Konten dari Pengguna

Pengamat dan yang Diamati: Tabatabai dan Fisika Kuantum (2)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di fisika klasik, pengamat berdiri di luar yang diamati. Saya bisa mengukur kecepatan bola tanpa mengubah kecepatan bola itu. Bola tidak peduli saya mengamatinya atau tidak. Saya hanya merekam apa yang sudah ada di sana.

Fisika kuantum mengubah ini secara total. Di skala atom, tindakan mengukur mengubah yang diukur. Ini bukan masalah alat yang kasar. Bahkan dengan alat paling halus pun hasilnya sama. Pengamatan adalah bagian dari fenomena, bukan terpisah darinya.

Contoh klasik adalah eksperimen celah ganda. Elektron ditembakkan ke dinding melalui dua celah. Bila kita tidak mengamati elektron lewat celah mana, pola di dinding adalah pola interferensi. Artinya elektron berperilaku seperti gelombang. Ia lewat kedua celah sekaligus.

Tetapi bila kita pasang detektor di salah satu celah untuk melihat elektron lewat mana, pola interferensi hilang. Elektron sekarang berperilaku seperti partikel. Ia hanya lewat satu celah saja. Yang berubah adalah pengamatan kita. Yang teramati ikut berubah.

Para fisikawan generasi pertama bingung. Niels Bohr bilang ini adalah kenyataan baru yang tidak terdamaikan dengan akal sehat. Einstein menolak dan berkata Tuhan tidak bermain dadu. Schrodinger membuat kucingnya yang terkenal untuk menunjukkan absurditas. Heisenberg memperkenalkan prinsip ketidakpastian.

Selama satu abad fisikawan masih berdebat. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah realitas memang berubah karena diamati? Atau pengamatan hanya menyibakkan apa yang sudah ada di sana? Tidak ada jawaban yang disepakati.

Paradigma Tabatabai menawarkan solusi untuk masalah ini dengan satu kerangka unik. Beliau membedakan tiga jenis idrak atau persepsi. Yang pertama idrak hissi atau persepsi inderawi. Yang kedua idrak khayali atau persepsi imajinal. Yang ketiga idrak aqli atau persepsi rasional.

Untuk idrak hissi, kontak fisik antara objek dan organ indera diperlukan. Mata harus menerima foton. Telinga harus menerima gelombang suara. Kulit harus menerima tekanan. Ini sains sudah menjelaskannya dengan baik.

Tetapi Tabatabai punya doktrin yang lebih dalam. Beliau berkata: organ indera bukan produsen persepsi. Organ indera hanya pemicu. Yang menghasilkan persepsi adalah nafs atau jiwa yang menggunakan organ sebagai alat. Posisi ini diambil dari Mulla Shadra.

Mengapa ini penting? Karena bila organ adalah produsen, pengamat dan yang diamati terpisah secara mekanis. Tetapi bila nafs adalah produsen yang aktif, pengamat dan yang diamati menjadi satu sistem yang berinteraksi. Inilah yang fisika kuantum temukan kembali setelah tiga abad.

Mari saya jelaskan dengan analogi. Bayangkan Anda menyetel radio. Gelombang radio ada di udara sekitar kita semua. Tetapi sampai radio menyetelnya, gelombang itu tetap potensi. Radio menyetel berarti memilih frekuensi tertentu untuk diaktualkan menjadi suara.

Apakah radio menciptakan suara? Tidak. Apakah radio hanya pasif menerima? Juga tidak. Radio aktif memilih dan mengkonkretisasi. Tanpa radio, gelombang tetap potensi. Tanpa gelombang, radio bisu. Keduanya bekerja sama.

Inilah model idrak Tabatabai. Realitas eksternal hadir sebagai potensi. Nafs memilih dan mengkonkretisasi potensi itu menjadi persepsi aktual. Tidak ada persepsi tanpa nafs yang aktif. Tidak ada nafs yang persepsi tanpa realitas eksternal. Keduanya bekerja sama membentuk pengalaman.

Sekarang lihat fisika kuantum. Sebelum diukur, elektron ada dalam superposisi. Banyak kemungkinan ada bersama. Pengukuran adalah tindakan yang memilih satu kemungkinan untuk diaktualkan. Setelah diukur, superposisi runtuh ke satu nilai tertentu.

Ini paralel persis dengan idrak Tabatabai. Realitas kuantum hadir sebagai potensi superposisi. Pengukuran adalah aktualisasi. Tanpa pengukuran, realitas tetap potensi. Tanpa realitas potensi, pengukuran tidak menghasilkan apa-apa.

Sekarang muncul pertanyaan filosofis. Apakah persepsi kita menciptakan realitas? Idealis berkata ya. Realis berkata tidak. Tabatabai mengambil jalan tengah yang sangat halus. Persepsi kita tidak menciptakan realitas eksternal. Tetapi persepsi kita ikut membentuk bagaimana realitas itu hadir bagi kita.

Ini bukan relativisme. Ada realitas objektif. Tetapi cara realitas itu menjadi dapat-diketahui melewati nafs yang aktif memilih dan mengkonkretisasi. Sains kuantum sampai pada kesimpulan yang sama setelah lima abad eksperimen. Filsafat sampai dengan analisis konsep.

Ada implikasi pedagogis yang penting. Mahasiswa bidang teknik sering merasa kuantum mengganggu intuisi mereka. Mereka dilatih dengan fisika klasik di mana dalam pengamatan, subyek pengamat tidak mempengaruhi dalam suatu proses pengamatan. Kuantum mematahkan asumsi ini. Banyak yang akhirnya menyerah dan berkata kuantum hanyalah resep matematik tanpa makna fisik.

Sebenarnya, yang dibutuhkan adalah kerangka filosofis yang lebih luas. Realisme Tabatabai memberikan kerangka itu. Kerangka idrak yang diajarkan Tabatabai berbasis Mulla Shadra membuat fisika kuantum tidak terasa ganjil. Ia justru sesuai dengan struktur persepsi yang sudah dipahami filsafat sejak lama.

Tabatabai tidak pernah memformulasikan fisika kuantum. Namun, kerangka konseptual Tabatabai mampu menampung kuantum tanpa runtuh. Sementara kerangka materialis mekanistik justru hancur ketika berhadapan dengan kuantum.

Dalam tulisan berikutnya, kita akan masuk ke sebab-akibat. Di fisika kuantum kita menemukan entanglement, yaitu hubungan antara dua partikel yang melampaui ruang dan waktu. Einstein menyebutnya spooky action at a distance (aksi menyeramkan jarak jauh). Di Tabatabai, ini bisa dipahami dengan konsep kausalitas non-temporal. Mari kita lihat. (Bersambung)