiah!”

“Pengalaman Anda adalah data,” kata Anna. “Tetapi untuk menjadi ilmiah, Anda harus membuat prediksi yang dapat diuji dan difalsifikasi. Anda harus desain eksperimen yang bisa membuktikan diri Anda salah. Anda harus membuka teori Anda untuk kritik orang lain.”

“Itu terdengar sangat kritis,” kata Jonas. “Tidak romantis.”

Anna tersenyum. “Faktanya, aku sangat romantis tentang sains. Tetapi romansi aku adalah dengan kebenaran, bukan dengan teori ku sendiri. Itulah mengapa aku siap untuk membenci teori ku untuk menemukan kebenaran yang lebih baik.”

________________________________________

Batas yang Jelas Tetapi Tidak Absolut

Akhirnya, penting untuk memahami bahwa demarkasi Popper bukan garis yang tegas dan tidak dapat digerakkan.

Bidang seperti psikologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu manusia lainnya hidup dalam zona abu-abu. Mereka memiliki elemen-elemen ilmiah yang kuat (pengujian empiris, metodologi yang ketat, koroborasi) tetapi juga elemen-elemen non-ilmiah (kesulitan dalam falsifikasi absolut, peran teori yang tidak teruji, konteks historis dan budaya).

Bukan berarti bidang ini bukan berharga. Bukan berarti mereka tidak bisa memberikan wawasan. Tetapi derajat “ilmiahnya” lebih rendah daripada fisika atau biologi.

Demikian pula, bidang-bidang seperti kosmologi dan astrofisika menghadapi tantangan karena mereka tidak dapat menjalankan percobaan yang diulang-ulang pada alam semesta. Tetapi mereka masih tetap sains karena mereka membuat prediksi yang dapat dipalsukan tentang pengamatan.

Popper tidak mengatakan bahwa hanya satu bentuk pengetahuan yang paling penting atau berharga. Dia mengatakan bahwa ada perbedaan logis antara pengetahuan ilmiah (yang dapat diuji dan dipalsukan) dan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya (yang tidak dapat). Dan perbedaan ini penting untuk dipahami.

Jika Anda ingin membuat klaim ilmiah, Anda harus siap untuk memalsukan diri sendiri. Anda harus mengatakan: “Itu adalah teori terbaik saya berdasarkan bukti saat ini. Tetapi saya terbuka pada kemungkinan saya salah.”

Itulah adalah bentuk kerendahan hati yang paling dalam. Dan itulah adalah inti dari sains sejati. # Pembunuhan yang Mengubah Diri Sendiri ## Bagian 4: Mengapa Menolak Metafisika Justru Menghancurkan Sains

Pada tahun 1930-an, di kota Vienna, sekelompok filsuf dan ilmuwan berkumpul di sebuah ruangan kecil. Mereka disebut “Vienna Circle” atau Lingkaran Vienna. Mereka memiliki misi mulia: membersihkan sains dari sampah metafisika. Mereka ingin membuat sains murni, bersih, logis, dan terbebas dari segala sesuatu yang tidak bisa diobservasi langsung. Mereka percaya bahwa pernyataan yang tidak dapat diverifikasi melalui pengamatan adalah omong kosong, tidak bermakna, sampah filosofis.

Salah satu anggota terkemuka, Ludwig Wittgenstein, mengatakan: “Apa pun yang tidak dapat dikatakan dengan jelas, kita harus diam tentangnya.” Ini adalah pernyataan yang indah. Sederhana. Elegan. Tetapi ketika Popper membaca pernyataan ini, dia berpikir: pernyataan itu sendiri adalah omong kosong.

Karena apa yang Wittgenstein katakan itu bukan pernyataan ilmiah. Itu adalah pernyataan metafisika. Dan menurut prinsip Lingkaran Vienna sendiri, itu tidak bermakna.

Inilah awal dari sebuah pertentangan yang akan mengubah filsafat sains selamanya. (Bersambung)