Mengapa Matahari Besok Belum Tentu Terbit Perspektif Karl Popper (End)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Musuh Menjadi Versi Diri Sendiri
Popper setuju dengan satu hal: sains harus objektif dan terdasarkan pada pengamatan. Tetapi dia tidak setuju bahwa semua hal yang tidak dapat diverifikasi langsung harus dibuang begitu saja.
Dalam bukunya The Logic of Scientific Discovery, Popper memberikan kritik yang pedas terhadap positivisme logis. Dia menunjukkan bahwa ketika positivis mencoba mengeradikasi metafisika dari sains, mereka sebenarnya tidak menghilangkan metafisika. Mereka hanya menggantinya dengan metafisika yang berbeda, yang terselubung dan tidak diakui.
Popper menulis: “Instead of eradicating metaphysics from empirical science, positivism smuggles it in.” Artinya: Alih-alih mengeradikasi metafisika dari sains empiris, positivisme menyelundupkannya masuk.
Ini adalah pernyataan yang menggetarkan. Karena apa yang Popper maksud adalah bahwa upaya positivis untuk membuat sains “murni” dari metafisika justru menciptakan metafisika baru yang tidak disadari. Mereka membunuh musuh mereka tetapi dalam proses itu, mereka menjadi apa yang mereka benci.
Pernyataan-Pernyataan yang Tidak Bisa Diverifikasi tetapi Diperlukan
Untuk memahami kritik Popper, kita perlu melihat fondasi sains itu sendiri.
Sebelum ilmuwan melakukan eksperimen apa pun, mereka percaya pada sesuatu. Mereka percaya bahwa:
Satu: Ada dunia eksternal yang nyata, independen dari pikiran kita.
Dua: Dunia itu mengikuti hukum-hukum yang konsisten dan dapat dipelajari.
Tiga: Pengamatan kita tentang dunia, meskipun imperfect, memberitahu kita sesuatu tentang realitas.
Empat: Masa depan akan mirip dengan masa lalu dalam hal-hal fundamental (uniformitas alam).
Sekarang, bisakah pernyataan-pernyataan ini diverifikasi melalui pengamatan langsung? Tidak. Tidak ada percobaan yang bisa membuktikan bahwa dunia eksternal benar-benar ada. Tidak ada cara untuk secara logis membuktikan bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu. Ini adalah kepercayaan. Ini adalah asumsi metafisika.
Popper mengatakan: “To all these axioms, I will now lend a more explicit form; but I want to emphasize that any such formulation must be somewhat arbitrary.” (Terhadap semua aksioma ini, saya akan memberikan bentuk yang lebih eksplisit; tetapi saya ingin menekankan bahwa setiap formulasi semacam itu harus agak arbitrer.)
Dengan pernyataan ini, Popper mengakui bahwa sains dibangun atas fondasi yang tidak dapat disangkal secara logis. Fondasi itu adalah metafisika. Dan itu tidak hanya baik-baik saja. Itu diperlukan.
Contoh Konkret: Sebelum Eksperimen Ada Iman
Mari kita lihat contoh konkret.
Seorang fisikawan ingin menguji teori baru. Dia merancang eksperimen yang rumit dengan peralatan mahal. Dia menghabiskan bulan-bulan menyiapkan semuanya. Kemudian dia menjalankan eksperimen.
Tetapi pertanyaan implisit yang dia tanya adalah: Apakah hasil eksperimen ini benar-benar memberitahu saya sesuatu tentang dunia? Atau apakah itu hanya kebetulan? Atau kesalahan alat? Atau kesalahan saya dalam mengobservasi?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab sepenuhnya oleh sains itu sendiri. Karena untuk menjawabnya, Anda harus sudah percaya bahwa:
Pertama, alat pengukur Anda benar-benar mengukur apa yang Anda pikir diukur.
Kedua, pengamatan Anda benar-benar mencerminkan realitas.
Ketiga, alam itu rasional dan dapat dipahami oleh pikiran manusia.
Ketiga pernyataan itu adalah metafisika murni. Tidak ada cara untuk membuktikan semuanya tanpa mengasumsikan hal lain yang juga metafisika.
Tetapi ilmuwan harus percaya pada semua ini untuk melakukan sains. Tanpa kepercayaan ini, sains tidak dapat dimulai.
Inilah yang Popper maksud ketika dia berkata bahwa sains memerlukan fondasi metafisika.
Paradoks Positivisme Logis
Popper kemudian menunjukkan paradoks fatal dalam positivisme logis.
Positivis mengatakan: “Pernyataan hanya bermakna jika dapat diverifikasi melalui pengalaman empiris.”
Tetapi pertanyaannya adalah: Bisakah pernyataan itu sendiri diverifikasi melalui pengalaman empiris?
Jawaban adalah tidak. Tidak ada eksperimen yang bisa membuktikan bahwa “hanya pernyataan yang dapat diverifikasi secara empiris yang bermakna.” Pernyataan itu sendiri adalah metafisika.
Dengan kata lain, positivis menggunakan pernyataan metafisika untuk mengecam metafisika. Mereka membunuh musuh mereka dengan senjata yang sama dengan senjata mereka sendiri. Ini adalah bunuh diri filosofis.
Schlick, salah satu pemimpin Lingkaran Vienna, mengatakan bahwa problem of induction terdiri dalam bertanya untuk justifikasi logis dari proposisi universal berdasarkan proposisi singular. Tetapi, Popper balas, pernyataan Schlick itu sendiri bukanlah proposisi empiris. Itu adalah pernyataan tentang epistemologi. Itu adalah metafisika.
Ketika Positivis Mengeradikasi Sains Bersama-Sama dengan Metafisika
Popper membuat argumen yang bahkan lebih berani. Dia mengatakan bahwa ketika positivis mencoba menghilangkan metafisika dari sains, mereka sebenarnya menghilangkan sains itu sendiri.
Mengapa? Karena hukum-hukum alam yang universal adalah pernyataan metafisika. Hukum gravitasi Newton adalah pernyataan universal tentang perilaku benda di alam semesta. Apakah itu dapat diverifikasi sepenuhnya? Tidak. Kita tidak pernah dapat mengobservasi gravitasi bekerja di setiap tempat dan setiap waktu.
Tetapi jika kita menolak semua pernyataan yang tidak dapat diverifikasi sepenuhnya, maka kita harus menolak hukum gravitasi juga. Kita harus menolak semua teori universal. Kita harus menolak sains itu sendiri.
Popper menulis dengan ironi yang dalam: “In their anxiety to annihilate metaphysics, the positivists have annihilated natural science.” (Dalam kecemasan mereka untuk menghancurkan metafisika, positivis telah menghancurkan sains alam.)
Dia menunjukkan bagaimana Wittgenstein, dengan proposisinya yang elegan tentang “apa yang tidak bisa dikatakan, kita harus diam tentangnya,” sebenarnya menolak hukum-hukum alam sebagai pernyataan bermakna. Karena hukum-hukum alam adalah universal dan tidak bisa diverifikasi sepenuhnya.
Kepercayaan Intelektual sebagai Fondasi Sains
Popper kemudian beralih ke gagasan yang lebih positif. Dia tidak hanya mengkritik positivis. Dia juga mengatakan apa yang harus kita lakukan sebagai gantinya.
Popper berargumen bahwa sains harus dibangun atas apa yang disebut “critical rationalism.” Ini adalah kombinasi unik antara rasionalisme dan kepercayaan.
Anda percaya pada akal rasional untuk menguji teori. Tetapi Anda juga percaya pada hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara logis. Anda percaya bahwa dunia dapat dipahami. Anda percaya bahwa pengalaman memberitahu Anda sesuatu tentang realitas. Anda percaya bahwa alam itu rasional.
Popper mengatakan bahwa kepercayaan ini bukanlah kelemahan sains. Ini adalah kekuatan sains.
Karena tanpa kepercayaan ini, tidak ada investigasi ilmiah yang mungkin. Anda tidak akan pernah memulai. Anda akan duduk di rumah, dalam kegelapan epistemis, tidak berani membuat klaim tentang apa pun.
Dengan cara ini, sains memerlukan iman. Bukan iman dalam Tuhan, tetapi iman dalam rasionalitas dunia. Iman bahwa dunia dapat dipahami oleh pikiran manusia. Iman bahwa pencarian kebenaran adalah usaha yang bermakna.
Einstein memahami hal ini. Dia mengatakan bahwa “the most incomprehensible thing about the world is that the world is comprehensible.” (Hal yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah bahwa dunia itu dapat dipahami.) Dia mengakui bahwa kemampuan sains untuk memahami dunia adalah sesuatu yang ajaib, yang tidak dapat diambil begitu saja. Ini adalah kepercayaan, bukan deduksi logis.
Contoh dari Fisika Modern
Mari kita lihat contoh konkret dari fisika modern untuk melihat bagaimana Popper benar.
Ketika Einstein mengembangkan teori relativitas, dia tidak memulai dengan pengamatan empiris. Dia dimulai dengan pemikiran eksperimental. Dia membayangkan apa yang akan terjadi jika seseorang menunggangi sinar cahaya. Pemikiran ini adalah metafisika murni, bukan pengamatan empiris.
Tetapi pemikiran eksperimental itu dipandu oleh kepercayaan yang lebih dalam. Kepercayaan bahwa hukum alam harus elegan dan sederhana. Kepercayaan bahwa simetri adalah kunci untuk memahami alam. Kepercayaan bahwa kecepatan cahaya adalah konstanta universal.
Kepercayaan-kepercayaan ini adalah metafisika. Tidak ada cara untuk membuktikan mereka melalui pengamatan langsung. Tetapi mereka menginspirasi Einstein untuk menciptakan teori yang paling indah dalam sejarah fisika.
Demikian juga, ketika fisikawan modern mengerjakan teori string, mereka dipandu oleh kepercayaan metafisika bahwa alam memiliki simetri tersembunyi, bahwa materi dapat direduksi menjadi benda yang lebih fundamental, bahwa dunia dapat dijelaskan oleh persamaan matematika yang elegan.
Semua kepercayaan ini adalah metafisika. Tetapi tanpa kepercayaan ini, fisika modern tidak akan maju.
Wittgenstein Ditertawai oleh Muridnya Sendiri
Ada cerita indah tentang Wittgenstein. Ketika dia mengajar, dia akan berdiri di depan kelas dengan ekspresi yang sangat serius dan mengatakan hal-hal yang indah secara filosofis. Muridnya akan mendengarkan dengan saleh.
Tetapi suatu hari, seorang murid mengangkat tangan dan mengatakan: “Profesor Wittgenstein, ketika Anda mengatakan ‘apa yang tidak dapat dikatakan harus dibicarakan dengan diam,’ apakah Anda sedang mengatakan sesuatu atau diam?”
Ruang kelas terdiam. Karena pertanyaan itu menunjukkan paradoks dalam pernyataan Wittgenstein itu sendiri. Wittgenstein mencoba untuk mengatakan sesuatu tentang apa yang tidak bisa dikatakan. Dia menggunakan bahasa untuk menyatakan batasan bahasa.
Ini adalah apa yang Popper menunjukkan tentang positivisme logis secara keseluruhan. Mereka mencoba menggunakan logika untuk menunjukkan batasan logika. Mereka mencoba menggunakan pernyataan empiris untuk menunjukkan apa yang non-empiris. Mereka menggunakan metafisika untuk menolak metafisika.
Pada akhirnya, mereka hanya menunjukkan bahwa Anda tidak bisa melarikan diri dari metafisika. Metafisika adalah bagian dari kondisi manusia. Kami tidak bisa berpikir tanpa membuat asumsi metafisika tertentu.
Positivis Tanpa Sadar Menyelundupkan Metafisika Terbaik
Sekarang, hal yang menarik adalah ini: Positivis tidak benar-benar berhasil menghilangkan metafisika dari sains mereka. Mereka hanya mengganti satu metafisika dengan metafisika lain.
Mereka percaya pada empirisisme murni. Mereka percaya bahwa pengamatan adalah sumber kebenaran tertinggi. Mereka percaya bahwa logika matematika dapat menangkap struktur realitas.
Tetapi semua kepercayaan ini adalah metafisika! Tidak ada cara untuk membuktikan secara logis bahwa pengamatan adalah sumber kebenaran tertinggi. Tidak ada cara untuk membuktikan bahwa dunia mengikuti struktur logika matematika.
Jadi apa yang dilakukan positivis adalah mereka menyelundupkan metafisika terbaik ke dalam sains mereka sambil berpura-pura menolak metafisika. Mereka mengasumsikan bahwa dunia itu rasional dan teratur, tetapi mereka menolak untuk mengakuinya secara terbuka.
Popper mengatakan: Lebih baik untuk mengakui asumsi metafisika kita daripada berpura-pura tidak memilikinya. Lebih baik untuk berkata: “Saya percaya pada asumsi ini, dan di sini adalah alasan saya (meskipun alasan itu tidak dapat sepenuhnya dibuktikan secara logis).”
Dengan cara ini, sains menjadi jujur. Sains mengakui fondasi metafisik mereka dan tetap menjadi sains.
Kritik yang Menjadi Pujian
Pada akhirnya, apa yang Popper tunjukkan adalah bahwa metafisika tidak hanya kompatibel dengan sains. Metafisika adalah kebutuhan sains.
Sains membutuhkan iman pada rasionalitas dunia. Sains membutuhkan iman bahwa pencarian kebenaran adalah usaha yang bermakna. Sains membutuhkan iman bahwa pikiran manusia dapat memahami struktur realitas.
Ini bukanlah kelemahan sains. Ini adalah kekuatan sains. Karena itu berarti sains didorong oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar logika dan pengamatan. Sains didorong oleh cinta pada kebenaran, oleh keingintahuan tentang dunia, oleh kepercayaan pada nilai pencarian pengetahuan.
Popper menulis: “Scientific discovery is impossible without faith in ideas of a purely speculative kind.” (Penemuan ilmiah adalah mustahil tanpa iman pada ide-ide yang bersifat murni spekulatif.)
Dengan pernyataan ini, Popper membalikkan kritik positivis. Dia mengatakan bahwa positivis benar-benar menolak hal-hal terbaik tentang sains ketika mereka mencoba mengeradikasi metafisika.
Karena ide-ide spekulatif yang paling indah dalam sejarah sains - ide-ide bahwa alam itu elegan, bahwa realitas dapat dipahami, bahwa pencarian kebenaran adalah usaha yang bermakna - semua ini adalah ide-ide metafisik.
Jika kita mengeradikasi metafisika dari sains, kita juga mengeradikasi passion, inspirasi, dan imajinasi dari sains. Kita mengubah sains menjadi mesin kosong yang melakukan pengamatan tanpa makna.
Tetapi Popper percaya bahwa sains adalah sesuatu yang lebih dari itu. Sains adalah pencarian manusia untuk memahami dunia. Dan pencarian itu diinspirasi oleh kepercayaan metafisika pada nilai dan makna dari pencarian itu sendiri.
________________________________________
Dari Pabrik ke Kuil
Seorang insinyur yang bekerja di pabrik besar di Manchester pada akhir 1800-an memiliki tugas sederhana. Dia mengukur tekanan dalam pipa dan mencatat angka-angka. Setiap hari, angka yang sama. Tekanan yang stabil. Sistem yang berfungsi.
Tetapi suatu hari, dia memikirkan pertanyaan aneh. Bagaimana saya tahu bahwa angka-angka yang saya catat benar-benar mencerminkan tekanan dalam pipa? Bagaimana saya tahu bahwa alat saya tidak rusak dan memberi saya pembacaan yang salah? Bagaimana saya tahu bahwa esok hari tekanan akan tetap stabil?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab melalui pengamatan. Mereka adalah pertanyaan metafisika.
Tetapi ketika insinyur itu sekarang mendapat ide untuk meningkatkan efisiensi mesin dengan cara baru yang radikal, ide itu datang dari kepercayaan pada sesuatu yang tidak dapat diobservasi. Kepercayaan bahwa alam memiliki prinsip-prinsip yang tersembunyi yang dapat dipahami oleh pikiran manusia yang cukup cerdas.
Ide itu adalah metafisika murni. Tetapi itu menginspirasi penemuan yang mengubah dunia.
Ini adalah apa yang Popper maksud. Metafisika bukan musuh sains. Metafisika adalah jiwa sains.
Ketika positivis mencoba membunuh metafisika, mereka tidak mengerti bahwa mereka mencoba membunuh jiwa sains itu sendiri. Mereka ingin pabrik, tetapi tanpa kilau. Mereka ingin mesin, tetapi tanpa spirit.
Popper mengatakan: Biarkan metafisika hidup. Biarkan ide-ide spekulatif berkembang. Biarkan iman pada rasionalitas dunia menginspirasi penelitian kami. Karena tanpa semua itu, kami bukan lagi ilmuwan. Kami hanya adalah teknisi yang membaca alat.
Dan dunia tidak membutuhkan lebih banyak teknisi. Dunia membutuhkan pemikir. Pemikir yang berani bertanya tentang hal-hal yang tidak dapat diobservasi. Pemikir yang percaya pada nilai pencarian kebenaran. Pemikir yang memahami bahwa di jantung sains ada metafisika, dan itu baik-baik saja.
Bahkan, itu lebih dari sekedar baik-baik saja.
Itu adalah satu-satunya cara sains dapat tetap hidup. (**)
