Konten dari Pengguna

Tukang Kunci dari Debrecen (Bagian I)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lakatos (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Lakatos (Sumber: Net)

Lakatos dan Ikhtiar Menyelamatkan Rasionalitas Sains

November 1956. Tank Soviet masuk ke Budapest. Seorang lelaki berusia 34 tahun memutuskan pergi. Ia menyeberang ke Wina, lalu ke Inggris. Ia tidak membawa harta. Yang ia bawa adalah ingatan panjang tentang kebenaran yang diputuskan oleh kekuasaan.

Lelaki itu lahir dengan nama Imre Lipsitz di Debrecen, Hungaria, tahun 1922. Ibu dan neneknya wafat di Auschwitz. Ia beberapa kali mengganti nama untuk bertahan hidup. Nama terakhir yang ia pilih adalah Lakatos. Dalam bahasa Hungaria, artinya tukang kunci.

Setelah perang, ia sempat menjadi pejabat di Kementerian Pendidikan. Lalu ia sendiri ditangkap rezim. Tiga tahun ia mendekam di kamp kerja paksa Recsk. Di sana ia melihat sendiri bagaimana sebuah “kebenaran” ditetapkan partai, diteriakkan massa, lalu dipaksakan kepada semua orang.

Pengalaman itu melahirkan satu pertanyaan yang ia bawa sampai wafat. Apa yang membedakan sains dari propaganda?

Ketika Kuhn Membuat Lakatos Gelisah

Di Inggris, Lakatos menjadi filsuf sains di London School of Economics. Saat itu dunia filsafat sains sedang diguncang buku Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1962).

Kuhn menunjukkan bahwa ilmuwan bekerja di dalam paradigma. Pergantian paradigma, kata Kuhn, mirip orang pindah keyakinan. Ia tidak sepenuhnya ditentukan oleh logika dan bukti.

Bagi Lakatos, kesimpulan ini berbahaya. Jika benar, sains akan mirip politik. Sebuah teori menang karena jumlah, keyakinan, dan kerasnya suara para pendukungnya. Lakatos menyebut gambaran semacam itu sebagai psikologi massa.

Orang yang pernah hidup di bawah rezim yang memutuskan kebenaran lewat teriakan tentu sulit menerimanya. Harus ada dasar rasional bagi sains.

Lakatos lalu menoleh ke mentornya di LSE, Karl Popper. Popper menawarkan falsifikasi. Teori ilmiah adalah teori yang bisa dibuktikan salah. Namun Lakatos sadar, falsifikasi versi sederhana tidak cukup kuat untuk menjawab Kuhn. Ia perlu versi yang lebih halus.

Falsifikasi Dogmatis dan Falsifikasi Metodologis

Langkah pertama Lakatos adalah membedakan dua jenis falsifikasi.

Falsifikasi dogmatis menganggap pengamatan itu murni. Pengamatan bebas teori. Ia berdiri di luar perdebatan dan menjadi hakim netral bagi setiap teori.

Masalahnya, logika falsifikasi bekerja dengan kalimat. Yang menggugurkan teori adalah pernyataan tentang pengamatan. Pernyataan itu dibenarkan oleh pernyataan lain. Semuanya terjadi di dalam bahasa. Dan bahasa sains selalu sarat teori. Kuhn sudah menunjukkannya. Ilmuwan dari paradigma berbeda bisa “melihat” hal berbeda saat menatap objek yang sama.

Falsifikasi metodologis menerima kenyataan ini. Pengamatan memang sarat teori. Namun kita tetap bisa memutuskan, secara sadar dan terbuka, pernyataan mana yang dipakai sebagai dasar pengujian. Keputusan itu bisa dipertanggungjawabkan. Ia juga bisa ditinjau ulang.

Kisah Neutrino yang Terlalu Cepat

Sebuah kisah dari tahun 2011 menunjukkan mengapa pembedaan ini penting.

Tim eksperimen OPERA mengirim berkas neutrino dari CERN di Jenewa ke laboratorium Gran Sasso di Italia. Jaraknya sekitar 730 kilometer. Hasilnya mengejutkan. Neutrino tiba sekitar 60 nanodetik lebih cepat daripada cahaya.

Jika data itu diterima mentah, relativitas Einstein runtuh. Itulah logika falsifikasi yang lugu. Satu pengamatan bertentangan, teori gugur.

Para fisikawan tidak bersikap begitu. Tim OPERA sendiri mengumumkan hasilnya dengan rendah hati. Mereka meminta komunitas ikut memeriksa. Mereka tahu, “pengamatan” mereka bergantung pada banyak teori lain. Ada teori tentang GPS, jam atom, kabel serat optik, dan elektronika pencatat waktu.

Beberapa bulan kemudian sumber masalahnya ketahuan. Ada konektor kabel serat optik yang longgar. Ada juga gangguan pada osilator jam. Eksperimen lanjutan menunjukkan neutrino tidak lebih cepat dari cahaya. Relativitas selamat.

Kisah ini memperlihatkan wajah sains yang sesungguhnya. Sains tidak menyerah pada data pertama yang aneh. Sains juga tidak menutup mata. Ia memeriksa, menimbang, lalu memutuskan dengan alasan yang bisa diuji. (Bersambung)