Konten dari Pengguna

Realitas yang Bergetar: Tabatabai dan Fisika Kuantum (Bag I)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Net
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Net

Fisika kuantum mengajarkan satu hal yang aneh. Tidak ada partikel yang diam. Setiap titik di ruang kosong terus bergetar. Bahkan vakum sempurna pun penuh dengan fluktuasi medan. Yang kita sebut materi sebenarnya adalah pola getaran di lautan medan kuantum.

Ini bertentangan dengan intuisi kita. Kita melihat meja sebagai benda padat. Kita melihat batu sebagai sesuatu yang diam. Tetapi fisika modern berkata: yang kita lihat hanyalah permukaan. Di bawah permukaan, segala sesuatu sedang menjadi.

Allamah Sayyid Muhammad Husain Tabatabai sudah memahami ini delapan puluh tahun lalu. Tentu saja beliau tidak memakai bahasa fisika kuantum. Beliau memakai bahasa filsafat Mulla Shadra. Tetapi inti yang dikatakan sama.

Tabatabai mengambil paradigma dari Mulla Shadra yang disebut asalat al-wujud (prinsipalitas eksistensi). Artinya: yang nyata adalah wujud, bukan essensi. Apa itu wujud? Wujud adalah keberadaan itu sendiri. Bukan apa-nya sesuatu. Tetapi bahwa-ada-nya.

Mari saya beri contoh. Lihat secangkir kopi di depan Anda. Anda bisa menyebut sifat-sifatnya: warnanya cokelat, suhunya panas, baunya harum, beratnya 250 gram. Semua itu adalah essensi. Tetapi ada satu hal yang lebih dasar dari semua sifat itu. Yaitu fakta bahwa kopi-itu ada. Tanpa keberadaan, tidak ada warna, tidak ada suhu, tidak ada apa-apa. Keberadaan adalah pondasi. Sifat adalah bangunan di atasnya.

Lalu Mulla Shadra menambahkan doktrin kedua. Namanya harakah jawhariyyah. Artinya: gerak substansial. Wujud setiap benda terus bergerak, terus mengalir. Tidak ada satu titik pun di mana sebuah benda diam. Bahkan dalam wujud yang paling mendasar pun, ia sedang menjadi-baru pada setiap saat.

Apakah ini hanya metafora? Mana mungkin batu yang diam sebenarnya bergerak? Tetapi sungguh menakjubkan. Fisika kuantum malah selaras dengan Shadra.

Batu yang Bapak pegang sebenarnya kumpulan atom. Setiap atom adalah kumpulan elektron yang berputar pada awan probabilitas. Elektron tidak punya posisi tetap. Ia ada di sana dalam bentuk fluktuasi. Bahkan inti atom pun terdiri dari quark yang terikat oleh medan gluon yang terus bergetar. Tidak ada satu titik pun yang diam. Tidak ada satu detik pun yang stabil.

Sains baru menemukan ini abad ke-20. Shadra menulisnya abad ke-17. Tabatabai mengajarkannya di Qom tahun 1950-an. Mereka tidak punya akselerator partikel. Mereka tidak punya mikroskop elektron. Tetapi mereka sampai pada kesimpulan yang sama melalui jalan rasional.

Bagaimana mungkin? Karena mereka tidak memulai dari pengamatan empiris. Mereka memulai dari analisis konsep wujud itu sendiri. Mereka bertanya: apa artinya sesuatu ada? Bagaimana wujud mungkin? Apa yang membuat wujud satu hal berbeda dari wujud hal lain? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak butuh laboratorium. Cukup pikiran yang jernih dan disiplin.

Flsuf yang serius tidak akan terkejut oleh penemuan sains modern. Karena prinsip-prinsip dasar yang sains ungkapkan, sudah dipikirkan oleh filsafat lama. Yang berubah hanya bahasanya.

Saya melihat ini bukan kebetulan. Realitas adalah satu. Cara mengaksesnya bisa banyak. Sains mengakses melalui eksperimen. Filsafat mengakses melalui analisis konsep. Bila keduanya jujur, hasilnya sering bertemu di tengah.

Untuk diskusi dalam mata kuliah Filsafat Sains, ada sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik. Apa yang lebih nyata: meja yang Anda lihat, atau persamaan kuantum yang menggambarkannya? Mahasiswa teknik mungkin akan menjawab meja. Saya jawab: persamaan kuantum lebih nyata. Karena meja-yang-Anda-lihat hanyalah pola yang muncul. Persamaan kuantum adalah struktur yang melahirkan pola itu.

Ini persis posisi Tabatabai. Yang nyata adalah wujud yang berfluktuasi. Yang kita lihat hanyalah manifestasi sementara dari wujud-itu. Bila kita ingin mengerti realitas, kita harus melampaui permukaan. Kita harus masuk ke struktur.

Dalam serial esai ini saya akan mempertemukan Tabatabai dengan fisika kuantum di beberapa titik. Realitas yang bergetar. Pengamat yang mempengaruhi yang diamati. Sebab-akibat yang melampaui ruang. Kebebasan dan ketertentuan. Tuhan yang bukan jaringan kausal.

Tujuannya bukan untuk membuktikan agama dari sains. Itu kekeliruan kategori. Sains tidak membuktikan agama. Filsafat juga tidak. Yang saya tunjukkan adalah: tradisi falsafah Islam memiliki kerangka konseptual yang mampu menampung temuan sains modern tanpa runtuh. Itu prestasi tersendiri.

Banyak orang berpikir agama dan sains tidak bisa berdialog. Mereka salah. Yang tidak bisa berdialog adalah agama-yang-naif dengan sains-yang-naif. Agama-yang-naif menganggap teks suci adalah buku teks fisika. Sains-yang-naif menganggap eksperimen adalah satu-satunya cara mengetahui. Keduanya keliru.

Tabatabai menunjukkan jalan ketiga. Agama dipertahankan pada level metafisik yang tepat. Sains diterima sebagai metode yang valid untuk wilayahnya. Filsafat adalah jembatan yang memungkinkan keduanya berdialog tanpa salah satu mendominasi.

Esai berikutnya kita akan mendiskusikan lebih dalam. Kita akan membahas hubungan pengamat dengan yang diamati. Di fisika kuantum hal ini menjadi paradoks. Di Tabatabai, hal ini sudah diantisipasi dengan konsep idrak. Mari kita lihat bagaimana. (Bersambung)