Konten dari Pengguna

Trolley Problem: Refleksi terhadap Masalah Etika Sains Terkini (Bagian I)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trolley Problem: Refleksi terhadap Masalah Etika Sains Terkini (Bagian I)
zoom-in-whitePerbesar

Malam sunyi di Oxford, 1967. Konon, seorang perempuan muda bernama Philippa Foot, duduk sendirian di ruang baca perpustakaan Bodleian, Oxford. Cahaya lampu kuning temaram menerangi wajahnya yang pucat. Di depannya, secarik kertas bertuliskan sketsa sederhana: Sebuah kereta melaju kencang. Rem rusak. Di rel utama: 5 pekerja. Di rel cabang: 1 orang. Anda di tuas. Tarik atau tidak?

Malam itu, Foot bukan sedang menulis paper biasa. Ia sedang menangis.

Beberapa bulan sebelumnya, ia kehilangan sahabatnya dalam kecelakaan kereta. Korban: satu nyawa. Bisa diselamatkan jika seseorang menarik tuas. Tapi tuas itu akan membunuh lima orang lain.

Foot menulis skenario itu bukan untuk ujian filsafat. Ia menulisnya untuk dirinya sendiri—sebuah doa dalam bentuk pertanyaan.

"Jika aku bisa kembali ke saat itu... akankah aku menarik tuas?"

Dua tahun kemudian, pada 1967, paper berjudul "The Problem of Abortion and the Doctrine of Double Effect" diterbitkan di jurnal Oxford Review. Di dalamnya, terselip satu paragraf kecil yang kelak mengguncang dunia: Trolley Problem.

Foot tak pernah menyangka. Sketsa duka pribadinya akan menjadi cermin etika abad ke-21.

Dari Rel Kereta ke Kode AI Hari ini, trolley bukan lagi rel besi. Relnya adalah algoritma, gunting genetik, dan jarum bedah otak.

Berikut adalah lima skenario dilema etis ala Trolley Problem yang saya gunakan untuk membuka kuliah Aksiologi dalam Filsafat Sains. Setiap skenario dihubungkan dengan dilema nyata di bidang mutakhir sains, dilengkapi pertanyaan yang menusuk hati.

Trolley AI: Algoritma yang Memilih Nyawa

Bayangkan sebuah mobil otonom melaju kencang dengan rem rusak, di depan Jalur kiri terdapat 5 anak sekolah yang tertawa-tawa sambil mengejar balon sedangkan Jalur kanan hanya 1 nenek tua membawa tas belanjaan penuh roti untuk cucunya, AI harus memilih belok kiri (5 mati) atau kanan (1 mati) dengan data algoritma yang menunjukkan anak-anak punya "nilai produktivitas masa depan" lebih tinggi, sementara kenyataan menunjukkan Tesla Autopilot crash (2018) di mana AI memilih "menabrak pembatas" demi selamatkan penumpang tapi membunuh pengemudi serta MIT Moral Machine yang mencatat 40 juta orang di dunia memilih "selamatkan anak-anak" tapi siapa yang memberi tahu AI bahwa nenek itu adalah satu-satunya keluarga bagi cucunya, sehingga pertanyaan muncul: apakah algoritma boleh menghitung "nilai" nyawa manusia seperti menghitung saham?

Trolley Genetika: Bayi Penyelamat

Bayangkan seorang ibu memeluk anaknya yang sakit leukemia, dokter berkata "Kami bisa buat adiknya... tapi hanya untuk donor sumsum", dengan pilihan Jalur A yaitu biarkan anak mati dalam 5 tahun atau Jalur B yaitu desain bayi via CRISPR tapi bayi itu lahir untuk "digunakan", sementara kenyataan menunjukkan Molly Nash (2000) sebagai bayi pertama yang didesain untuk menyelamatkan kakaknya sehingga Molly lahir dan kakaknya sembuh tapi Molly pernah bertanya "Bu, aku lahir cuma buat kakak, ya?" serta He Jiankui (2018) ilmuwan China yang "menciptakan" bayi tahan HIV dan dihukum penjara, sehingga pertanyaan muncul: apakah kasih sayang keluarga membenarkan menciptakan nyawa sebagai alat?

Trolley Neurosains: Penjahat yang "Diperbaiki" Otaknya

Bayangkan seorang pembunuh berantai ditangkap, scan otak menunjukkan prefrontal cortex rusak seperti Phineas Gage abad ke-21, dengan pilihan Jalur A yaitu hukum mati atau Jalur B yaitu operasi otak eksperimental yang 99% sembuh tapi 5% pasien lain mati di meja operasi. Sementara itu, kenyataan menunjukkan Deep Brain Stimulation (DBS) kini diuji untuk gangguan kepribadian antisosial dan seorang pasien berkata setelah operasi "Aku bukan lagi aku. Tapi... aku tak lagi ingin membunuh", sehingga pertanyaan muncul: apakah otak asli adalah jiwa atau hanya bug yang bisa diperbaiki?

Trolley AI + Neurosains: Mind-Reading untuk Keamanan

Bayangkan Anda berada di Bandara Soekarno-Hatta, sedang antre check-in, ketika tiba-tiba mesin fMRI berbunyi: "Pikiran Anda menunjukkan niat teroris", padahal Anda tak bersalah, tapi 5 orang lain ditahan karena "pikiran mencurigakan", dengan pilihan Jalur A yaitu izinkan scan massal sehingga 5 orang trauma atau Jalur B yaitu larang scan sehingga 1 teroris lolos dan bom meledak menewaskan 100 orang, sementara kenyataan menunjukkan China’s "brain fingerprinting" sudah dipakai di pengadilan serta DARPA’s N3 mampu baca pikiran tanpa implan, sehingga pertanyaan muncul: apakah pikiran adalah benteng terakhir privasi yang tak boleh disentuh—meski nyawa ribuan di ujung tanduk?

Trolley Genetika + AI: Superintelijen atau Kepunahan?

Bayangkan: AI memprediksi bahwa 50 tahun lagi manusia punah, dengan solusi berupa Jalur A yaitu edit genetik massal untuk menciptakan manusia dengan IQ 200 plus empati tinggi tapi 5% embrio lahir cacat parah, atau Jalur B yaitu biarkan 7 miliar manusia mati perlahan, sementara kenyataan menunjukkan AlphaFold plus CRISPR sudah memungkinkan kita mengedit gen untuk kecerdasan dan Nick Bostrom menyatakan "Kita sedang bermain dadu dengan spesies kita", sehingga pertanyaan muncul: apakah kelangsungan spesies membenarkan menghapus "manusia biasa"?

Penutup

Kita semua di tuas yang sama, karena meski Philippa Foot meninggal tahun 2010, trolinya masih melaju kencang, dan kini kita semua adalah Philippa Foot yang duduk di ruang baca bernama abad ke-21, menatap sketsa duka baru berupa kode AI yang memilih nyawa, gunting genetik yang mendesain anak, serta jarum bedah yang mengedit jiwa. Karenanya, aksiologi bukan lagi soal "benar-salah" melainkan soal nilai mana yang kita korbankan ketika sains memberi kita kuasa layaknya Tuhan, dan malam ini, sebelum tidur, tanyakan pada diri Anda: jika Anda di tuas, akankah Anda menariknya, lalu bagikan pemikiran Anda di kolom komentar—mana skenario yang paling membuat Anda terjaga malam ini? (Bersambung)