Roh, Kuasa, dan Wacana (Membaca AI melalui Hegel, Foucault, & Habermas) (End)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rasionalitas Komunikatif sebagai Harapan Habermas dan Masa Depan AI yang Lebih Adil
Menolak Menyerah pada Pesimisme
Setelah menyimak Hegel yang melihat AI sebagai episode baru dalam perjalanan Roh yang penuh kontradiksi, dan setelah merasakan dinginnya analisis Foucaultian yang membongkar AI sebagai mesin normalisasi dan reproduksi kekuasaan — seseorang mungkin tergoda untuk menyimpulkan bahwa proyek kecerdasan buatan sudah terkutuk sejak awal.
Habermas menolak kesimpulan itu. Bukan karena ia naif, melainkan karena ia percaya pada satu hal yang Foucault sering abaikan: kemampuan manusia untuk berbicara, mendengarkan, dan mencapai kesepakatan yang melampaui kepentingan diri masing-masing. Habermas tidak menyangkal bahwa kekuasaan ada dan bekerja melalui wacana. Ia hanya bersikeras bahwa di dalam setiap tindak komunikasi yang tulus, tersimpan benih dari sesuatu yang melampaui kekuasaan: potensi untuk mencapai pemahaman bersama.
"The utopian perspective of reconciliation and freedom is ingrained in the conditions for the communicative sociation of individuals; it is built into the linguistic mechanism of the reproduction of the species." — Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, 1981
Etika Diskursus dan Tata Kelola AI
Proyek terbesar Habermas adalah membangun etika yang tidak bergantung pada substansi nilai tertentu, melainkan pada prosedur yang memungkinkan nilai-nilai yang benar untuk ditemukan bersama. Norma moral yang sah adalah norma yang dapat disetujui oleh semua pihak yang terkena dampak dalam kondisi diskursus yang ideal: bebas dari paksaan, setara dalam kapasitas untuk berbicara dan didengar, terbuka untuk argumentasi terbaik.
Diterapkan pada AI, prinsip ini menghasilkan beberapa tuntutan yang sangat konkret:
POSISI FASE PENJELASAN
PRINSIP 1
Inklusivitas Radikal Norma yang mengatur AI hanya sah jika semua pihak yang terdampak memiliki suara bermakna. Masyarakat adat, petani di negara berkembang, penyintas konflik — semua harus memiliki kursi di meja diskursus global.
PRINSIP 2
Transparansi sebagai Prasyarat Diskursus bermakna tidak mungkin jika pesertanya tidak punya akses ke informasi relevan. Sistem AI yang beroperasi sebagai kotak hitam secara struktural mengecualikan diskursus yang sah.
PRINSIP 3
Pisahkan Normatif dari Teknis Pertanyaan tentang nilai-nilai apa yang harus dioptimalkan AI bukan pertanyaan teknis. Ini pertanyaan normatif yang harus diputuskan melalui diskursus demokratis yang inklusif.
PRINSIP 4
AI Mendukung Dialog AI harus dirancang bukan untuk mengoptimalkan keterlibatan emosional, melainkan untuk meningkatkan kualitas deliberasi publik. AI yang melayani dialog, bukan monolog algoritmik.
Ruang Publik yang Terdistorsi dan Pemuliannya
Konsep Öffentlichkeit — ruang publik — adalah salah satu kontribusi terpenting Habermas. Hari ini, ruang publik digital — media sosial, platform berita algoritmik, mesin pencari — adalah arena pertarungan yang paling krusial, dan AI berada di jantung pertarungan itu.
Algoritma rekomendasi yang mengoptimalkan keterlibatan tidak mendukung diskursus — ia mendistorsinya secara sistematis. Konten yang memancing kemarahan, polarisasi, dan ketakutan secara konsisten dipromosikan lebih dari konten yang mengundang refleksi dan nuansa. Ruang publik digital yang dikuasai oleh logika ini bukan ruang di mana argumen terbaik menang; ia adalah ruang di mana reaksi visceral yang paling kuat menang.
Habermas akan merumuskan ini sebagai kolonisasi ruang publik digital oleh sistem: logika pasar dan logika kekuasaan telah mengambil alih fungsi ruang publik yang seharusnya otonom dari keduanya. Ini adalah penggerusan bertahap dari kondisi yang memungkinkan kebebasan manusia itu sendiri.
Tiga Pemikir, Satu Krisis, dan Tegangan yang Produktif
Hegel, Foucault, dan Habermas tidak akan setuju satu sama lain tentang AI. Hegel akan melihat AI sebagai episode dalam perjalanan Roh yang panjang. Foucault akan skeptis terhadap optimisme Hegelian ini; baginya, setiap 'sintesis' hanya menghasilkan rezim kuasa baru yang lebih halus. Habermas akan menolak pesimisme Foucaultian dan bersikeras bahwa potensi emansipatoris dari komunikasi manusia tidak dapat sepenuhnya dipadamkan oleh kuasa.
Tegangan ini bukan kelemahan analisis ini — ia adalah kekuatannya. Kita membutuhkan Hegel untuk mengingatkan kita bahwa krisis AI bukanlah malapetaka akhir zaman, melainkan momen kontradiksi yang mengandung potensi untuk melampaui dirinya sendiri. Kita membutuhkan Foucault untuk memastikan kita tidak jatuh ke dalam optimisme naif. Dan kita membutuhkan Habermas untuk mencegah kita dari pesimisme yang lumpuh — untuk mengingatkan bahwa selama manusia masih berbicara dan berupaya memahami satu sama lain, ada kemungkinan yang nyata untuk sesuatu yang lebih baik.
REKOMENDASI
Indonesia dan Urgensi AI Berdaulat
Think Globally, Act Locally · Pancasila sebagai Fondasi Epistemik
Membaca Tiga Pemikir, Membaca Nasib Bangsa
Tiga analisis yang telah kita jelajahi bersama — Hegel tentang dialektika Roh, Foucault tentang kuasa yang bersembunyi dalam kebenaran, dan Habermas tentang rasionalitas komunikatif — bukan hanya diskusi akademis tentang filsafat Barat. Jika dibaca dengan jujur dan berani, ketiganya sedang berbicara langsung kepada Indonesia.
Hegel akan berkata: Indonesia hari ini berada dalam momen antitesis. Kita menggunakan teknologi yang dibangun orang lain, kita bergantung pada infrastruktur kecerdasan yang berpusat di tempat lain, dan kita belum menemukan sintesis kita sendiri. Sintesis itu — Aufhebung yang sesungguhnya — hanya dapat terjadi jika kita bergerak dari konsumen pasif menjadi pencipta aktif.
Foucault akan berkata: selama kita tidak memiliki AI dan LLM sendiri, kita hidup dalam rezim kebenaran yang didefinisikan orang lain. Ketika generasi muda Indonesia bertanya kepada LLM asing tentang sejarah, budaya, nilai, atau identitas bangsanya — jawaban yang mereka terima adalah jawaban yang dibentuk oleh data, nilai, dan perspektif yang jauh dari tanah mereka sendiri. Ini bukan netralitas teknologi; ini adalah kolonisasi epistemik yang bekerja diam-diam dan efisien.
Dan Habermas akan berkata: Indonesia hanya dapat berpartisipasi secara bermartabat dalam diskursus global tentang AI — diskursus yang akan menentukan masa depan kemanusiaan — jika ia hadir bukan sebagai pengguna produk orang lain, tetapi sebagai pihak yang memiliki kemampuan, perspektif, dan suara sendiri.
PELAJARAN DARI CHINA: BUKAN IMITASI, TAPI INSPIRASI
China telah membuktikan bahwa kemandirian AI adalah mungkin. DeepSeek, Qwen, Baidu ERNIE, dan puluhan model LLM lainnya bukan sekadar produk teknologi — mereka adalah pernyataan kedaulatan epistemik. China menolak untuk mendefinisikan 'kecerdasan' melalui kacamata orang lain. Indonesia, dengan populasi keempat terbesar dunia, kekayaan bahasa dan budaya yang luar biasa, dan sejarah peradaban yang panjang, memiliki lebih dari cukup alasan — dan seharusnya lebih dari cukup tekad — untuk melakukan hal yang sama.
Pancasila sebagai Fondasi Epistemik AI Indonesia
Inilah yang membuat proyek AI Indonesia berbeda dari sekadar mengejar ketertinggalan teknologi. Ia adalah kesempatan sejarah untuk membangun mesin kecerdasan yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga memiliki akar nilai yang khas.
Setiap LLM yang ada hari ini membawa dalam dirinya nilai-nilai implisit dari budaya yang melahirkannya. Model-model Amerika membawa asumsi tentang individualisme, liberalisme pasar, dan universalisme Barat. Model-model China membawa kerangka nilai yang berbeda. LLM Indonesia yang dibangun dengan sungguh-sungguh harus — dan bisa — membawa Pancasila bukan sebagai dekorasi, tetapi sebagai fondasi epistemik yang nyata: bagaimana ia mendefinisikan keadilan, bagaimana ia menyeimbangkan hak individu dengan tanggung jawab komunitas, bagaimana ia menempatkan ketuhanan dalam bingkai yang inklusif, bagaimana ia memahami persatuan dalam keberagaman.
Ini bukan romantisme nasionalis yang buta. Ini adalah respons yang sangat rasional terhadap masalah yang sangat nyata yang sudah diidentifikasi oleh Foucault: bahwa setiap sistem AI adalah mesin normalisasi, dan pertanyaannya bukan apakah ia akan menormalisasi nilai tertentu, melainkan nilai siapa yang akan dinormalisasi.
Jawaban Habermasian: Suara yang Bermartabat dalam Diskursus Global
Habermas mengajarkan bahwa diskursus yang sah membutuhkan kesetaraan: tidak ada pihak yang dapat mendominasi wacana hanya karena memiliki lebih banyak kekuasaan atau sumber daya. Dalam konteks AI global, Indonesia saat ini berada dalam posisi yang tidak setara: kita menggunakan, tetapi tidak membentuk; kita terdampak, tetapi tidak menentukan.
Membangun LLM Indonesia adalah tindakan masuk ke dalam diskursus itu sebagai pihak yang setara. Ia adalah cara Indonesia berkata kepada dunia: kami hadir bukan hanya sebagai konsumen teknologi kalian, tetapi sebagai pemikir yang memiliki perspektif sendiri tentang apa artinya kecerdasan, apa artinya keadilan, dan ke mana seharusnya kemanusiaan bergerak.
Ini juga adalah jawaban yang paling konkret terhadap kekhawatiran Foucaultian: jika generasi mendatang Indonesia bertanya kepada AI dalam bahasa Indonesia, tentang konteks Indonesia, dan mendapatkan jawaban yang dibentuk oleh nilai-nilai Pancasila yang mereka kenali sebagai milik mereka sendiri — itulah saat ketika teknologi berhenti menjadi alat dominasi dan mulai menjadi alat pembebasan.
SINTESIS: THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY
Dalam bahasa Hegel: ini adalah sintesis yang Indonesia butuhkan — bukan penolakan terhadap AI global (tesis), bukan pula ketergantungan pasif padanya (antitesis), melainkan Aufhebung yang melampaui keduanya: memahami AI global dengan sepenuhnya, sambil membangun fondasi lokal yang berakar pada jati diri bangsa. Dalam bahasa Foucault: ini adalah perlawanan terhadap rezim kebenaran yang datang dari luar, dengan membangun rezim kebenaran sendiri yang lebih adil dan lebih representatif. Dalam bahasa Habermas: ini adalah cara Indonesia hadir dalam diskursus global tentang AI bukan sebagai objek pembicaraan, tetapi sebagai subjek yang berbicara.
Catatan Penutup
Yang paling dibutuhkan pada momen ini adalah kemampuan teknologi yang bermuatan filsafat. Yaitu teknologi yang juga merupakan ungkap keberanian untuk bertanya siapa yang berbicara, atas nama siapa, dan dalam kondisi apa.
Roh, kata Hegel, selalu bergerak maju. Kuasa, kata Foucault, tidak pernah berhenti bekerja. Komunikasi, kata Habermas, tidak pernah sepenuhnya tunduk. Ketiganya benar — dan ketegangan di antara ketiga kebenaran itu adalah tempat di mana AI dan filsafat berdialog, berdialektika dan bersintesa. Melaluinya, mungkin harapan, masih hidup.
Bagi Indonesia, ketegangan produktif itu memiliki nama yang sangat konkret: sebuah LLM yang lahir dari bumi Nusantara, berbicara dalam Bahasa Indonesia yang kaya, memahami konteks Melayu-Nusantara yang unik, berakar pada Pancasila, dan terbuka kepada dunia. Bukan karena kita ingin menutup diri, tetapi justru karena kita ingin berpartisipasi dalam percakapan paling penting abad ini sebagai diri kita yang sesungguhnya. (**)
