Konten dari Pengguna

Whitehead, Tuhan, dan Jembatan antara Sains dan Agama (Bagian II-End)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Whitehead, Tuhan, dan Jembatan antara Sains dan Agama (Bagian II-End)
zoom-in-whitePerbesar

Agama dan Sains: Dua Sayap yang Sama

Dengan kerangka ini, hubungan sains dan agama berubah wajah. Whitehead tidak membagi keduanya ke dalam wilayah yang terpisah dan tidak saling menyentuh. Justru sebaliknya. Tugas mereka berbeda, tetapi objeknya satu: semesta yang sama. Sains menelaah pola-pola umum dalam aliran peristiwa. Agama menghayati nilai, tujuan, dan kedalaman pengalaman. Dan keduanya, menurut Whitehead, wajib bertemu serta saling mengoreksi di satu meja bernama metafisika. Sains tanpa visi nilai menjadi buta arah; agama tanpa disiplin rasional menjadi takhayul. Keduanya membaca kitab yang sama dari dua arah, dan bacaan mereka harus diadu sampai bertaut.

Dalam Religion in the Making (1926), Whitehead menulis bahwa agama adalah apa yang dilakukan individu dengan kesunyiannya. Agama sejati bukan sekumpulan dogma beku, melainkan penghayatan yang terus berkembang, sebagaimana sains terus merevisi teorinya. Konflik antara sains dan agama, kata Whitehead, seharusnya disambut sebagai peluang. Setiap benturan adalah undangan untuk memperdalam pemahaman kedua belah pihak. Sejarah membuktikannya. Astronomi memaksa teologi meninggalkan kosmologi naif, dan teologi menjadi lebih matang karenanya.

Ada satu hal lagi yang sering dilupakan. Whitehead menunjukkan bahwa sains modern justru lahir dari rahim keyakinan religius: keyakinan abad pertengahan bahwa alam ini rasional karena bersumber dari rasionalitas Ilahi. Tanpa iman bahwa semesta punya keteraturan yang bisa dipahami, tidak akan ada dorongan untuk menelitinya. Sains, dalam arti ini, adalah anak kandung teologi yang lupa pada ibunya.

Gema di Dunia Islam dan Indonesia

Pemikiran Whitehead bergema jauh. Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair besar dari anak benua India, membaca Whitehead dengan tekun. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal menggambarkan alam sebagai proses kreatif yang terus mengalir, dan Tuhan sebagai realitas hidup yang dinamis. Bagi Iqbal, ini justru lebih dekat kepada semangat Al-Quran daripada gambaran Tuhan yang statis dalam filsafat Yunani. Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa setiap saat Dia dalam kesibukan? Bukankah alam disebut sebagai ayat-ayat yang terus dibentangkan?

Bagi kita di Indonesia, pertemuan ini terasa akrab. Kita hidup dalam masyarakat yang religius sekaligus haus akan kemajuan sains dan teknologi. Kita tidak pernah nyaman dengan pilihan palsu antara menjadi modern atau menjadi beriman. Filsafat proses menawarkan bahasa untuk menolak pilihan palsu itu. Semesta yang dipelajari fisikawan di laboratorium dan semesta yang dihayati seorang hamba dalam sujudnya adalah semesta yang satu: kreatif, hidup, dan berakar pada Yang Maha Hidup.

Penutup

Whitehead wafat pada 1947, tetapi pertanyaannya tetap milik kita. Di era kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan krisis ekologi, kita kembali diuji: apakah kita memandang alam sebagai mesin mati yang boleh dieksploitasi, atau sebagai jalinan pengalaman yang bernilai pada dirinya dan berakar pada Tuhan?

Whitehead memilih yang kedua. Ia mengajak kita melihat semesta sebagai petualangan ide yang belum selesai, dengan Tuhan sebagai penyair dunia yang dengan sabar menuntunnya lewat visi tentang kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Sains memberi kita peta proses itu. Agama memberi kita alasan untuk mencintainya. Keduanya kita butuhkan, seperti burung membutuhkan dua sayapnya untuk terbang.

Di hari jadi Indonesia ke-81 ini, pesan Whitehead tentang keberanian intelektual menjadi relevan: merdeka berarti berani menyatukan apa yang selama ini dipertentangkan, termasuk akal dan iman. Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-81. Merdeka! (**)