Konten dari Pengguna

Tukang Kunci dari Debrecen (End)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lakatos (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Lakatos (Sumber: Net)

Lakatos lalu membuat pembedaan kedua. Falsifikasi metodologis punya versi naif dan versi canggih.

Versi naif berkata: teori gugur ketika ada pernyataan pengamatan yang bertentangan dengannya.

Versi canggih menuntut lebih. Teori lama baru layak ditinggalkan jika ada teori baru yang lebih baik. Teori baru itu harus memenuhi tiga syarat:

1. Meramalkan fakta baru yang tidak diramalkan teori lama, bahkan bertentangan dengannya.

2. Tetap menjelaskan semua keberhasilan teori lama.

3. Sebagian fakta baru itu benar-benar terbukti.

Artinya, teori tidak dikalahkan oleh fakta saja. Teori dikalahkan oleh teori lain yang lebih unggul. Sains bergerak lewat persaingan antarteori. Persaingan itu punya aturan rasional.

Di sinilah Lakatos menemukan jalan tengah. Ia menerima temuan Kuhn bahwa ilmuwan tidak membuang teori begitu saja. Namun ia menolak kesimpulan bahwa pergantian teori itu irasional.

Semangat ini punya akar panjang. Seribu tahun silam, Ibnu al-Haitsam menulis al-Syukuk ’ala Bathlamiyus, catatan keraguan atas astronomi Ptolemeus. Ia berpesan agar pencari kebenaran menjadikan dirinya lawan bagi setiap tulisan yang ia baca. Ia tidak membuang Ptolemeus karena satu kejanggalan. Ia menimbang, menguji, dan mencari model yang lebih baik.

Sahabat yang Paling Keras

Lakatos punya sahabat dekat yang sekaligus lawan debat paling keras. Namanya Paul Feyerabend. Feyerabend berpendapat sains tidak punya metode baku. Lakatos berpendapat sebaliknya.

Keduanya merencanakan buku dialog berjudul For and Against Method. Lakatos membela metode. Feyerabend menyerangnya. Rencana itu tak pernah tuntas. Lakatos wafat mendadak pada Februari 1974, di usia 51 tahun.

Feyerabend lalu menerbitkan Against Method dan mempersembahkannya untuk Lakatos. Dalam persembahan itu ia menyebut Lakatos sahabat dan sesama “anarkis”. Sebuah candaan hangat dari lawan yang sangat menghormatinya.

Kisah itu menyimpan pelajaran. Rasionalitas sains tidak tumbuh dari kesepakatan yang dipaksakan. Ia tumbuh dari perdebatan yang jujur, keras, dan saling menghormati.

Tukang kunci dari Debrecen itu tidak menemukan kunci untuk semua pintu. Namun ia menempa satu kunci penting. Kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak. Di tengah riuh media sosial kita hari ini, pesan itu terasa sangat dekat. (**)