Sains Ekonomi Post Kapitalis: Belajar dari Ciptagelar (End)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa hanya sekali tanam setahun? Warga menjawab, untuk menghormati ibu bumi. Tanah perlu istirahat. Ilmu pertanian memberi jawaban yang sejalan. Jeda tanam dapat membantu mengganggu siklus hidup sebagian hama dan penyakit tanaman. Ketika lahan tidak terus-menerus dipaksa berproduksi, kebutuhan terhadap input pertanian seperti pupuk dan pestisida juga dapat berbeda.
Herman Daly, salah satu tokoh utama ekonomi ekologi, menyebut gagasan semacam ini sebagai steady-state economy, atau ekonomi yang berada dalam kondisi stabil. Dalam ekonomi seperti ini, ukuran fisik ekonomi tidak harus terus membesar. Pertumbuhan dapat bergeser dari semakin banyaknya barang dan sumber daya yang digunakan menuju kualitas hidup.
Gagasan itu sebenarnya jauh lebih tua. Pada tahun 1848, John Stuart Mill sudah membayangkan stationary state: keadaan ketika pertumbuhan kapital dan kekayaan berhenti, tetapi perkembangan manusia tidak ikut berhenti. Tetap ada ruang untuk perkembangan intelektual, moral, dan sosial. Bahkan, menurut Mill, ketika manusia tidak lagi terlalu terserap oleh usaha untuk terus menjadi lebih kaya, ada lebih banyak ruang untuk mengembangkan "Art of Living."
Sebagai orang teknik kendali, saya melihat leuit dengan cara yang sedikit berbeda. Ia adalah peredam guncangan. Panen bisa gagal satu musim, tetapi konsumsi tetap berjalan karena ada stok yang menyerap kejutannya. Hitungannya sederhana. Sebagai gambaran, jika peluang gagal panen sepuluh persen per tahun, keluarga dengan cadangan tiga tahun baru kehabisan nasi setelah tiga kali gagal berturut-turut. Peluangnya tinggal satu banding seribu.
Lalu ada benih. Berbagai sumber menyebut lebih dari seratus varietas padi lokal dijaga warga. Ada yang tahan kering. Ada yang cocok di lahan tinggi.
Dalam dunia investasi, prinsip serupa dikenal sebagai diversifikasi portofolio: risiko tidak ditumpukan pada satu aset. Harry Markowitz mengembangkan teori tersebut secara matematis dan menerima Nobel Ekonomi pada tahun 1990. Sementara masyarakat Ciptagelar sudah menjalankan prinsip serupa jauh sebelumnya.
Elinor Ostrom, penerima Nobel Ekonomi 2009, melengkapi gambarnya. Ia menunjukkan bahwa komunitas dapat mengelola sumber daya bersama secara berkelanjutan, tanpa harus selalu menyerahkannya kepada negara atau pasar. Kuncinya bukan satu aturan yang berlaku untuk semua tempat, melainkan aturan yang jelas, pengawasan, mekanisme penyelesaian konflik, dan sanksi yang diterapkan ketika aturan dilanggar.
Dalam aturan adat Ciptagelar, hutan dikenal dalam tiga kategori: hutan titipan yang dikeramatkan, hutan tutupan yang dilindungi, dan hutan garapan yang boleh diolah. Hutan bukan sekadar ruang yang bisa dimanfaatkan, tetapi juga bagian dari sistem yang menjaga sumber daya lain. Air yang mengalir ke sawah bergantung pada hutan yang tetap terjaga.
Adat di satu tangan, internet di tangan lain
Sampai di sini, mudah membayangkan Ciptagelar sebagai kampung yang menolak zaman. Bayangan itu keliru.
Pada 1988 Abah Anom membuat turbin air dari kayu. Listriknya menerangi puluhan rumah. Kini mikrohidro dilaporkan mengaliri lebih dari seribu rumah. Abah Ugi, mantan anak band itu, melanjutkannya. Ia mendirikan radio komunitas dan stasiun televisi bernama CIGA TV. Internet masuk pada 2009, dan warga kemudian mengembangkan jaringan internet secara mandiri dengan dukungan mitra.
Tetapi padi tetap ditumbuk di lesung. sementara praktik pengolahan beras dan pangan tertentu tetap mengikuti aturan adat. Teknologi diterima sepanjang tidak menyentuh inti yang sakral dan sepanjang kendalinya ada di tangan warga. E. F. Schumacher menyebutnya teknologi madya (intermediate technology). Teknologi yang cukup sederhana untuk dipahami dan digunakan masyarakat, sekaligus cukup murah untuk dapat diakses dan dikelola pada skala lokal.
Filsuf Prancis Bruno Latour membantu kita memahami mengapa padu padan ini mungkin. Menurut Latour, orang modern gemar memisahkan. Alam di satu kotak, masyarakat di kotak lain. Sains mengurus yang pertama, politik mengurus yang kedua. Krisis iklim menunjukkan bahwa pemisahan itu semu.
Ciptagelar tidak pernah memisahkan. Padi adalah tanaman, pangan, warisan leluhur, dan perwujudan Nyi Pohaci sekaligus. Rasi Kerti dan Kidang menjadi penanda kapan perkakas pertanian harus disiapkan dan kapan tanah mulai diolah. Karena mereka tidak memperlakukan alam dan masyarakat sebagai dua kotak terpisah, tradisi dan teknologi tidak dipandang sebagai pilihan yang saling meniadakan.
Dalam Down to Earth, Latour menulis bahwa politik kita tertarik ke dua kutub, Global dan Lokal, dan ia menawarkan penarik ketiga yang ia sebut Terestrial: keterikatan pada bumi sebagai jaringan makhluk yang saling bergantung, bukan pada wilayah yang dibela. Saya kira Latour akan senang berkunjung ke Ciptagelar. Televisi komunitas mereka pernah menyiarkan warga yang memetakan batas wilayah adatnya sendiri. Teknologi dari dunia luar masuk bukan untuk menggantikan dunia yang sudah ada, melainkan menjadi bagian dari cara warga mengenali dan merawat ruang hidupnya.
Apa arti post kapitalis
Kata post kapitalis sering disalahpahami. Ia tidak berarti anti pasar. Warga Ciptagelar tetap berjual beli. Hasil kebun, ternak, kerajinan, dan jasa beredar seperti biasa. Anak mudanya bekerja dan terhubung dengan internet.
Yang mereka lakukan adalah memilih. Satu komoditas utama yang menjadi fondasi hidup dikeluarkan dari pasar. Sisanya dibiarkan beredar. Saya menyebutnya dekomodifikasi selektif. Hasilnya adalah ekonomi dua lapis. Lapis inti tenang dan cenderung tahan guncangan. Lapis luar lentur dan terbuka.
Ada ironi kecil di sini. Yang kita sebut pasca ternyata lebih tua daripada yang hendak dilampaui. Kasepuhan Ciptagelar, menurut tuturan adatnya, sudah menapaki jalan itu sejak 1368, jauh sebelum Adam Smith menulis Wealth of Nations pada 1776.
Smith sendiri tidak perlu dijadikan lawan. Tujuh belas tahun sebelum buku itu, ia menerbitkan The Theory of Moral Sentiments dan terus merevisinya hingga 1790. Di sana ia menunjukkan bahwa moralitas tumbuh dari simpati dan bahwa masyarakat ditopang keadilan. Pasar, dalam pembacaan saya, bekerja di dalam jaringan moral itu. Ciptagelar bisa dibaca sebagai jalan yang selaras dengan Smith yang utuh, dan kitalah yang sering hanya membaca separuhnya.
Jangan diromantisasi
Sikap ilmiah menuntut kejujuran. Ciptagelar juga punya persoalan. Sejak perluasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak pada tahun 2003, wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar bersinggungan dengan kawasan konservasi. Status hutan adatnya pun belum sepenuhnya tuntas. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 memang menegaskan bahwa hutan adat bukan bagian dari hutan negara. Namun, persoalan pengakuan dan penetapan hutan adat Ciptagelar masih berlangsung.
Menumbuk padi di lesung adalah pekerjaan berat, dan sebagian besar dipikul para ibu. Anak muda memiliki mimpi yang mungkin tidak muat di kampung. Angka tentang jumlah varietas dan lumbung pun masih berasal dari penuturan, belum dari sensus. Model ini juga tidak bisa disalin mentah ke Jakarta atau Karawang. Yang bisa dibawa pulang adalah prinsipnya.
Apa leuit kita
Dalam kolom ini saya sering menulis tentang Rasio Romantik. Sains yang baik memadukan ketelitian nalar dengan kepekaan rasa. Ciptagelar adalah contohnya dalam ekonomi. Hitungan stok dan risikonya teliti. Rasa hormatnya kepada padi, tanah, dan leluhur mendalam. Keduanya tidak bertengkar.
Pelajaran bagi kita bukan ajakan pindah ke gunung. Setiap keluarga, setiap kota, setiap bangsa perlu bertanya dengan sadar. Apa yang terlalu penting untuk diserahkan pada naik turunnya harga? Pangan pokok, mungkin. Air. Benih. Kesehatan. Barangkali juga data pribadi kita.
Ilmu ekonomi akan terus berkembang. Mungkin suatu hari ia sampai pada pelajaran yang sudah lama tercermin dalam praktik Kasepuhan Ciptagelar. Kemakmuran diukur dari ketenangan saat paceklik datang, dari tetangga yang tidak dibiarkan lapar, dari tanah yang masih subur untuk cucu.
Setiap tahun, pada puncak Seren Taun, ikat padi induk dimasukkan dan didudukkan ke Leuit Si Jimat dengan doa dan pantun syukur. Yang disebut di sana bukan grafik pertumbuhan, melainkan cukup atau tidaknya stok. Yang ada adalah sebuah kepastian sederhana. Tahun depan, semua orang masih akan makan. (**)
