Sebab yang Bukan Dalam Waktu: Tabatabai dan Fisika Kuantum (3)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pikiran modern menggambarkan sebab dan akibat sebagai rantai dalam waktu. Sebab dulu, akibat kemudian. Saya menendang bola, lalu bola bergulir. Sebab mendahului akibat. Ini fondasi mekanika klasik.
Fisika kuantum mematahkan gambaran ini. Ada fenomena yang disebut entanglement atau keterbelitan. Dua partikel yang pernah berinteraksi tetap saling mempengaruhi setelah dipisahkan. Jarak tidak penting. Bisa satu meter, bisa satu juta kilometer. Pengukuran salah satu partikel mempengaruhi yang lain seketika.
Einstein membenci ini. Beliau menulis surat kepada Podolsky dan Rosen pada 1935 menentang implikasinya. Beliau menyebutnya spooky action at a distance (aksi menyeramkan jarak jauh). Pengaruh yang lebih cepat dari cahaya melanggar teori relativitas. Tidak bisa ada sinyal yang berjalan lebih cepat dari cahaya.
Tetapi eksperimen membenarkan kuantum. Alain Aspect menjalankan tes Bell pada 1980-an. Beliau dapat Nobel pada 2022 untuk konfirmasi keterbelitan. Hasilnya jelas. Entanglement nyata. Dua partikel yang terbelit memang berbagi nasib instan.
Lalu apa yang sedang terjadi? Bagaimana satu partikel mempengaruhi partikel lain tanpa sinyal? Inilah misteri kuantum yang belum dipecahkan secara konseptual.
Para fisikawan menawarkan banyak interpretasi. Ada Copenhagen interpretation. Ada many worlds. Ada pilot wave Bohm. Ada quantum bayesianism. Tidak ada yang disepakati. Masing-masing punya masalah filosofis sendiri.
Saya pikir Tabatabai bisa menyumbangkan satu sudut pandang. Beliau mewarisi tradisi falsafah Islam yang membedakan dua jenis sebab. Yang pertama sebab dalam waktu. Yang kedua sebab di luar waktu. Distingsi ini lahir dari kebutuhan teologis untuk menjelaskan hubungan Tuhan dengan alam.
Mari saya jelaskan. Sebab dalam waktu adalah sebab yang kita kenal sehari-hari. Saya menyalakan kompor sekarang, air mendidih sepuluh menit kemudian. Sebab di waktu A, akibat di waktu B. Ini sebab horizontal.
Sebab di luar waktu berbeda. Tabatabai mengikuti Ibnu Sina dan Mulla Shadra menyebutnya illah hakiki. Sebab ini tidak mendahului akibat dalam waktu. Ia mendahuluinya dalam tingkat wujud. Sebab ini menopang akibat selama akibat ada. Bila sebab berhenti, akibat lenyap seketika.
Contoh klasik adalah cahaya dan matahari. Bila matahari padam, cahaya hilang seketika. Tidak ada delay. Tetapi matahari tidak ada di waktu lampau lalu cahaya muncul di waktu sekarang. Keduanya bersamaan. Yang satu menopang yang lain pada saat yang sama.
Tradisi falsafah Islam menggunakan logika ini untuk menjelaskan hubungan Tuhan dengan alam. Tuhan bukan tukang jam yang menciptakan alam lalu pergi. Tuhan adalah sumber wujud yang menopang setiap titik di alam pada setiap saat. Bila Tuhan menarik dukungan, alam lenyap seketika. Ini disebut khalq jadid atau penciptaan-baru di setiap saat.
Sekarang lihat kembali entanglement. Dua partikel yang terbelit berbagi nasib seketika tanpa sinyal. Bagaimana ini mungkin? Mungkin karena keduanya sebenarnya bukan dua benda yang terpisah. Mereka adalah satu sistem yang termanifestasi di dua tempat berbeda.
Kerangka Tabatabai mengizinkan ini. Bila wujud sebenarnya satu yang termanifestasi di banyak tempat melalui gradasi, maka pengaruh antar-tempat tidak perlu melalui sinyal fisik. Pengaruh terjadi karena keduanya bagian dari satu wujud yang sama.
Saya tidak bilang ini interpretasi fisika kuantum yang benar. Banyak fisikawan akan keberatan. Tetapi saya katakan: kerangka filsafat Tabatabai memberikan satu cara memahami yang lebih elegan daripada banyak interpretasi mainstream.
Ada nuansa penting di sini. Tabatabai tidak mengatakan dunia adalah satu blok yang tidak terdiferensiasi. Beliau mengatakan dunia adalah pluralitas yang muncul dari kesatuan yang lebih dalam. Pluralitas itu nyata. Tetapi pluralitas itu berakar pada kesatuan yang lebih fundamental.
Doktrin ini disebut tasykik al-wujud atau gradasi wujud. Semua yang ada adalah wujud yang sama, dengan intensitas berbeda. Mineral wujud yang lemah. Tumbuhan wujud yang lebih intens. Hewan lebih intens lagi. Manusia lebih intens dari hewan. Malaikat lebih intens dari manusia. Tuhan adalah wujud paling intens, sumber dari semua.
Bila wujud satu dan bertingkat, hubungan antar-bagian tidak perlu melalui mekanisme. Hubungan ada karena pada level yang lebih dalam, semuanya adalah manifestasi dari sumber yang sama. Entanglement bisa dipahami dalam kerangka ini sebagai hubungan ontologis yang melampaui mekanisme spasial.
Saya menyadari ini terdengar abstrak. Mari saya konkretkan dengan satu analogi yang sering saya pakai di kuliah. Bayangkan dua jari di tangan kanan Bapak. Bila Bapak menggerakkan satu jari, apakah jari yang lain perlu menerima sinyal? Tidak. Karena keduanya bagian dari satu tangan. Tangan menggerakkan kedua jari sebagai satu sistem terpadu.
Tentu ini analogi. Dua partikel terbelit tidak benar-benar bagian dari satu tangan. Tetapi struktur logisnya sama. Ada kesatuan yang lebih dalam dari pemisahan permukaan. Kesatuan itu yang memungkinkan koordinasi instan.
Implikasi spiritual dari ini juga menarik. Bila wujud satu dan bertingkat, manusia bukan terpisah dari Tuhan. Sesungguhnya Tuhan lebih dekat dari urat leher kita. Manusia adalah manifestasi wujud yang mempunyai akses ke wujud yang lebih intens. Doa dan tasbih bukan komunikasi jarak jauh. Doa adalah aktualisasi koneksi yang sudah selalu ada.
Dalam tulisan berikutnya saya akan bahas hubungan kemungkinan dan keharusan. Di kuantum kita bertemu superposisi, yaitu banyak kemungkinan ada bersama sebelum aktualisasi. Dalam filsafat Tabatabai kita bertemu konsep imkan dan wujub. Bagaimana keduanya berdialog? Kita akan bahas dalam esai berikutnya. (Bersambung)
